Matesih

Deru alarm terus berbunyi, namun ia tak meyakini bahwa itu bunyi dari androidnya yang ia harapkan ketika tergetar ia tersadar. Matahari telah masuk dalam kamar kosnya, kicau beburungan, aroma masakan segar tetangga seakan mengiringinya duduk dengan mata terpejam. Deru kendaraan motor dalam suasana pegunungan Lawu yang dingin seakan mengusiknya menatap android 07.30, ia percepat menyalakan kran mengisi ember besar yang serat karena usia di kamar mandi, menunggu air terkumpul ia bergidik menyentuh sisa kacang polonya semalam, lumayan untuk sarapan, diambilnya air galon. Tak berlangsung lama ia mandi, berdandan, memakai kemeja hijau pabriknya, menunggu jemputan teman, tubuhnya yang tiada kekuatan sama sekali tak tahu ingin menghujat-hujat siapa. Hari ini masih hari Kamis, belum hari Minggu. Ia terus mengisi hati seperti yang diajarkan Saputra, teman terdekat, terajin, terpandai di pabriknya, tidak akan berlangsung lama, di hari Senin-Sabtu dalam hari kerja banyak orang yang tersiksa, pekerjaan akan selesai dengan sendirinya. Pikirannya ia alihkan kemudian nanti ia akan makan siang dengan lauk apa, tempat wisata mana lagi yang akan ia kunjungi yang menarik lagi di Matesih hari Minggu dengan teman-temannya.

Setelah menekan absen ia dengan temannya Sularno yang ia tebengi mampu melepaskan napas segar, mendengar  Bu Intiya, kepala produksi menunggu bahan yang masih tersendat di Salatiga karena kekeliruan. Pabrik celana dalam pria, wanita, anak yang menjadi tanahnya untuk bertanam-berpanen hidup selama lebih 7 tahun mengambil bahan dari Kabupaten Semarang. Semakin melangkah ia mendengar semua tentang pabriknya bekerja dari teman-teman. PT. Indo Kekar Underware berdiri sejak tahun 1998, dulu pabrik tidak begitu besar sebelum kini memiliki cabang di kota atau kabupaten Jawa Tengah dan Timur, banyak karyawan yang datang dari luar pulau. Seperti temannya Sularno yang berasal dari Tuban bekerja di Matesih karena habis kontrak di Tuban. Memiliki lebih dari 50ribu karyawan sehingga menumbuhkan usaha-usaha kecil sekitar pabrik serta menjadi salah satu topangan kabupaten Karanganyar Tentrem sebagai UMR tertinggi di keresidenan Surakarta, dilanjutkan Boyolali, Surakarta, terendah di Wonogiri. Sularno menyodorkan Malboro-nya namun ia menggeleng, membuat Sularno tersenyum lalu menghamburkan asap dari sulutan putungnya. “Belajar nakal, Bro” teman-teman lain ikut terkekeh, mereka saling berbagi rokok. Lima belas menit kemudian truk box datang. Iqbal, teman dekatnya pula dari Wonogiri yang terkenal rajin membantu menurunkan barang agar pekerjaan cepat selesai. Dalam udara pabrik yang panas, hanya terdapat satu kipas angin besar di tembok yang tak mengenainya, suara mesin bergerak yang ia rasa tak pernah berubah berhari-hari, mewarnai waktunya memotong pola, menjahit, memenuhi atau bahkan melebihi target yang diberikan Bu Intiya.

Bintang telah berbaris rapi di pekatnya langit. Udara dingin namun terhirup segar di malam hari khas pegunungan terasa. Ia lega bisa melewati harinya hari itu, walaupun sama saja ketika ia tertidur malam nanti pekerjaan akan menghadangnya keesokan harinya seakan tidak ada celah sama sekali meskipun sejatinya ada. Ia berjalan menuju kos karena Sularno sudah menyalakan aplikasi ojek online-nya sebagai sambilannya. Di perjalanan ia dan teman-temannya membahas berita viral seorang kakek di Demak berpura-pura menjatuhkan gerobak bakso-mie ayamnya agar orang-orang kasihan lalu membantunya. Salah satu berpendapat jika wajar saja karena bentuk modus atau kejahatan bisa lebih parah dari itu. Satu demi satu berpisah menuju kos atau rumah masing-masing yang dekat. Di sekeliling pabrik dipenuhi pedagang, terdapat jus dengan harga serba 5000, aneka sosis-tempura, siomay goreng, buah, pakaian, terlebih durian yang begitu banyak karena kecamatan Matesih atau Karanganyar sentra penghasil durian. Lauk pauk atau ayam bakar dengan harga paling kecil 3500. Ia terus mengalihkan pandangannya. Di sini ia tinggal seorang diri, ayahnya merantau sejak kecil di Lombok belum tentu setahun sekali pulang, ibunya dipandang sebelah mata karena sering hutang sana-sini, terlebih oleh tukang atau warung sayur yang belum juga dibayar. Ia sebenarnya tidak ingin sama sekali atau sebersit saja langsung ia hapus kuat-kuat bayangan keluarganya di Cilacap, terakhir kali ia mendengar kabar dari teman pemuda desanya jika adiknya masuk penjara karena mencuri motor temannya sendiri. Uangnya akan ia irit-irit pula targetnya akan ia lampaui untuk membeli motor. Tahun lalu sebenarnya ia bisa membeli barang-barang yang ia suka, android seharga tak sampai 2 juta karena teman-temannya sudah menggunakan WA dan WA tak ada di HP Nokianya terlebih yang tidak kamera, kipas angin, magic com agar ia bisa jajan atau menanak nasi sendiri tinggal membeli lauk, pakaian yang bagus untuk bepergian dengan temannya di tanggal merah, serta televisi walaupun temannya yang meminjam barang-barangnya dengan alasan sebentar, temannya yang kembali ke kampung halamannya di Jambi tidak diketahui lagi kabarnya. Namun ia telah terbiasa menghadapi orang-orang seperti itu, terlebih di desa tempatnya tinggal, tempat ia mengenal diri, menghabiskan waktu kanak-kanaknya tempat yang demikian buram. Ia hanya tinggal sedikit berusaha, menunggu, menjaga uangnya yang lebih besar agar ia bisa membeli motor yang dimimpikannya. Namun pikirannya sudah hinggap kemana, ketika ia sudah memiliki motor lagi, ia akan cepat ke pabrik, pergi kemanapun, tidak perlu menunggu Sularno atau teman lain, ia ingin membantu orang-orang yang membutuhkan boncengan, karena ia sering mendapatkan boncengan dari orang-orang yang iba menatapnya berjalan, di desanya di Cilacap ketika SMP ia yang disuruh pakdenya membeli sigaret dengan motornya melihat ibu-ibu yang lama menunggu bus mengantarkan ke pasar ia iyakan ketika dimintai bareng, ternyata hari itu bukan hari pasaran pasar dekat yang dimaksud, harus melaju beberapa kilo lagi menuju pasar yang sebenarnya ramai, namun ia hanya bisa meminta maaf berasalan itu motor pakdenya karena pakdenya sudah menunggu. Ia hanya bisa menahan perasaannya yang melesat jauh, bila ia memiliki motor sendiri tentu tidak didapatinya lagi hal semacam itu.

Ia dihadang nenek-nenek yang menggendong tenggok dengan jarik-nya. Nenek itu menawarkan pisang rebus, kacang, papaya, nanas, tahu asin, opak, intip gurih yang masih, ia menanyakan dulu harga tahu asin kesukaannya, dan lumayan untuk mengganjal perutnya di malam hari, sebenarnya ia tak berencana untuk makan malam ini. Harganya 3000. Belum sempat membayar seseorang mengagetkannya. Dia Mas Saputra, orang yang terkenal baik bagi siapa saja pula dirinya. Ia membayarkan intip yang dibelinya, hitung-hitung ia membalas kebaikannya yang memperbolehkannya menginap di kosnya pula mandi karena kunci kosnya dibawa teman dan temannya mengalami kecelakaan di luar kota ketika ia menolak kebaikan Mas Saputra. Mas Saputra terlampau baik padanya selama ini, ia sendiri merasa belum pantas memberi kebaikan yang lebih baik pada Mas Saputra. Ia hanya bisa menerima saja walaupun berat. Namun dalam desir perasaannya yang lain ia begitu tersentuh memiliki teman sebaik Mas Saputra

Suara drum mengentak-hentak, kajon menggetar-getar, lampu yang tiba-tiba mati terganti lampu warna-warni berputar-putar menghantarkan imajinasi, suara penyanyi wanita yang berdandan menarik mengalun merdu perlahan. Ia tak menyangka ia bisa bersama Mas Saputra di rumah makan baru di kota Karanganyar yang beridekan wisata keluarga. Daerah kota Karanganyar yang masih teriklim dingin dari Gunung Lawu namun bukan di daerah pegunungan melengkapi pengunjung yang makan lesehan atau duduk di dinglik kecil sehingga anak-anak yang diajak orangtua bisa bermain dengan kelinci-kelinci berlompatan yang dilepas. Restoran itu seperti taman, namun menu yang disajikan begitu kekinian sehingga tidak bosan karena walaupun murah tidak merasakan lauk-pauk dan minuman biasanya. Restoran itu di pinggir jalan utama Karanganyar, Jalan Surakarta-Tawangmangu, dimana Karanganyar sendiri kabupaten timur Jawa Tengah. Sebelum waktu terus berjalan, ada kekuatan yang memekakan perasaannya, namun ia membuat perasaannya menyublim bersama suasana yang belum pernah ia temui di restoran unik ini. Ia terus menimbun perasaannya dalam-dalam, perasaan itu kian tak terkendali lalu ia hilangkan dengan rasa sebesar mungkin. Mas Saputra sosok yang baik yang belum pernah ia temui selama ini, ia seakan menjadi penyempurna dalam hidupnya yang begitu amburadul, mengapa ia selalu datang di saat sebilahpun luka menderanya. Ia yang mendengar kabar kakaknya meninggal karena kecelakaan yang membuatnya pulang ke Cilacap, padahal ia sosok yang baik, kakaknya banting tulang bekerja di Bandung untuk mengumpulkan modal pernikahan dengan wanita yang dicintainya. Banyak kerabat-kerabat dari ayah atau ibu menentang, bilang tak akan hadir di resepsi pernikahan karena kakaknya anak nomer 1 dan wanita yang dicintainya nomer 3. Keluarganya di sana masih mendekap erat keyakinan Jawa yang melarang itu. Mas Saputra dengan teman-teman pabrik menyusul ke Cilacap yang membuatnya terkejut. Ia menenangkannya, terlebih ketika ia tak mendapatkan kesempatan melihat wajah kakaknya terakhir kali karena terburu dimakamkan. Ia mengajaknya mendoakan terbaik kakaknya. Semenjak peristiwa itu mereka semakin dekat. Mas Saputra sering mengajak ke tempat-tempat indah, terlebih wisata yang seharusnya tak dilewatkan oleh seorang pria, berenang di salah satu kolam renang murah di Matesih bernuansa Bali, kos dekat kosannya, bila Sularno telat mereka berboncengan bersama ke pabrik atau berolahraga bersama dengan berjalan kaki. Tatapan mata Mas Saputra seakan ingin menggantikan kakaknya yang hilang. Ia tak menyangka ia bisa move on dari kepergian kakaknya ditambah dengan kehadiran Mas Saputra selama ini. Tangan kekar Mas Saputra menyentuh hangat tangannya, namun ia masih menganggapnya biasa. Sebelumnya ia menanyakan bagaimana restorannya, ia benar-benar menyukai, pekerjaan pada hari itu, Mas Saputra memotivasinya untuk terus bersemangat, perjalanannya masih pajang, menapaki masa depan yang kelak indah “Bro, aku mau ngajak kamu ke satu tempat lagi sebentar saja ya” ia hanya mengangguk, ia hanya membiarkan rasanya menapaki lezatnya hidangan yang hangat serta harum itu sembari mengamati keseruan anak-anak yang memancing sendiri ikan di kolam untuk santapan mereka di sana

Mas Saputra ternyata mengajaknya di taman bunga Matesih, salah satu argowisata yang dikelola warga tersebut, menjadi salah satu ikon andalan desa pula kecamatan Matesih. Mereka membincangkan pertemuan mereka dari awal, masa-masa yang mereka lalui, bagaimana perencanaan masa depan, akhirnya Mas Saputra dengan mantab menunjukkan kesungguhannya. Ia terus mengalihkan suasana bila sebenarnya perteman baik saja sudah cukup, namun Mas Saputra menuntunnya dengan perasaannya, Mas Saputra sudah mengetahui dirinya, mereka telah melalui jatuh-bangun bersama, ia tidak mengharuskannya menjawab sekarang, yang terpenting ia tenang, bahagia, melalui hari-harinya dengan lancar, karena Mas Saputra benar-benar mencintainya, ia satu-satunya pria yang dicintainya. Ia juga ditanyai pendapat bila mereka berhubungan, ia tak berubah menjawab teman saja sudah luar biasa. Keresidenan Surakarta berbeda dengan DIY yang telah melegalkan pernikahan sejenis. Usia mereka juga panjang, ia 23 sementara Mas Saputra 27. Bila mereka menikah dan menetap di DIY ia belum terlalu ingin karena Matesih sudah ia anggap menjadi rumah satu-satu pula terakhirnya, banyak keindahan yang sulit dilupakan di Matesih. Namun menatap Mas Saputra yang begitu tenang, mantab dan bersahaja, senyumnya yang menggoda membuat angannya melesat ia bisa merasakan kebiasaan, kemantaban, kebersahajaan itu bersama Mas Saputra , namun bila ia menyetujuinya ia begitu yakin akan kehidupannya dengan Mas Saputra. Tangannya teraih oleh Mas Saputra sembari menunjukkan cincin emas yang dirogohnya, cincin itu begitu mahal. Ia terbersit berapa tahun Mas Saputra mengumpulkan uang dalam gajinya yang UMR atau ia bertambah sambilan yang belum diceritakan padanya “namun kalau kamu menerimanya sekarang, Sumengko, aku bisa masangin cincin ini di jari kamu” mereka meninggalkan pekat taman itu dengan Sumengko yang berkata pada Mas Saputra perlu beberapa waktu untuk menjawabnya

*

Ia berjalan menapak menuju kosnya. masih pukul 14.00, semua karyawan pulang karena terjadi mati lampu. Semua pasti menganggap ini sebuah keberuntungan karena bisa dimanfaatkan untuk beristirahat, namun di sisi lain bisa disayangkan walaupun gaji pokok turun namun tidak terdapat gaji melampaui target. Di sekitar pabrik menjadi peluang para pedagang karena banyak karyawan yang senggang sebelum waktunya. Terdapat makanan atau barang-barang yang menarik dijajakan, ia segera mengalihkan. Ia menegaskan jawabannya pada salah satu member MLM nutrisi badan yang menawarkannya bergabung, di rumah makan terkenal ketika mengajak bertemu. Ia hampir tergiur dengan iming-iming bila ia tidak mampu mendapatkan uang 5 juta untuk bergabung ia akan membantu mencarikan dan bila takut tidak mendapatkan member lain untuk bergabung di bawahnya akan ia carikan. Yang mengajaknya adalah Seli teman baik satu bidangnya sendiri. Ia berujar sudah menerima komisi hingga tabungannya 20 juta lebih Sumengko berkali-kali menanyakan pada teman-temannya meyakinkan atau tidak bisnis itu. Mas Saputra menyarankan untuk bertanya pada Nuri, teman satu kosnya, Nuri menyarankan agar ia tidak mengikutinya. Seli belum komisi 20 juta, karena rekening saja ia meminjamnya. Sumengko mengira sudah janggal bisnis itu, ia lebih berhati-hati menghadapi hal apapun ke depannya.

Di kos ia mencari-cari kipas angin karena sumuk. Ia baru sadar bila kipas anginnya dibawa temannya yang pergi tak mengembalikannya. Ia hanya membuka jendela saja. Ia menajamkan pemahaman pada orang-orang yang berbincang tentang seorang pemuda bernama Pringgadi, kelahiran sama dengannya 1999, aktivis sosial, pengusaha properti sukses, pendiri Komunitas Satu Hati untuk Negeri yang kini menjadi Partai Satu Hati Indonesia (PSHI) yang mendapat pertentangan karena terdiri dari buruh, tani, tenaga honorer, pengusaha-pengusaha ilegal yang tidak mendapatkan izin, ibu rumah tangga, mahasiswa. Banyak yang menilai partai berpacu pada kegiatan politik bukan membuat aktivitas yang seakan terus memprotes kebijakan pemerintah. Ia bersama PSHI lancar menggerakkan masyarakat membantu korban bencana kebakaran hutan di Kalimantan. Pemuda itu kelahiran Matesih pula. Berita memaparkan dalam waktu dekat ini ia akan membangun jalanan rusak di Indonesia, daerah-daerah yang sulit mendapatkan anggaran pembangunan jalan disarankan mengusulkan. Wajahnya yang tampan menjadi idaman kaum wanita termasuk dirinya.

Ia mendapat sebuah wawasan dari salah satu teman lain bila ingin internetan gratis ia bisa WIFI-an di kecamatan atau balai desa. Ia teringat tidak membeli kuota bulan ini karena hemat. Ia bergegas menuju balai desa terdekat. Ia tak menyangka banyak anak atau pemuda yang memanfaatkan fasilitas WIFI di kantor desa. Awalnya ia tertarik melihat pertandingan sepak bola piala presiden tahun ini, namun ia tergerak melihat video bokep gay di twitter. Ia benar-benar menahan sekuat tenaga namun ia menyadari bahwa sulit keluar dalam suasana demikian. Imajinasinya benar-benar termanjakan melihat beberapa orang gay melakukan pesta seks di luar. Tak menyangka celananya basah serta tak nyaman ia memilih untuk pulang. Ketika ia kembali serta berganti adegan video tersebut terus menyentuh-nyentuh perasaannya. Hiburan paling indah di usianya memang menyaksikan ketampanan maupun keperkasaan pria dalam video gay. Ia bertambah leluasa karena kos sendirian. Ketika awal ia masuk pabrik ia mengontrak dengan temannya tahunan yang lebih hemat, namun karena tak mampu memanjakan perasaannya ia memilih untuk kos sendiri. Ia belum bisa lepas dari onani, ketika mandi, bangun tidur, tidur lagi, atau ia mendapatkan kiriman video dari teman internet lain ia menikmatinya, walaupun sebenarnya menyiksa karena itu permainan imajinasi, bukan kenikmatan melakukan bersama orang lain. Dalam rebahnya ia serentak membayangkan Mas Saputra. Tubuhnya sispack karena rajin gym, parfumnya begitu cool, selalu memakai pakaian gelap, bila jalan-jalan selalu membawa kacamata hitam. Kali ini ia ingin membayangkan melakukan dengan Mas Saputra.

Sumengko tak menyangka bertemu dengan Mas Saputra. Saat ia belum berpengalaman mengangkat bahan-bahan berat, ia yang ingin melampaui target, menjatuhkan bahan-bahan. Mas Saputra membantunya. Ia tak menyangka ada karyawan pabrik setampan dirinya, lumayan untuk memainkan perasaannya. Ia menuntunnya duduk serta berani meminta izin membuat teh di dapur. Di HIK belakang pabrik ia tak sengaja bertemu dengannya lagi, mereka berusaha mengambil pisang goreng yang tinggal satu mereka pula saling mengalah. Sembari melahab pisang goreng ia mengenal lebih dekat Mas Saputra. Bila hari minggu atau tanggal merah ia sambilan membantu pelayanan di klinik DR. Rangga, klinik terkenal murah di Matesih. Mendayung waktu ia paham bila ia dan teman-teman lain sering dibayari makan di HIK atau agak mahal, enak, nyaman, kantin dalam. Mas Saputra aktif di acara pengajian malam Kamis yang diadakan pabrik, kegiatan sosial pabrik membagikan sembako pada warga sekitar kurang mampu tanpa dibayar. Di acara pengajian ia menjadi karyawan yang aktif menyiapkan acara pengajian, ia pula sering bertanya. Di sebuah makan siang ia ikut-ikutan membawa bekal bersama temannya ia bercerita ia sudah lulus S1 Komputer di UNDIP namun ia belum ingin bekerja sesuai pendidikan atau ketrampilan yang dimiliki. Ayah-ibunya sesama pedagang, sebagai anak pria tertua dua adiknya kuliah dengan beasiswa, wajar bila ia agak leluasa. Pemikirannya yang logis, simple, relijius, tak asing teknologi membuat karyawan-karyawan lain sepemahaman dengannya.

Ketukan pintu terasa menggamparnya, namun ketika terbuka Sumengko terkesima memandang pria yang di depannya Mas Saputra. Parfumnya wangi, kemejanya tersetrika rapi, rambutnya gelap-licin karena minyak. Mas Saputra berujar ada keluarganya datang bermain namun sudah pulang, ia membawakan buah yang diberikan keluarganya. Bertrilyun kali Sumengko berterimakasih. Mereka berbincang mereka sama-sama hampa di kos waktu sekarang, pertanyaan Mas Saputra tertujum di perasaannya yang membahas tentang hubungan mereka ke depannya. Sumengko merasa ia tak bisa lagi melakukan apapun, ia telah berada di tempat yang di kelilingi banyak gunung, ia sebenarnya agak bagaimana mengganti celana pendeknya saja dengan jeans di depannya. Sumengko mengajak mengobrol di tempat yang enak sembari meminum udara segar di luar. Di kebun binatang serta wisata buah Matesih mereka berbincang. Sumengko menerima kesungguhan Mas Saputra. Mas Saputra berkaca-kaca, ia mengenakkan cincin di jari manis Sumengko. Sembari berjalan menyusuri kebun Sumengko bertanya tentang perencanaan mereka ke depannya. Mas Sumengko bilang di masa milenial kini sudah ada kemudahan proses pernikahan sesama jenis. Ia berangkat di Ngampilan, kota Yogyakarta di lembaga perlindungan LGBT Internasional untuk mandaftar pernikahan, setelah mendapatkan surat pernikahan di sana mereka menuju Dinas Pencatatan Sipil setempat mendapatkan surat baru yang lebih mudah dipahami. Setelah shalat Ashar mereka baru kembali ke kos. Sumengko mendapatkan kekuatan baru ketika Mas Saputra mulai di sisinya, ia merasa mendapatkan pencerahan baru. Ia yang tak pernah shalat sama sekali menjadi bersenang hati shalat. Dulu ketika di Cilacap guru TPA-nya bila salah sedikit kurang lebih berkata “goblok, menghafalkan bacaan shalat seperti ini saja tidak bisa” ia pula seenaknya main memukul murid dengan kayu terlebih dengan murid perempuan, menangis tak digubris. Karena gerakannya salah terus Sumengko memilih untuk tak usah shalat saja pula TPA. Mas Saputra menenangkan dengan lembut yang membuatnya paham, terdapat banyak golongan dalam Islam, pendapatpun juga banyak, mungkin guru TPA tersebut dari golongan Islam yang benar-benar total. Banyak pula yang shalat dengan gerakan berbeda-beda, seinginnya, semua memang kembali pada hati serta keyakinan masing-masing.

Di kos mereka saling chat WA meskipun kos mereka hanya berjarak 5 kos saja. Berada dalam pelukan Mas Saputra ia merasa jadi ingin terus mengasah kemampuan dirinya, mengembangkan hidup. Ia ingin tak kalah serta menjadi sempurna mendampingi Mas Saputra. Ia membaca kisah-kisah orang sukses dengan usahanya di google, semua dengan antusias ia pahami, termasuk Pringgadi, pemuda Matesih yang sukses pula menikah di usia muda tersebut. Akan keberhasilannya memberikan lapangan pekerjaan pada trilyunan pengangguran pada perusahaan yang membutuhkan banyak tenaga di luar pulau di Indonesia. Pemikirannya mendapatkan pro dari banyak orang. Banyak kalangan yang mengkritik kebijakan Presiden Beruntung dari Sragen yang menjabat saat itu. Pemikiran Pringgadi antara lain demi mewujudkan Negara Indonesia yang demokratis, mewujudkan cita-cita luhur Pancasila serta UUD kita memang harus bersatu, bahu membahu, saling menghargai. Kita harus menyamakan upah semua daerah di Indonesia, semua daerah memiliki kapasitas mendirikan pabrik, bila agama atau nilai ketuhanan tidak bisa menertibkan masyarakat atau terjadi perselisihan saja, agama diminimalisasikan saja di masyarakat, agama yang berselisih karena masalah sepele diberikan sangsi. Ketika ia keluar dari laman artikel itu ia mendapatkan berita google baru bahwa Kemendikbud berencana merubah pembelajaran agama dari 20% setiap minggu menjadi 5% terjadi pro-kontra. Ternyata mempelajari sesuatu memang mengasyikkan, berbeda dengan pemahamannya tentang belajar selama ini. Melihat Mas Saputra yang tajam pemikirannya, aktif dari teman-teman lain begitu berwibawa. Perasaannya jadi terkeruk terlintas masa kecilnya. Orang-orang desanya rata-rata sukses bukan karena sekolah namun bekerja keras di ibukota, ibu serta kerabatnya yang berkata sekolah atau tak sekolah sama saja mengiyakan ia sekolah di SDN 1, SD yang tinggal 1 karena 2 lainnya digempur karena tak ada siswa. Ia sebenarnya senang karena tidak dipungut biaya sama sekali. Salah satu temannya dinasehati di depan semua siswa karena ia salah satu siswa yang bandel karena tak menurut ibunya, padahal ia pula tetangganya tahu sendiri bila ibu temannyalah yang salah karena membawa pria lain ketika ayahnya di sawah yang anaknya mendapatinya. Temannya itu menentang dengan mengatakan yang sebenarnya, namun ibu guru tersebut tak terima. Ia menanyakan saksi apa yang patut bagi dia pada siswa-siswa lain, temannya paling usil mengusulkan dipelorotkan celananya. Bu guru malah memelorotkan celananya. Ia menangis di antara bahakan teman-teman yang tidak membawa celana dalam. Sumengko yang tidak mengalami sendiri peristiwa tersebut mengurung diri, diam-diam tak makan beberapa hari. Di SMA pula ia yang didekati salah satu guru karena terkenal penyendiri daripada teman-teman lain, serta tak pernah berbuat ulah, diajak untuk mandaftar di universitas negeri yang wakil rektornya ayahnya sendiri, bisa langsung masuk karena dosen di universitas tersebut boleh membawa mahasiswa lain serta terdapat peluang beasiswa, ia tak mengiyakan. Baginya pendidikan tak begitu perlu karena bila ia memiliki pendidikan yang tinggi nanti belum tentu menjadi orang baik bagi siapa saja. Ia memilih mendaftar di PT tempatnya bekerja saat ini saat pihak PT bersosialisasi di sekolahnya membutuhkan tenaga kerja. Hingga malam pukul 21.00 ia terus internetan dengan kuota unlimentid yang baru dibelinya. Pintunya yang terbuka memperlihatkan Mas Saputra yang datang. Api di perasaannya sedikit menggelisat. Ia bilang bila temannya kembali membawa kunci kosnya, ia belum mandi. Sumengko menyarankan Mas Saputra mandi di tempatnya, ia meminjamkan handuk pula pakaian. Usai mandi saat bersiap-siap mengenakkan pakaian Sumengko, melepas handuknya, tubuh Mas Saputra yang putih hanya mengenakkan celana dalam yang biasa terpampang cerah di mall, berwarna biru muda katun, ikat pinggang karet, bertuliskan di tengah EMPEROR begitu menggoda, mereka saling bertatapan tak jadi mengenakkan pakaian. Android Mas Saputra yang dipanggil diangkat, Sumengko mendekat di tubuhnya yang seakan telah terkelupas entah mengapa ingin. Ketika Mas Saputra menyingkirkan layar panggilan temannya terlihat layar situs video gay, Mas Saputra yang pasrah mengikuti aliran Sumengko yang mengisyaratkan tak masalah. Mereka menonton video gay bersama. Sebelum malam tak terduga itu berlangsung, Mas Saputra mengingatkan perjalanan indah mereka hingga sekarang, memuji Sumengko sebagai pria yang tampan, ia yang benar-benar meluluhkan hatinya. Entah siapa yang mengajari Sumengko seakan diberi jalan menuju keindahan, mungkinkah itu yang disebut naluri bercampur kematangan. Ia mendegus menjilati payudara Mas Saputra yang kekar, otot perutnya sispack dirangsangnya, otot lengannya benar-benar ia miliki. Kepala penis Mas Saputra masih merah seperti dirinya, Mas Saputra mengerang depan dalam suasana sekeliling kos yang kebetulan sepi. Ia tahu agar penis Mas Saputra mampu menyodok anusnya harus keras ia mengoralnya. Air liur ia turunkan lalu ia kulumkan pada penis Mas Saputra yang menegang. Mas Saputra benar-benar menikmatinya. Sumengko pasrah namun terasa mendapatkan rasa yang tak tertuliskan penis Mas Saputra masuk lebih dalam anusnya. Sumengko meminta Mas Saputra mengeluarkan spermanya di dalam agar menjadi pengalaman tak terlupakan. Dibersihkan keringat pula ceceran sperma dengan pakaian kotor. Mereka saling berbincang lucu dan merayu, mereka ingin melakukannya lagi. Mereka melakukan hingga lima kali hingga shubuh

Semenjak malam itu Sumengko dan Mas Saputra memiliki rencana baru. Mereka ingin satu kos berdua, ibu kos Mas Saputra yang menyayangkan berbohong bila ia ingin hemat padahal agar lebih leluasa berdua serta dekat dengan Sumengko. Mas Saputra terus menunjukkan rasa sayangnya pada Sumengko, mereka saling jujur, terbuka satu sama lain, saling memotivasi. Sumengko benar-benar menjadi raja di tempatnya tinggal, ia benar-benar memaafkan masa kelam yang mungkin dulu mewarnainya. Ia harus lebih bisa memposisikan diri untuk masa depannya dengan Mas Saputra. Mas Saputra memberikan banyak gajinya pada Sumengko untuk dikelola terlebih kebutuhan mereka ke depan akan banyak serta tak terduga. Sumengko benar-benar merasa sebelum menjalin rumah tangga yang sesungguhnya pada Mas Saputra benar-benar tak terdefinisikan dengan kata bagaimana bila mereka menjalin sungguhan, namun Sumengko tak ingin tenggelam ia akan melangsungkan pernikahan dengan Mas Saputra agar kehidupan mereka lebih baik. Ia tak lagi berwisata dengan teman-temannya di Karanganyar lagi ketika hari libur namun cukup dengan Mas Saputra. Mas Saputra berkata dalam hati menanak nasi sendiri dengan membeli lauk sederhana begitu nikmat bila dimakan berdua bersama. Meskipun Sumengko sendiri lelah bekerja, ia tak peduli memijit Mas Saputra sepulang bekerja, menyiapkan air hangat untuk mandi, mencuci. Ketika Sumengko mengutarakan bosan menjadi bot atau istilah gay-nya ditusuk atau menjadi perempuan, ia ingin sekali kali menjadi top atau yang menusuk atau lakilaki pada Mas Saputra, Mas Saputra mengatakan tak masalah. Ia bisa memberikan rutinitas pada penisnya sendiri. Ia tetap merasakan kodratnya sebagai pria yang menggagahi orang lain. Mereka sering sekali melakukan, berganti gaya, bangun tidur, berangkat kerja atau sepulang kerja. Sumengko tak pernah lupa cium tangan Mas Saputra sementara Mas Saputra mengecup keningnya sebelum keluar berangkat bersama.

Memang sekarang sudah tidak ada lagi istilah uangku-uangmu, celana dalamku-celana dalammu, penisku atau penismu yang ada semua milik kita bersama. Mas Saputra rajin menambah kebesaran ototnya, pengobatan alternatif memperbesar penis yang membuat Sumengko bertambah berapi. Mas Saputra mengajak untuk mengambil tabungan sekali-kali untuk membeli vibrator untuk dimainkan berdua, makan torpedo agar kasih mereka semakin erat.

Hari ini jadwal pengajian malam kamis, usai pulang kerja pukul 19.00 ia menyempatkan mengikuti. Seiring mengalun waktu Sumengko sadar terjadi perubahan sekelilingnya, dulu ia bekerja sampai 21.00 mengapa menjadi 19.00 saja namun gajinya tetap, ia juga mengamati barang-barang yang dijual di warung begitu murah hingga ia membeli banyak. Mungkin karena ia terlalu menikmati derasnya arus sungai setahun kehidupannya bersama Mas Saputra. Ia berencana membeli hidangan di toko besar biasa karena besok orangtua Mas Saputra akan datang membicarakan pernikahan mereka karena jam pengajian masih panjang. Di toko ia bertemu dengan Iqbal yang ingin mentraktirnya hitung-hitung syukuran karena dua minggu lagi ia naik pangkat menjadi supervisior. Sembari mengiyakan meski kurang enak Sumengko heran kenapa cepat sekali Iqbal mendapatkan posisi itu. Iqbal berujar ia bisa seperti dirinya bahkan lebih karena ia kan dekat dengan Mas Saputra. Mas Saputra terkenal menjadi aktivis di pabrik. Ketika beberapa bulan lalu ada karyawan yang menerima diskriminasi kepala bidang produksi lain yang memukulnya karena pekerjaannya lambat walaupun tua serta tak pernah memenuhi target itu dimanfaatkan Mas Saputra bersama teman-temannya yang tak dikenal yang sebelumnya merapatkannya di kosnya untuk melakukan demo. Mas Saputra yang selalu tampil di depan berkobar akan meledakkan kasus ini, ada kasus yang lebih banyak lagi namun tak tertangani. Para karyawan PT. Indo Kekar Underware meminta tunjangan libur, penambahan hiburan, fasilitas lengkap, kenaikan jabatan terlebih pada karyawan yang mengabdi sejak puluhan tahun. Sumengko mengaitkannya dengan pengajian pabrik yang isinya tak pernah berubah, menyinggung agama Islam yang selalu bertengkar dengan agama lain, kita harus peduli sesama, jangan ada pemimpin yang menzolimi orang-orang di bawahnya. Seminar atau outbond perusahaan yang dilangsungkan ketika hari libur atau tanggal merah yang disiapkan Mas Saputra pula teman-temannya yang berhasil, sebenarnya membuatnya bosan sekali saja mengikuti namun ia merasa tak menghargai Mas Saputra bila tak mengikuti. Seminar atau outbond yang dihadiri trilyunan karyawan selalu memotivasi agar karyawan termotivasi naik pangkat, jangan puas menjadi karyawan saja.

Suatu malam di kos, detik demi detik yang tak akan pernah berganti. Ia yang bercumbu dan merayu bersama satu-satunya pria yang dicintainya. Karena besok libur mereka berencana melihat akrobat di taman bunga Matesih yang gratis. Setahun yang lalu di hadapan orangtua Mas Saputra yang datang mereka sepakat untuk menunda pernikahan setahun lagi berbohong dengan ingin mengumpulkan tabungan lagi. Semakin ia berada di tempatnya tinggal, mungkin di tempat yang lebih luas lagi semakin ada perubahan. Banyak wisata yang digratiskan, banyak barang-barang yang turun harga. Tidak ada lagi istilah buruh protes, tidak ada berita kelaparan, putus sekolah dimana-mana, namun ia sering mendapati orang-orang berpakaian keki nongkrong di luar di jam kerja biasanya, mungkinkah jam kerja sudah berubah Sumengko tak mengikuti. Ia yang diajak Mas Saputra bolos bekerja gajinya tetap, teman-teman lain pula demikian. Namun pencurian dimana-mana, ketika pergi Mas Saputra selalu berujar mengunci pintu. Emas mereka sebagai tabungan raib terlihat dari lemari pakaian yang terbuka amburadul. Mas Saputra yang berwawasan lebih luas darinya sesekali ditanya olehnya benarkah UMR di semua daerah di Indonesia telah sama, ia mengiyakan. Bahkan setiap regional hanya maksimal memiliki 10 pabrik, tak ada regional yang tak memiliki pabrik di Indonesia. Mungkinkah ini karena Pringgadi yang benar-benar memberikan pengaruh pada negeri ini. Banyak beberapa kalangan yang mendukungnya untuk naik di pemilihan presiden. Presiden Beruntung kembali mencalonkan diri dengan wakil yang baru: Pringgadi. Ketika Presiden Beruntung sakit koma yang belum tentu jelas sakitnya, ada salah satu koran online resmi dengan referensinya memaparkan teman politik Presiden Beruntung yang membuat kondisi beliau seperti saat ini, namun setelah itu website serta berita tersebut tak bisa dilacak lagi. Membuat Wapres Pringgadi menggantikan tugas sebagai presiden sementara. Ketika Mas Saputra tertidur ia tak sengaja mendengar salah satu kegaduhan pembicaraan tetangga depan kosnya yang ASN di Dinas Perhubungan. Ia mengintip dari kaca agar terdengar jelas jika beberapa menteri serta gubernur menghilang pula diculik oleh pasukan tak dikenal, ia membesarkan telinganya kemungkinan mereka diculik dan dibunuh di kebun rahasia di Matesih, namun ia segera berpaling menganggap angin yang melintas. Sumengko sempat bertanya dengan penuh tanya ketika mencuci kaos biru yang mensukseskan pasangan Beruntung-Pringgadi serta kaos berlogo PSHI apakah ia bergabung tim sukses mereka, Mas Saputra menjawab dengan kata-kata hangat itu kaos pemberian temannya. Ketika ia meminta bertukar pendapat tentang PSHI tentang partai yang banyak menuai pro namun pula kontra Mas Saputra hanya mengalihkan.

*

Malam pukul 00.15 ada yang menggedor-gedor kosnya, membuat Sumengko ingin menyabit-nyabit dirinya karena mengganggu mimpinya dalam pelukan Mas Saputra sebelum terlelap mereka 69 atau saling mengulum penis. Salah satu temannya yang biasa rapat atau bermain di kosnya, Petruk bersama salah seorang tak dikenal menutup wajah dengan masker. Dalam kos mereka berbincang, Sumengko yang ingin tertidur tak jadi karena menyaksikan percakapan mereka. Orang asing yang membuka masker yang ternyata anggota DPRD dari PSHI berkata pada Mas Saputra bila jika PSHI sekarang tidak aman, ia harus menyembunyikan diri, terlebih dirinya. Beberapa  menteri, jendral, pemerintah daerah yang diam-diam pro terhadap presiden memiliki bukti bahwa PSHI terbukti bersalah melakukan penculikan, penyekapan, pembunuhan terhadap menteri atau gubernur yang menantang kebijakan Wapres Pringgadi, serta rakyat sipil yang tak mau mengikutinya. Ia membuat gerakan yang mengajak masyarakat anti sila 1 pancasila. Pasukan telah berada dimana-mana, ia harus pergi. Sumengko tersentak, ia bagaikan tertabrak gunung ketika melintas dengan terjun payung. Ia mengguncang-guncangkan Mas Saputra, namun teman-teman lain mencoba melerainya. Ia tak menyangka orang yang dicintainya memiliki rahasia besar selama ini. Sumengko benar-benar tak mampu bergerak antara perasaannya yang tak bisa dilepaskan pada orang yang dicintainya, perbuatannya yang menariknya pada kubangan tak jelas, ia yang semakin ragu akan cinta Mas Saputra selama ini. Sebelum pergi Mas Saputra meminta waktu beberapa menit untuk berkata pada orang yang dicintainya, setelah Sumengko mengeluarkan unek-unek yang ada. “Sumengko, maafkan aku. Lihat mata aku, kita saling mengenal kan. Kamu percaya kan sama aku. Aku akan menyelesaikan permasalahku dengan semuanya. Aku memang bukan orang baik, aku yakin cintamu pada siapa pun tak pernah palsu. Semenjak aku mengenalmu aku semakin sadar bahwa aku salah. Aku hanya ingin menjalin kesempurnaan hidup bersamamu. Perasaanku tak akan pernah berubah padamu sampai kapanpun. Aku akan kembali Sum, aku tak pernah mengingkari janjiku. Kita akan memiliki masa depan yang indah. Tunggu aku Sum” Sumengko menitikkan air mata ketika Mas Saputra begitu berat melepas tangan Sumengko yang ditarik teman-temannya segera pergi.

Sumengko tak menyangka kini ia telah di balik jeruji yang pengap, bersama orang-orang berpakaian tahanan sama yang begitu sinis. Ia mendengar berita dari televisi jenazah para menteri dan gubernur telah ditemukan di sendang keramat di kebun Matesih. Wapres Pringgadi diturunkan dari jabatan serta dihukum mati. Keadaan negara berusaha dirubah menjadi keadaan yang sebagaimana mestinya. PSHI yang dinilai sebagai akar dari PKI itu dibubarkan, orang-orang yang terlibat PSHI diadili. Banyak orang yang menunduh ia anggota PSHI karena kedekatannya dengan Saputra. Sumengko memang tak lagi mampu berbuat banyak. Ia telah memilih mengatakan bahwa ia anggota PSHI namun Saputra pergi begitu saja darinya tanpa ia ketahui. Yang ia lakukan semata-mata perasaannya yang terus menjalar akan kebaikan Mas Saputra selama ini. Tahun terus berganti tahun, selalu terdengar berita penangkapan anggota PSHI yang baru entah PSHI benar atau tak. Yang ia pedulikan saat ini bukan lagi kesungguhan Mas Saputra pada dirinya serta membantunya keluar secepat mungkin namun keselamatan Mas Saputra.

12.41

3-5-22

Sukoharjo

Catur Hari Mukti

FB: Catur Hari Mukti

IG: @anti_main_stream

#cerpenLGBT #cerpengenresastra #cerpenCaturHariMukti #matesih #karanganyar #cerpen21+ #sastra21+

Kakatua Tak Pernah Hinggap

KAKATUA TAK PERNAH HINGGAP

Ia menangkap desir angin malam yang melesat begitu saja, seperti apa desirnya begitu ia rasakan benar-benar tipis, mengena, tak pernah ia lupakan bagaimana rasa itu, cinta dan duka tak pernah berhenti di dunia ini namun ia merasakan cinta dan duka memusar menjadi satu, tiada yang tak luruh lalu terteguk. Sebagai jenis yang berlogika bukan berperasaan ingin ia terus dalami apa yang harus ia rasakan, mungkinkah saat ini Sang Penguji ingin mendekatkannya pada kodrat yang tak mungkin ia melupakannya, dimanakah yang salah darinya, apa yang belum pernah ia lakukan. Ia benar-benar rindu pada air mata yang selalu menguatkannya, ia sebenarnya tak pernah hilang, ia dekat bahkan tak pernah lepas dari kita. Ia benar-benar merasakan keberhujungan akan tiba tanpa ia meniatkan menghentikan pada keberhujungan itu. Ia turun dari kamar atasnya kembali, depakan tangganya menegaskannya pada kesuyian. Dalam kesimpuhannya kepada Sang Penguji yang ia menjadi yakin atau tak Ia melihatnya, ia biarkan perasaannya membaur begitu saja, isi rumah yang rutin ia bersihkan semengkilap mungkin seperti belum pernah terjamah ingin ia porak-porandakan karena ia memang bukan pemelihara, walaupun kata tak terucapkan peniruan lebih pada kata. Ia merasakan ada yang menahan atau mengendalikannya, tak bisa ia ungkapkan hanya bisa ia lakukan, semua bisa ia singkirkan agar ia lega. Ia bersyukur kepada Sang Penguji ia kembali merasai hal yang tak bisa lagi ia lakukan. Air mata terbayang tak sia-sia menyuburkan tanah, hati yang kian kering ia upayakan mendapatkan api kembali agar bisa merasa di rumah yang mengecilkannya.

Ia benar-benar terpuruk ketika yakin bila Hangrumangsawani akan kembali, tak ada yang tak mungkin. Seluruh keperihan akan berujung pada kebahagiaan atau sebaliknya, pula ia tak salah. Seluruh yang seakan memberikan bisikan kepadanya, ia anggap bukan kekuatan darinya, ia merasa menjadi orang yang tak mengerti apa-apa. Masih teringat dengan jelas bahkan hal yang menyakitkan itu terjadi hari atau detik ini ketika ia melihat isi rumah yang selalu sama walau 3 tahun sudah ia tak berada di rumah. Pagi itu udara yang segar di Baki, Sukoharjo, motor-motor yang berdahuluan menuju tempat kerja, ontel-ontel lama yang dikendarai orang-orang tua berpakaian lurik, padi yang gemuk walau musim tak lagi pasti memberikan semangat, ia pulang hari Minggu, mengingat Minggu jeda mereka dalam bekerja, hal-hal mengagumkan terjadi pada hari itu, hari yang selalu menyatukan mereka, walaupun mereka mampu, mereka tak mencari penjaga atau pembantu lain karena semuanya bisa dilakukan berdua, hal yang benar-benar ia sukai dari Hangrumangsawani, yang selalu membuatnya optimis terdapat hal-hal indah lain di dirinya adalah ia selalu men-download film bagus di internet sembari mengerjakan urusan kantor, namun bila akhirnya ia memilih untuk memainkan game online, catur, karamboy atau billiard akan ia kerjakan, dalam keyakinannya yang tak pernah bisa selalu ia usahakan untuk meraih hasil yang terbaik, untuk satu-satunya pria yang dicintainya, sebaliknya pula dirinya, ia yang tak bisa terkadang diajari dirinya hingga bisa, harusnya ia yang benar-benar menyadari tak ada yang tak mungkin serta semua akan teratasi dengan sendirinya, dengan hadirnya mungkin akan membuatnya terus belajar. Ia meminta agar datang secepat mungkin, ia merasa bahwa ia memberikannya kejutan, tak perlu membawa oleh-oleh apa-apa, ia yang meminta yang terpenting ia menikmati perjalanannya. Hadirnya membuatnya bisa mengerjakan pekerjaan dengan cepat dan mengisi waktu kosong, ia yang usai mengisi jelajah budaya bagi orang-orang disabilitas yang diselenggarakan Sukoharjo Art and Culture Foundation bekerjasama Dinas Pariwisata Jawa Tengah di Demak, Kudus dan Jepara tak perlu memenatkan pikiran lagi untuk membawakan oleh-oleh menarik pada suaminya karena diberikan cinderamata yang dibuat oleh peserta, walaupun ia terkejut dengan isi rumah yang begitu syahdu, hijau, serasi, mengambil tema alam di daerahnya yang mengingatkannya tajam ini ulangtahunnya yang ke 20, keterkejutannya berubah ketika melihat lebih detail. Ingin ia hantam serta sayat tubuhnya dengan clurit melihat ia bersama wanita di kamarnya

“Aku benar-benar percaya dan menyayangimu namun ini yang kau lakukan padaku hah!” Hangrumangsawani berusaha menjelaskan segalanya padanya dalam darah bekunya “gak seperti yang kamu pikirkan, Mas, gak seperti yang kamu pikirkan. Kamu percaya sama aku ya Mas…” ia yang terus menuruni tangga dengan teriris dikejar Hangrumangsawani.

“Semuanya sudah jelas!” semua benar-benar tak bisa diulang, diubah sinopsis ceritanya ataupun ditarik dari biji sebelum padi itu ditanam, walaupun Hangrumangsawani bersujud mencium kakinya, mengatakan bertrilyun kali ia ingin memberikan kejutan padanya, semua begitu tajam. Hangrumangsawani hanya bisa menyudutkan dirinya sendiri. Ia tak menyangka jika wanita yang selalu disentuhnya datang serta mengetahui alamatnya saat ia totalitas merencanakan hari itu, ia menolak akhirnya terbuncah dan melakukan di kamar yang batinnya tak ingin merusak kasur serta kamar yang merangkai kehangatannya bersama suaminya, ia mengusahakan tak beresiko tinggi, perjalanan Jepara-Sukoharjo yang melahab hingga lima jam ternyata terlupakan karena perencanaan wanita itu yang berhasil. Ia meminta Hangrumangsawani pergi karena tak ingin melihat lagi ia di depannya, ia pun pergi. Ia menatap dua kakatua merah di taman tengah yang diberikan Dory, sahabat dekatnya sejak kenal bersama fakultas pariwisata Usahid Surakarta yang melambangkan cintanya bersama Hangrumangsawani ketika menikah, tiba-tiba terbayang air yang berkerubung dalam oksigen memerah darah karena luka hatinya yang perih mengingat peristiwa itu. Kesunyian rumah membuatnya tenang namun menerkam dirinya. Ia mengalihkan benaknya menuju luar rumah. Belum jauh keluar ia alihkan mata pada salah satu kakatua yang berkata “jangan bersedih di setiap kesulitan pasti ada jalan” air matanya yang telah terbentuk seakan ia rubah sempurna dengan air mata penyelesaian, ia mengangkat setipis senyum dengan terus meninggalkan apapun yang terjadi.

Dalam berbagai sisihan hatinya, ia yang menguatkan dirinya bila tak harus dengan cara itu ia mengingatkannya, ia yang sepenuhnya salah karena perlu detik demi detik, minggu demi minggu, bulan demi bulan hingga tahun berubah ia benar-benar mencintainya. Ia yakin ia pria yang diturunkan dari langit ke tujuh oleh Sang Penguji kepadanya yang terbaik, ia menyadari ia berlapis-lapis lebih baik dari Getur Tirakat, pria yang begitu otoriter yang diketahuinya yang dikenalnya sejak kelas 1 SMA, ia yang sepijakan lagi menuju tangga teratas menuju perkawinan menginginkan ia hidup dengan papa-mamanya, ia yang ingin kuliah hingga S2 dan membangun bisnis di Australia tanpa mengajaknya akhirnya ia memilih mengakhiri hubungannya dengannya walau perih. Serta hal itu terjadi ketika ia baru menyadari bahwa kakaknya, Mas Panembahan adalah anak pancingan papa-mamanya, sedangkan dirinya anak hasil selingkuhan papanya, padahal mamanya yang dikenalnya selama ini mama sempurna serta selalu ada untuknya yang ia miliki. Keluarganya dikucilkan banyak orang karena papanya korupsi perusahaan dan dipenjara 10 tahun. Kehidupan mungkin terus menapak pada tangga menuju hampa udara, tak mungkin turun kembali, siap atau tak ia harus siap, air mata akan menjadi saksi usaha manusia. Ia yang memiliki sikap menggurui dan lebih tinggi dari orang lain ia hilangkan menjadi lebih mandiri, mendengar kata orang lain, mensyukuri hidup dan tak ingin menyusahkan orang lain. Mungkin ini hikmah yang terpanen dari ia melalui hidupnya di samping ia memanen kehidupan ke depan.

Mamanya begitu peduli melihat ia putus dengan Gentur Tirakat, pria yang sebenarnya adalah tipenya. Namun ia ingatkan kembali bukan hanya tampan, mapan, jelas keluarganya namun bisa saling mengerti serta mengisi satu sama lain bila nanti menikah. Ia berat tak menyangka di luarnya ia begitu lantang, kekar, berani, kepemimpinan tinggi, memiliki kekuatan yang lebih sementara di dalamnya benar-benar tak mewujudkan mimpi-mimpinya. Saat mamanya reuni dengan teman-teman kuliahnya di DIY, teman mamanya Tante Sirup memiliki anak pria yang memiliki kekelaman yang sama. Tante Sirup dan Om Cincau yang asli Bambanglipura, Bantul, DIY mulai mengenalkan anaknya Hangrumangsawani dengannya di acara keluarga di Bantul atau Sukoharjo. Ia bersyukur mendapatkan pria yang lebih tampan, pintar dan shaleh seperti Hangrumangsawani, ia mengaku kelahiran 1996, setahun lebih tua darinya 1997, sementara Gentur Tirakat 1993, pernikahan pun berlangsung, dari berbagai perasaan janggal yang ia dera berusaha ia tepikan jauh ternyata tak bisa ia tepikan ke manapun saat mengamati dalam perilaku Hangrumangsawani yang begitu lugu darinya, saat resepsi pernikahan jawa gaya DIY saling membasuh kedua kaki dengan air bunga ia tergerak menuntun tangan Hangrumangsawani yang tak kunjung. Di malam pertama mereka yang menjadi mimpi baginya ia akan merasakan apa yang dirasakan mamanya atau teman-teman wanita digagahi pria ternyata hanya mimpi, sebelum mereka menjadi suami-suami mereka berbincang ketika akhirnya ia melihat E-KTP Hangrumangsawani terterakan 2000, ia ingin malam pertamanya malam yang terindah-tak terlupakan seumur hidup, Hangrumangsawani meminta dirinya menjadi cowok atau istilah gay-nya Top, sementara Hangrumangsawani yang menjadi cewek atau Bot, seakan itu menjadi tanda ia merubah kebahagiaannya, merubah kehidupannya yang harus ia rubah. Ia banyak merenung dan menyendiri ketika Hangrumangsawani tak bersamanya. Walau sepakat keluarga Hangrumangsawani yang tak lebih kaya dari keluarganya mengalih kerjakan perusahaan keluarganya ke Hangrumangsawani, ia banyak pergi, bersenang-senang dengan temannya di luar negeri, serta ketika menangis tak pernah mengisahkan setitik pun pada Hangrumangsawani karena tak yakin Hangrumangsawani mampu menyelesaikannya. Merasa Hangrumangsawani tak diberi waktu yang lebih daripada teman-temannya ia bergonta-ganti pria atau wanita lain serta semuanya terungkap menderasnya waktu. Ia tak bisa mengelak serta harus melangkahkan dirinya setepat mungkin, bukan Hangrumangsawani saja yang salah namun dirinya, namun apa yang dibilahkan dirinya di dadanya begitu dalam dan membekas yang terkadang menutup kebersinaran hatinya dari kekelaman.

*

Acara seminar serta pelatihan penyeimbangan kecerdasan spiritual, emosional, intelektual, penyeimbangan otak kanan-kiri-tengah di Polokarto, yang akan berlangsung di seluruh kecamatan di Sukoharjo yang diikuti oleh pelajar SD hingga SMA telah usai, tiba-tiba ia yang selalu termenung, perasaannya tergerak untuk menjalankan apa yang dikatakan Hangrumangsawani jika ia harus menikmati perjalanan. Selama 3 tahun menyembunyikan kerenggangan hubungannya dengan Hangrumangsawani begitu berat dan menyalahkan dirinya, mobilnya terhenti ketika mengangkat panggilan dari mamanya. “Mikail… sayang, kamu lagi apa” bibirnya melengking usai mendengar kata-kata lembut mamanya. Mamanya yang walaupun sudah menikah terus menanyakan kegiatan pokok anaknya, kesibukan yang dijalankannya, adakah kesulitan yang memerlukan bantuan mamanya. Ia yang ikut bahagia ketika berbagi kabar bila mereka baik-baik saja. Di acara keluarga di Bantul maupun di Sukoharjo sebenarnya banyak yang merasa janggal karena ia datang sendiri, ketika ditanya dimana Hangrumangsawani ia terus memberikan alasan yang tepat walau berat, ia yang sibuk pekerjaan, tak sempat karena lelah, ia yang meminta diwakilkan, membuat mamanya ingin mengetahuinya lebih dalam. Teman-teman terdekatnya berjanji pada Mikail pura-pura tak mengerti permasalahan yang sesungguhnya ketika ia memohon sangat, ketika mamanya menanyakan, mamanya membagikan perasaan pada Hangrumangsawani bila ia tak bisa dibohongi. Mamanya mengisyaratkan bila ia tak ingin anaknya menyembunyikan lukanya karena akan menjadi luka baginya pula

“Mikail, Sayang, dengan jawaban yang sama itu tak bisa menutup apapun lagi. Yang mama pikirkan hanyalah kebahagiaan kamu, Mas Panembahan. Kamu jujur pada mama, kamu gak mencintai Hangrumangsawani kan, kamu gak bahagia kan dengan pernikahan kamu”

Mikail lalu menjawab pertanyaan biasa mamanya dengan jawaban biasanya, sembari menelan ludah pahit bersama air mata yang tak ia tahan. Mikail selalu mengumpulkan kekuatan bila semua belum pernah berhenti, ia merasa selalu bisa melalui setiap hari-harinya, seperti apa perjalanan cintanya dengan Hangrumangsawani akan ia jalankan serta rasakan. Ia tak ingin mamanya memikirkan kebahagiaannya lagi yang ia pikirkan adalah kebahagiaan mamanya, ia tak ingin keluarga mereka yang banyak masalah ditambah dengan masalah yang ia merasa mampu melaluinya. Pernikahan memang ibarat burung yang ketika terbang ia bebas menapakkan di langit atau tempat impian manapun. Ada penerbangan yang kencang, pelan, sesekali memilih untuk hinggap, atau melesati badai. Ia merasa pernikahannya dengan Hangrumangsawani seperti kakatua yang tak pernah hinggap.

Mobilnya kembali melesat menuju villa tua yang sebenarnya berhantu namun pernah menjadi saksi malam kedua mereka. Villa itu warisan keluarga Hangrumangsawani di Gatak, villa abu-abu yang indah beraksitektur italia, bunga-bunga terlihat mekar dan segar karena disirami keluarga penjaga yang tinggal di samping villa. Ia yang sebenarnya penakut didampingi keberanian oleh Hangrumangsawani, karena demikianlah pernikahan berasal dari hal yang berbeda untuk memberi, mengisi, melengkapi, tanpa Hangrumangsawani pula ia tak mengenal tantangan, mendobrak zona aman, pula memiliki ambisi yang kuat. Dalam villa yang rapi namun beraura kental karena konon saksi bisu penyiksaan tentara Jepang pada warga pribumi mengingatkannya ketika pertama masuk dibuat sedemikian sama dengan pernik malam pertama mereka, bila malam pertama serba putih kini serba merah yang melambangkan keberanian. Keberanian yang menapak lebih jauh. Jauh Mikail melangkah ia menemukan mawar merah yang menghitam karena lama tak terjamah usai malam itu, ia cium walau bayangannya mencium mawar yang segar, selamanya segar. Ia terbenam di kasurnya yang ia bersihkan dari sedikit debu yang hadir, jemarinya yang menyentuh spray bertuliskan Mikail dan Hangrumangsawani mengingatkannya pada malam indah itu, malam usai mereka menyusuri destinasi wisata terindah di Sukoharjo di Pandawa Water Boom, The Heritage Palace di Kartasura, Ndalem Kawedanan Bekonang-Mojolaban, Batu seribu di Bulu, Waduk Mulur di Bendosari, bendungan Colo di Nguter, makan ikan bakar Ibu Sum yang terkenal lezat di kabupaten itu, yang Hangrumangsawani terakhir mengantarkannya kejutan di villa itu. Harum parfum mawar serasa dekat ia hirup, ketampanan Hangrumangsawani begitu dekat, perbincangan yang begitu dekat dan pujian-pujian yang dibumbungkan lebih, ia merasa pada hari itu hingga lampu dimatikan, namun saat membuka mata yang terlihat hanyalah kekosongan serta kehampaan. Di tempat itu pula ia mengingat mimpi yang membubung baru setengah melayang dari teratas tujuan, malam yang demikian indah namun malam dimana ia belum pernah menjadi sosok yang dimimpikannya selama ini. Mikail kembali mengumpulkan hal yang bisa ia raih untuk membuatnya melangkah lebih dalam, merangkai mimpi-mimpinya yang indah lain dimana ia meyakini mimpinya yang indah ditentukan oleh dirinya sendiri.

Di kolam renang belakang, menyusuri semua kenangannya bersama Hangrumangsawani. Entah darimana arahnya ia membayangkan pernikahan Dory yang sama-sama feminim dengannya, dengan Mas Setyoko, atlet pacuan kuda dari Purworejo. Mas Setyoko kelahiran 1994 sementara Dory pula 1997. Mas Setyoko berperawakan kuat, menyenangkan pada siapapun, pasti bahagia dengan Dory. Dory mampu menyampaikan semua keluh kesahnya, sering menerima kemengalahan dari Mas Setyoko, menyambut kepulangannya dengan kesiapan semua makan malam, baju yang telah disetrika, air hangat tersedia darinya. Tiba-tiba ia tersadar dari kesalahannya, ia fokuskan menerima chat dari Getur Tirakat, pria yang mulai berbuat tak baik dengannya dengan menghina suaminya semenjak berakhirnya hubungan mereka, pria yang sebenarnya membuatnya perih karena ia harus membubungkan Hangrumangsawani di depannya, namun kali ini ia meminta Mikail mengangkat panggilannya, dalam panggilan ia mengutarakan semua permohonan maafnya selama ini serta pembuktiannya ia akan berubah, mereka meminta agar mereka saling hidup bahagia dimana Mikail pula mengiyakan serta mengungkapkan ketidaksempurnaan serta maafnya selama ini. Getur Tirakat mengirimkan undangan pernikahannya dengan perempuan bernama Salju di masjid besar Baiturrahmah Sukoharjo. Mikail menyampaikan seluruh doa terbaiknya serta berjanji menghadiri pernikahannya.

Mikail kembali menapak rumah. Kekosongan serta benda diam selalu ia lewati, namun ia merasa damai dalam kekosongan itu, api yang menyala yang sekuat tenaga ia hisap agar hatinya lebih berwarna entah dari kekuatan mana bisa ia cegah untuk menyala seluruhnya kembali. Ia sandarkan kopernya, masih pukul 19.00 namun ia ingin memutuskan tidur, agar ia cepat terbangun, segala yang telah ia pahami dan coba ia lalui hal-hal yang belum diketahuinya lagi, seperti gemetar hatinya yang menginginkan perih hidupnya berlalu. Setiap malam sebelum tidur ia mengelus kasurnya yang membuatnya bermimpi seorang diri, entah adakah yang lebih indah dari merenungi yang belum pernah habis dari dirinya, ingin ia tenggelamkan tubuhnya yang terus berjuang di Kasur. Ia tak akan pernah terlepas dari mimpi namun tubuhnya merasa tak tidur. Sebenarnya ia ingin berontak namun yang diberontakinya tak layak ia berontaki. Ia seharusnya memahami keinginan Hangrumangsawani yang ingin dimanja walaupun dirinya sendiri ingin dimanjakan seseorang. Ia memilih diam, tak perlu membersitkan indah atau kesesakan hatinya, kelak hal itu bukanlah sebuah masalah. Diam serta keterasingannya atas kesibukannya mambuatnya tak nyaman sehingga membuat Hangrumangsawani menyalurkan kegebuannya bukan pada dirinya. Ia tersadar dari getarnya panggilan. Dari Hartawati, teman terdekatnya yang menanyai keberadaannya pula ingin menemuinya. Ia hanya berpikir positif bila terdapat hal yang sebelumnya belum ingin ia dengarnya mungkin belum ada sepemahaman, pula segala yang dipersembahkan sahabatnya adalah rasa cinta walaupun ia belum mengetehaui cinta yang benar-benar dipahaminya. Hartawati teman dari TK hingga kuliahnya mengambil fakultas sama, ia yang mengenalkan Getur Tirakat padanya.

Mikail dan Hartawati saling bertatapan namun Mikail terkejut dengan kata-kata Hartawati yang tertegun mengamati Mikail yang agak berbeda, memakai pakaian serba hitam, sandal hitam, memelihara kumisnya, tubuhnya agak tegak, berbicara tegas, berbeda dengan hari-hari biasa ia yang banyak mengenakkan baju yang bermotif teduh seperti tumbuhan pula berwarna cerah, terlebih merah muda atau nila. “Iya Sis ada apa, masalah Hangrumangsawani lagi. Sis, udah aku bilang berkali-kali, aku gak ada masalah dengan dia. Sayang Sis kalau kamu mengurusi urusan rumah tangga aku, aku bisa mengatasi semua masalahku kok, bila ada hal yang tak bisa kulalui akan kulalui semampuku, kamu pentingkan urusanmu yang lebih berharga ya” Hartawati perlahan mengarungi hati Mikail di saluran yang terkecil, ia tak ingin sahabatnya tergores setipis apapun, ia tak ingin sahabatnya tak mampu bangkit dalam keperihannya, ia yang menenangkan Mikail dengan mengajaknya bertemu malam itu benar-benar dienggankannya karena Mikail yakin apa yang dilakukan Hartawati.

“Bro aku ada kabar tentang Hangrumangsawani. Dia sehat-sehat saja, kemarin ia menanyakan bagaimana kabarmu dan sehatkah dirimu, dia benar-benar menjadi pribadi yang lebih baik, Bro. dia kangen sama kamu, berharap kamu demikian. Ia telah memahami tentang hakikat pernikahan, Bro, dia bilang hanya kamu tujuannya di depannya. Aku perlu ngomong sama kamu, Bro, aku ke rumahmu sekarang ya” tubuh Mikail serasa membeku seluruhnya, ia lalu setuju bertemu dengan Hartawati, tanpa menyembunyikan isyarat kekesalannya ia meminta tak lama berkata. Hartawati menunjukkan status-status  Hangrumangsawani di IG, tempat-tempat terindah di provinsi DIY atau keresidenan Surakarta, yang diselipkan kata-kata motivasi, ketuhanan, pengalaman indah yang pernah dilalui dengan Mikail pula kepada lainnya, selama beberapa tahun terakhir postingannya sendu karena tak bersama pria yang ia tuju, Mikail menjawab dengan melihat beberapa postingannya namun tak ia lakukan lagi karena menurutnya tak membuahkan apa-apa. Di hari ulang tahun Mikail serta ulang tahun pernikahannya ia memposting doa pula harapan terbaik, jemari kiri Mikail berdesir jemari kanannya menggenggam android Hartawati. Namun hal yang membuatnya melayang menabrak tebing curam dan terjerembab hilang tak tertemukan siapapun Hartawati yang mengungkapkan semua permasalahan yang sebenarnya dari awal kepada Hangrumangsawani, ia yang meminta maaf karena mengingkari janjinya namun itu ia lakukan karena ingin mensirnakan keperihan sahabatnya, ia berharap pada Mikail mereka membangun cerita yang baru. Bukan keoptimisan yang dilihat dari Mikail pula hatinya yang kembali merekah namun satu kata yang membuatnya membatu. “udah kan gitu aja ceritanya. Udah ya ngobrolnya besok-besok lagi aja. Kalau kamu mau pulang jangan lupa tutup pintunya kalau mau nginep di situ kamarnya” tapakan tangga begitu cepat. Hartawati benar-benar tercincang hatinya melihat sahabatnya yang tetaplah sama.

Ia yang tanpa sadar terlelap karena berat menampung keperihan dalam hatinya tiba-tiba terbangun karena mendengar bel berkali-kali, siasat dari Hartawati yang tak bisa dibayangkannya lagi, namun ketika ia membuka mata ia kembali membeku melihat yang di hadapannya adalah kakaknya. Ada perasaan berbuncah kakaknya yang begitu sibuk bekerja ketika menikah yang selalu dinasehati terbaik karena istinya selingkuh, anaknya yang benar-benar tak menghormatinya, menemuinya, dengan perasaan benar-benar memiliki dan tak tersikut dengan pandangan remeh tentang dirinya, pertama ia menanyakan kabar, darimana dirinya hingga terjun permohonan maaf atas sikapnya selama ini, kakaknya yang mengerti pula meminta maaf bila terdapat keburukan yang disengaja atau tak, kemudian kakaknya segera menuju benih permasalahan. Mikail benar-benar terjerembab, tak mampu melakukan apapun lagi, pula mengumpulkan kekuatan sedapatnya dalam kelumpuhan dirinya. Kakaknya mengutarakan selama 3 tahun itu pula ia menyelidiki tentangnya, bukan perintah papa-mamanya, lalu-lalangnya di rumah, apa yang terjadi dengannya. Ketika Mikail menjawab tak ada apa-apa yang terjadi, kakaknya yang salah paham pula terlalu khawatir padanya kemudian kakaknya memanggil wanita yang ia ia ketahui, wanita yang datang itu perempuan yang pernah ia dapati bersama Hangrumangsawani

“Mik, kamu sadar Mik, kamu sudah disakiti. Jangan terima kamu diperlakukan seperti ini. Untuk apa lagi rumah tangga kamu pertahankan. Kakak tak habis pikir adik kakak diperlakukan seperti ini selama bertahun-tahun!” Mikail masih merasa mampu bertahan, seluruh udara serta keyakinan yang mampu ia hirup ia gunakan untuk menguatkan dirinya walau tak begitu besar. Ia masih bisa menyekat bobroknya rumah tangganya selama ia masih ingin menutup pula Hangrumangsawani tak mengatakan yang sebenarnya. Meskipun ia tak pernah menjamah Al-Quran sedikitpun, shalat selonggarnya, paling tidak ketika hari Jum’at saja, nilai agamanya yang paling buruk di masa sekolah ia pernah mendengar serta ingin menerapkan kisah menyentuh nabi Ayub, yang hingga ia merasakan ajal menjemputnya karena tak lagi mampu menahan sakitnya ia sempat berdoa pada Tuhan bila ini sudah akhirnya ia meminta jangan biarkan lidah serta hatinya hilang untuk memanjatkan doa padanya. Ia ingin terus memancarkan sinaran cahaya rumah tangganya walaupun ia tak bisa berpura-pura lagi. Ia tak ingin setitikpun keluarga ataupun orang lain mengkhawatirkannya. Keluarganya sudah melalui berbagai keburukan, keperihan serta kehinaan yang tak berkesudahan, ia ingin kini keluarganya melihat pula merasakan kebahagiaan yang terus bertahan. Karena ia tetap sama kakaknya lalu mengancam bila akan memberitahukan permasalahan ini pada keluarga mereka pula Hangrumangsawani yang kemudian membuat Mikail tertunduk, memeluk kaki kakaknya dengan air mata yang benar-benar tak ia buat, Mikail memohon agar ia menyelesaikan permasalahan rumah tangganya sendiri, ia yang tak lagi membaik-baikkan nama Hangrumangsawani, permasalahan yang sebenarnya berasal darinya, ia yang berjanji tak ada lagi hal-hal yang memerihkan selain kini, hingga ia meminta waktu sebulan pula ingin membuktikan bahwa kebahagiaanlah yang ada serta tiada dugaan selama ini. Kakaknya lalu mengerti pula memberikan kesempatan padanya

“Oke, Mas percaya dengan omongan adik Mas, namun bila semuanya terbukti berbohong, lihat saja apa yang Mas lakukan pada orang yang mempermainkan keluarga Mas!” ia tergopoh-gopoh pergi dengan wanita itu.

*

Hari hingga hari berlalu, batin Mikail menghitung genap sudah 7 tahun pernikahan mereka, pernikahan yang terus terbang entah dengan cara apa dalam laluan yang tak sama, dengan cara mereka tepat menuju kesempurnaan laluan. Mikail merasa tak salah memercayai sahabat atau teman-temannya yang hanya ingin melihatnya bahagia, teman-teman yang selalu ada karena ia tidak ada. Ia yang disarankan temannya untuk mengungkapkan seadanya serta melakukan apa yang ia bisa. Sekian lama Mikail terbang seorang diri tanpa henti, sekian lama pula ia memasrahkan segala keputusan kepada Yang Maha Penguji. Ia mulai mengamati upload-an IG Hangrumangsawani yang menarik dari biasanya. Ia membantu korban bencana alam dalam-luar negeri, membentuk komunitas anti vandalisme dengan membersihkan tempat-tempat wisata secara independen, menyelesaikan beasiswa S2-nya di Vietnam. Biarpun penerbangannya tak tentu arah atau menabrak tebing lalu terjatuh dari ketinggian, ia bersyukur mampu merasakan orang yang dicintainya menjadi diri yang lebih baik dan sukses, seakan itu lebih berharga dari mimpi-mimpinya sendiri selama ini. Orang-orang terpaku dengan Mikail yang memiliki aura berbeda dengan yang lainnya, serasa ia memiliki kekuatan yang baru entah dengan cara apa ia mendapatkannya. Di acara perayaan 6 tahun pernikahan sahabatnya Aprilia dan Yurika yang mengambil tema alam dan tradisonal di gedung pusat promosi potensi Sukoharjo depan alun-alun Sukoharjo begitu berkilau. Semua suguhan, hiburan, cinderamata, serta karya-karya dari masyarakat lokal yang sudah viral maupun tak viral di dunia maya. Spot terdepan diisi jamu gendong keliling pula peragaan yang menunjukkan perubahan cara olahan, penyajian, rasa jamu Sukoharjo yang melegenda sepanjang masa membuat tamu dari berbagai kalangan yang hadir melihat spot-spot unik lain. Serasa ada kesejukan lain yang ia nanti, yang belum ia rasakan ia memulai cerita baru pernikahannya di perayaan malam itu, usai persembahan duet lagu pemilik acara yang ia ciptakan sendiri yang begitu romantis tiba-tiba acara selanjutnya membuatnya terkejut, terkesima hingga tak mampu mangatakan apa-apa. Ia memakai pakaian yang tak begitu mencolok yang menggambarkan niatnya yang apa adanya, ia berdiri begitu tampan pula gagah, ia sosok yang belum dilihatnya lagi selama 7 tahun lebih, sosok yang tak akan pernah ia lepaskan dari perasaanya, Hangrumangsawani, ketika hadirin mulai bertepuk tangan ia mulai menegaskan kata-katanya dengan mix.

“Malam ini saya merasa bahagia sekali karena diberikan kesempatan untuk mengutarakan sebuah perasaan terdalam saya, bagi satu-satunya laki-laki yang berharga dalam diri saya, laki-laki yang benar-benar saya butuhkan, laki-laki yang benar-benar hebat yang telah mendampingi saya selama 7 tahun terakhir kini, sampai kapanpun saya tidak pernah bisa memberikan yang terbaik pada beliau, beliaulah yang mengajarkan pada saya tentang sekecil apapun usaha yang ia lakukan. Selama 7 tahun pernikahan kita tentu tidak mudah kita lalui dengan berbagai laluan yang belum pernah kita lihat, saya menginginkan beliau, Mikail untuk maju di sini menemani saya berdiri”

Mikail tertegun ketika ia, Hartawati, teman Hartawati bernama Yohan, menuntunnya maju dengan segera, tak ada yang bisa ia lakukan lagi. Sebelum ke depan ia geletakkan segelas jamu yang belum dalam diteguknya. Hangrumangsawani menatap begitu dalam, menggenggam tangan Mikail lalu mengelusnya, hadirin mengungkapkan keterpakuannya yang membuatnya malu pula tersudut. “Mikail… mulai hari ini saya menunjukkan keteguhan saya untuk lebih menyayangi dan mencintainya, saya menginginkan semua yang berada di sini mulai detik ini menjadi saksi, apakah kamu mau melupakan hal-hal terburuk, meningkatkan yang baik, memaafkan ketidaksempurnaan atau kesempurnaan saya untuk kedepannya yang lebih dihadapi”

“Hangrumangsawani, apa-apaan sih kamu, haruskah dengan cara seperti ini sih, iya aku mau, aku minta maaf karena banyak salah pada kamu, udah ya jangan kaya gini lagi” bisik Mikail. Hangrumangswani menegaskan lagi dengan mendekat lagi, “apakah anda mau dan berjuang tiada henti bersama saya?!”

Tak ada yang bisa ia lakukan lagi selain tersenyum, yakin, menjawab “iya, saya mau” kemudian terdengar kepuasan serta tepuk tangan dari hadirin, kemudian Hangrumangsawani melanjutkan dengan tegas, keras, dan menujum perasaannya “terimakasih telah menjadi suami yang sempurna bagi saya!!!” ia turun menggandeng dekat tangan Mikail, tak ada yang bisa Mikail lakukan lagi selain menerima yang ada, mengalirkan dirinya pada hal-hal deras yang bisa dirasakannya. Dalam hati ia berjanji akan terus meyakini bila Hangrumangsawani adalah pria terbaik yang pernah ia kenal, ia ketahui pula mendampinginya. Teman-temannya mengungkapkan selamat pula harapan terindah bila mereka saling menjaga, mengasihi, melengkapi satu sama lain, Hartawati mengisyaratkan penunjukan tempat yang kosong untuk berbincang, di tempat yang begitu sunyi namun tak jauh dari kemeriahan acara mereka meyakinkan kembali

Tha thứ cho tôi. Mong những điều tồi tệ trong quá khứ không bị lãng quên trong tương lai. cho tôi một cơ hội (Vietnam, artinya: Maafkan aku ya, semoga yang buruk di masa lalu tak terlalukan ke depannya. Beri aku kesempatan)” Hangrumangsawani mencoba memberi suasana baru dengan bahasanya yang baru. Senyum Mikail yang sebenarnya sudah fasih berbahasa Vietnam daripadanya tak memperlihatkan mengangkat kelunya.

Tangannya tak bisa melepaskan Mikail “Tôi đã sai. Tôi xin lỗi lần nữa. cảm ơn vì niềm tin của bạn cho đến nay (aku memang salah, sekali lagi maafkan aku ya, terimakasih atas keyakinanmu selama ini)”

14.41

17/10/2021

Jombor, Bendosari, Sukoharjo

Catur Hari Mukti

FB: Catur Hari Mukti

IG: @anti_main_stream

Kudakereta

Kudakereta

Kumpulan Cerpen

Catur Hari Mukti

ENDORSMENT

“Kudakereta, tidak hanya sekedar cerita, tapi ia membawa pembacanya pada sebuah petualangan imajinasi yang menembus batas realitas keseharian. Kisah-kisah dalam buku ini, memperkaya penafsiran kita akan makna kehidupan” Joni Ariadinata, Cerpenis Redaktur Jurnal Sajak dan Media Sastra Online basabasi.co

“Membaca kumcer ini, saya seperti berhadapan langsung dengan penulisnya. Gaya tuturnya yang medok, seolah sengaja dibubuhkan pada alur cerita. Dan disitu karakter Catur ditegaskan. Dia tidak sok memasukkan unsur barat, biar dibilang kekinian, layaknya anak muda lain. Namun sebaliknya. Problematik dan persoalan sekitar diri, adalah tema pilihan yang diimani. Diolah sedemikian rupa, sedemikian rasa. Lucu, seru dan itu… uniknya” Serunie Unie, Penikmat Sastra

“Kudakereta mengajak kita untuk merenungi pikiran dan perasaan penulis, lewat cerita-ceritanya yang terkadang, terasa sangat biografis” Bunga Hening Maulidina, Cerpenis

“Tuisan-tulisan Catur selalu membuatku terharu.” Ngadiyo, penulis Diplomasi Cinta

“Catur Hari Mukti, lelaki tulen asli  jawa yang mempunyai cinta, berwajah ganteng. Cerpen-cerpen beraroma  cinta  keluarga. Dia  tinggal  di Sragen. Dalam  kumcernya  menyebut beberapa tempat di Kota dia Tinggal. Kumcer  Kudakereta adalah  jiwanya dalam bersastra” Lukas  Jono, Penyuka  sastra  dari  Salatiga

“Catur adalah remaja Sragen yang bersemangat untuk terus belajar menulis, terlihat dari tulisannya yang terus mencari jati diri di jalan kepenulisan yang masih jauh dan panjang.” Selamat untuk kumpulan Kuda Dan Kereta” Puitri Hati Ningsih, Penyair dan Cerpenis, Penulis buku Sajak Bunga Vanili (2012), Pemenang 1 Sayembara Cerpen Femina 2010

“Cerita merupakan bentuk imajinasi dari penulis terhadap sekitarnya. Sekitar bercerita dengan gambar hidup, tugas penulis mesti mampu menuangkan sigi mata dan batinnya berimbang menorehkan tautan cerita berupa cerpen. Ada hal penting mana yang mesti ditonjolkan dan mana yang tidak, sehingga pembaca seakan membaca langsung kehidupan itu sendiri bukan berupa rangkaian tulisan si penulis cerpen. Di situlah cerpen ‘berhasil’ berbicara. Dalam kumpulan cerpen ‘Kudakereta’ ada benang halus yang hendak disampaikan sebuah keresahan terhadap apa yang dirasakan Catur -penulis muda terhadap lingkungannya. Atau boleh jadi hal ini semacam lontaran ‘kekesalan’ yang diterima namun tak mampu menolaknya. ‘Kudakereta’ menjadi judul yang ‘sengaja’ dipetik oleh penulis atau memang di situlah awal keresahan yang paling ‘privacy’. Terlepas dari itu semua ‘belajar’ mengasah kepekaan dan ‘taste’ dalam menulis adalah hal yang patut dikedepankan oleh siapapun yang dengan sadar mengambil kepenulisan merupakan bidangnya. Sehingga ‘rasa’ tulisan dibaca seperti sedang mengunyah kudapan di sore hari sambil menikmati semilir angin yang sebentar lagi disapa hujan sebagai pengantar ‘merah saga menutup tirainya’. Begitulah kiranya suguhan cerpen hendak disajikan penulis. Akhiru kata, tak banyak lagi uraian bahwa penulis muda penulis yang bergejolak akan kepenerimaan pada apa yang ‘menyentil’ hatinya. Teruslah bertumbuh ibarat kembang sepatu yang merah menyala tak bagus memang di jambangan untuk menyaksikan lalu lalang ‘fragmen’ kehidupan. Kembang sepatu tak terlalu dipuja orang namun menyihir orang-orang yang lewat untuk meletakkannya di telinga sebagai persembahan ‘cinta’ dari kesederhanaan hidup itu sendiri. Keep a writing Catur, you have a tasteful for a story that you make more and more. Rasa lahir dari seseorang yang terus dan terus mencoba namun ‘soul’ adalah penjawab yang tak bisa dipetik dimanapun. Ia datang dari diri yang ‘memiliki’ bak sebuah anugerah.” Siti Khodijah Nasution- September 2016-Penulis, Penikmat Puisi, Guru

“Adalah sebuah riak-riak kisah yang akrab terjadi pada kehidupan manusia. Jika dari sebagian kisah berikut seperti pernah kita alami, sesungguhnya hal itu sebuah tanda bahwa fiksi adaah kehidupan kecil kita.” Yuditeha, penulis Buku Kumcer Balada Bidadari, Penerbit Buku Kompas 2016

“Baca tulisan Catur ini serasa minum kopi di pegunungan” Abednego Afriadi, Penulis, bekerja di Timlo Net

“Ibarat melukis, saya seolah disuguhi cat air dengan satu warna. Namun setelah membaca kumpulan cerpen ini, saya merasa memiliki peran yang berbeda-beda dalam mengekspresikannya. Seakan satu warna tadi mampu membuat saya melukis puluhan rupa. Istimewanya, kumcer ini menggambarkan sisi kehidupan penulis dengan latar belakang “wong Sragen” serasa terbalut nuansa budaya. Saya rasa, cukup berhati-hati sebelum mencicipi buku ini!” Mutia Senja, Penyair yang besar dan tinggal di Sragen

“Saya mengenal Catur Hari Mukti di Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen. Sejak SMP Catur memiliki hobi menulis. Menulis puisi dan cerpen adalah menu kesukaan yang dia tekuni sampai saat ini. Perpusda Sragen adalah salah satu tempat favorit remaja ini untuk menuliskan rasa dan karsa menjadi secarik puisi atau cerpen. Catur adalah potret remaja unik. Di usia belia sudah gandrung menulis puisi dan cerpen dengan tema yang jauh melompati usianya. Saya pernah mengkhawatirkan hal ini. Namun waktu membuktikan bahwa fenomena “kepunjulen ini” masih dalam batas yang wajar. Artinya, cerpen atau puisi adalah sebuah refleksi dari kenyataan yang terekam oleh penulis dan diolah sesuai dengan alam kreasi dan imajinasinya. Satu hal yang bisa dipetik dari Catur adalah kesediaannya berbagi ilmu dengan sukarela. Tanpa harus menunggu ilmunya berlimpah ruah. Justru dengan rajin berbagi ilmu maka kemampuan menulis seseorang akan menjadi semakin matang. Selamat berkarya Anak Muda !!” Romi Febriyanto Saputro, Penulis, Pemenang Artikel Writting Contest Bisnis Indonesia 2014

“Meski mereka orang-orang biasa, kisahnya sungguh luar biasa. Jalan cerita yang sulit ditebak, tokoh yang unik namun sekaligus membumi, seakan mereka dekat dengan kehidupan kita. Catur Hari Mukti dengan piawai membawakan cerita demi cerita dengan luwes, menyelipkan kekayaan budaya lokal dan jeli mengamati keadaan sekitar. Akhir kata tiada lain yang bisa saya sarankan selain selamat menikmati renyahnya kumpulan cerpen ini, dan resapi makna yang terkandung di dalamnya” Indri Hapsari, Penulis, Pemenang Sayembara Cerpen Femina 2015

“Membaca cerpen Kudakereta kita diajak mengenali pelbagai peristiwa yang dikemas rapi dan membikin mata berbinar dan hati berdecak kagum. Kabar gembira bagi Indonesia dengan lahirnya kumpulan cerpen pemuda ini. Tabik!” Wahyu Wibowo — Penjual Buku

PENGANTAR PENULIS

Saya sangat senang sekali karena mampu menyelesaikan kumpulan cerpen berjudul “Kudakereta” yang dihimpun bersamaan cerpen-cerpen lainnya yang berasal dari inspirasi semua yang berada di sekeliling kita. Ada beberapa kisah yang saya ambil dari pengalaman atau perjalanan hidup teman saya yang membuat saya sigap dan tak mungkin tak menuliskannya karena saya juga berpikir bahwa yang saya tulis belum tentu berarti. Menulis terkadang yang memompa kita untuk terus menulis. Terkadang menulis juga mengajarkan bahwa kehidupan harus dijalani, harus dialiri, karena di sela-sela kita tercebur, terseret, dan bertemu dengan benda-benda kecil yang bersalaman dengan kita, kita masih memiliki cerita baru. Kumpulan cerpen “Kudakereta” tentunya tak mungkin tak selesai tanpa semangat, dukungan, dan harapan, orang-orang terdekat saya, orang-orang tercinta. Karena dengan menulis pula kita yang merasa orang-orang bersama kita menulis dan terus menulis.

Sragen, 16:24

24/08/2016

DAFTAR ISI

  1. KUMBANG BERCULA SATU
  2. TAJWID TERPENDAM
  3. BEJAJI
  4. KUDA DAN KERETA
  5. LELAKI MAGENTA
  6. KINCIR DUKA
  7. AYAHKU, KAKAKKU
  8. SENJA DI SISI BENGAWAN
  9. SEBUAH PERAN
  10. SI MASAM LIDAH

Untuk Mas Habib Ahsani, sosok yang selalu memberiku kekuatan

KUMBANG BERCULA SATU

Di stasiun TV lokal lebih menayangkan orang yang berkerumun menyaksikan acara jumpa pers bupati Sragen beserta staff jajarannya dan temu Mas dan Mbak Sragen, dengan ombaknya yang tsunami. Di luar Pendopo Sumonegaran1 itu tampak liputan mobil-mobil stasiun TV berdesingan dengan suara sirene polisi melangkah. Mas dan Mbak tahun ini benar-benar menarik kekaguman dan kebanggaan masyarakat. Seminggu yang lalu Mas Sragen, Harimurti menyabet gelar sebagai Mas Jateng, di ajang Pemilihan Mas dan Mbak serupa di provinsi. Dan kostum terbaik rancangan desainer ternama Sragen berjudul The Chronicle of Sangiran memenangkan best national costume dalam National Costume Competition tingkat Asia. Membuat Harimurti dan Sragen semakin dielu-elukan oleh masyarakat luar-dalam. Sementara Levi, Mbak Sragen tahun ini  menyabet Juara Kepribadian dan Juara Favorit Pemilihan Mas-Mbak Jateng tahun ini.

Tampak wartawan memberikan pertanyaan kembali. Kali ini pertanyaan itu untuk Levi yang duduk dengan gemulai dan senyum menawan, di sampingnya.

Setelah ia sukses ditanya dan Levi ditanya bagaimana kesuksesannya meraih gelar Mbak terbaik di Pemilihan Mas-Mbak Jateng pemilihan tingkat provinsi, kini ia ditanya tentang kesiapan Putra-Putri Sragen dalam mensukseskan acara HUT Sragen ke 289 yang akan segera berlangsung.

Harimurti mencoba mengikuti sejauh alunan renyah kata-kata Levi tersebut. Keringat nampak berleler dalam balutan make up wajah dan baju kutubaru2nya itu, namun mencoba ia sembunyikan tak merasa leler keringat itu mengalir.

 “Tentunya seluruh kepariwisataan dan kebudayaan di Sragen yang diusung menjadi tema karnaval budaya tahun ini. Karena dengan kita semakin mengenalkan kepariwisataan dan kebudayaan di Sragen, maka Sragen akan terus maju”

Kemudian terlihat Bapak Bupati Sragen menyahut mix-nya dan menambahi penuturannya. Senyum dari Levi yang mencoba tak ia benamkan dari penjelasan yag amat terperinci itu. Seluruh apa yang dilihatnya merunduk seketika, mata yang menatap pemandangan depannya tersebut mendesir-desir. Mengapa bukan ia yang teresap permasalahan Gusti! Mengapa orang lain saja yang mampu merasai kesalahan dalam kehidupan mereka?

*

Hingga kini ia belum mampu menemukan permasalahan dalam dirinya. Seperti apa permasalahan itu hanya terbesit dalam wajah orang-orang yang dibatinnya. Di teras pendopo yang selalu menemaninya di kala sore, ia mengingat bagaimana ia kini berada di pendopo itu. Pendopo yang hanya dihuni oleh keluarga bupati, dan kalangannya, walau di pendopo itu juga menjadi tempat acara-acara pertemuan, pentas, berlatih kesenian. Sebagai seorang Putra atau Mas Sragen yang terpilih dalam ajang Pemilihan Mas-Mbak Sragen yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Sragen, ia tinggal di pendopo itu. Sembari menunggu agenda-agendanya bertugas sebagai seorang Duta Wisata Sragen, mengikuti dan mempersiapkan latihan untuk ajang pemilihan-pemilihan serupa di luar, dan menyelesaikan pendidikannya di UNS fakultas Hukum dengan diantar-dijemput mobil hitam berplat merah. Menjadi Putra Sragen selain lolos seleksi dan dinobatkan saat malam grandfinal, ia adalah asli warga Sragen, berusia 17-24 tahun dan belum menikah. Walaupun orang seakan melihatnya sebagai raga yang utuh namun jiwanya melayang bebas, ia hanya ingin menemukan permasalahan dalam kehidupannya. Seperti angin dan cahaya langit yang tak pernah berganti menemaninya di soko guru teras pendopo itu, selalu membayangkan yang sama.

Tiba-tiba bayangannya redup seketika ketika menatap Yu3 Inno dan Kang4 Didik, pembantu di pendopo ini yang merupakan suami-istri, bertengkar dengan mengacungkan sapu lidi di Ngarsa Dalem5 Pendopo tersebut. Mereka memang sering bertengkar. Bahkan Harimurti merasa tentram dan bahagia jika menatap tingkah keduanya tersebut, meski tak merasuk di kehidupan keduanya. Walau ia belumlah menjadi seseorang dan memiliki kehidupan yang sejati seperti mereka, Harimurti selalu mendapatkan ketentraman.

 “Kamu ini gimana tho, Kang, lha pesannya aja motif Gajah Birawa kok. Bukan Babon Angkrem. Gajah Angkrem itu nggak ada. Jadi penjualnya ngambilin Babon Angkrem deh” Yu Inno ingin meletuk wajah dan kepala suaminya tersebut.

“Udah aku bilangin dari tadi. Aku itu bilangin Gajah Birawa. Tapi penjualnya nyoba jelasin ke tuan kita, siapa tahu motifnya ada samanya dengan motif milik Gusnganten6

Kemudian Kang Didik hanya terdiam, seakan membiarkan ia yang salah. Lelaki memang yang terlihat selalu serba salah. Namun dengan keserbasalahan dan lumuran pencurigaannya itu, yang tak pernah dimilikinya, menjadikan lelaki gagah dan indah.

Kemudian ingatannya hanya terlintas pada pemandangan yang mengantarkannya pada kehidupannya yang saat ini. Ibunya dulu adalah pemilik warung jamu di belakang Pendopo Sumonegaran ini. Ia anak satu-satunya. Menjadi Putra Sragen itu juga bukan paksaan dari dirinya atau ibunya, memang ibunya selalu mewanti-wanti atau menasehati jika sebelum, setelah, dan sesudah mengikuti kegiatan Pemilihan  Putra-Putri Sragen ini, ia harus terus berjuang, belajar, dan menjaga sikap, terlebih jangan sampai menjalin hubungan dengan Non Lulu, yang dikenalnya sebagai putri tunggal bupati Sragen selama mereka tinggal di lingkungan pendopo ini. Non Lulu yang usianya 4 tahun lebih tua darinya, Harimurti 18, yang memiliki hobi menjelajah atau menari tradisional seperti dirinya, tengah menamatkan pendidikannya di Australian National University. Ibunya tak ingin karirnya sebagai Putra Sragen anjlok dan dicemooh oleh masyarakat karena dikira mendekati Lulu, putri bupati Sragen yang konon tengah dijodohkan oleh putra bungsu presiden seorang pengusaha di Solo. Dan sejak itulah ia rela mundur. Namun kemundurannya mengakhiri hubungan cinta dengan Lulu itu bukan karena keinginan ibunya, bukan pula keinginan hatinya. Mungkin karena keinginan masyarakat yang ia anggap sebagai peneduh hatinya dengan permasalahan-permasalahannya. Dengan permasalahan-permasalahan yang dimiliki masyarakat membuatnya bersemangat untuk menghapus permasalahan mereka serta merangkul mereka.

Sepanjang ia menjabat sebagai Putra Sragen sebelum digantikan oleh Putra-Putri sesudahnya, ia bekerjasama dengan pemerintah mewujudkan Sragen sebagai kota budaya dengan mengembangkan kebudayaan lokal, pendidikan seni dan mensukseskan acara-acara seni.

Di malam hari yang larut, di ruang tengah dalem Pendopo Sumonegaran ia ditemui oleh Mas Exsar, sopir Putra-Putri Sragen yang selalu bersama dimanapun dan Mas Exsar yang selalu mengobrol dengannya, tengah menemuinya menyaksikan TV lokal, melihat suasana di Jalan Raya Sukowati 4 kilometer dari Pendopo Sumonegaran didekorasi untuk karnaval besok. Biasanya dalam HUT Sragen agenda pemerintahan adalah karnaval batik di Jalan Raya Sukowati, festival dolanan bocah, potong tumpeng tepat pada tanggal HUT Sragen 25 Mei, dan karnaval budaya yang paling meriah karena dihadiri antusiasme masyarakat dan seluruh jajaran pemerintah karena berbagai penampilan dinas dan instansi-instansi Sragen yang melakukan parade, dan terakhir adalah Pemilihan Putra-Putri Sragen.

Orang-orang selalu merangkul, memeluk dan melulurkan curahan hati di tubuhnya, Mas Exsar beberapa hari lalu bercerita jika ia tengah dirundung masalah dengan istrinya. Ia adalah tape recorder dari seluruh apa yang dibicarakan oleh orang-orang. Mas Exsar dicurigai istrinya bermain dengan perempuan lain karena setiap hari Minggu yang kebetulan tidak pulang lagi. Belum lagi ia yang gajinya pas-pasan harus membiayai istri dan anaknya yang mulai tumbuh. Istri Mas Exsar pergi ke rumah orangtuanya, belum lagi di rumah kerabatnya, belum lagi di rumah temannya, beberapa hari yang lalu mereka telah berusaha mencari.

Saat keluar pendopo dengan berpura-pura mengantarkan Putra Sragen di acaranya, Harimurti menatap laki-laki kumal dengan gendongan kain yang tersenyum menatapnya. Laki-laki itu tak pernah luput ia lihat berdiri di saping patung Kala gerbang pendopo.

Besok agendanya untuk menemani bupati dan beberapa pegawai pemerintah ziarah ke makam Pangeran Sukowati, pendiri kota Sragen, dan seharinya ia dipanggil oleh Dinas Pariwisata Jawa Tengah  menghadiri promosi kebudayaan lokal kota-kota Jawa Tengah. Ia pun tak boleh lama pergi dan harus segera kembali untuk mempersiapkan dirinya.

“Dek, ayo pulang yuk. Kamu kenapa kok masih curigaan gini sih” Mas Exsar berusaha menyentuh hati Claudia, istrinya itu, tampak Mas Exsar menggendong Fineza putranya berusia 2 tahun menangis.

“Gak… sekalipun kamu jelasin kaya gitu, sekalipun kamu datang kemari, aku nggak bakal ketipu sama kamu Mas!”

“Ih! Gak usah sok kalem dan baik sama aku gitu deh! Bikin aku curiga sama kamu Mas?” Exsar hanya menenggelamkan pandangan istrinya yang ia selalu serba salah dan terus menenggelamkannya. Andai Harimurti bisa mengalir dalam derasnya aliran itu.

“Lha kamu maunya gimana?”

Setelah Exsar memanggil Harimurti dan membawa di depannya, kemudian suasana tersunyi.

*

Siang setelah ia meluncur dengan mobil hitam bersama bupati dan staff jajarannya lain, juga dengan Levi, dengan senyum dan lambaian masyarakat yang melihat itu, mereka meluncur menuju Dinas Pariwisata Sragen yang tengah menyelenggarakan karantina pertama Finalis Putra-Putri Sragen yang dipersiapkan menuju Grandfinal Pemilihan Putra-Putri Sragen.

Ia tak tahu kenapa ia bisa mengalir di tempat itu. Terpilih, mengikuti even-even pemilihan lain, menjadi Putra Sragen, dan akan segera melepas selempang dan kerisnya kepada putra yang selanjutnya akan terpilih.

Dulu ia seorang penari jaran kepang. Melihat kelihaiannya dalam menari, mungkin Kang Supri dukun yang selalu berkeliling desa dengan sebelah mata buta dan pincang sebelah kakinya, memanggilnya usainya berlatih menari.

“Gusnganten…” saat itu usianya baru 12 tahun, ia terperangah ketika suara itu tampak tertuju menghadapnya. Gusnganten hanyalah panggilan untuk mas-mas yang tinggal di ngarsa dalem pendopo yang selalu dilihat dan diketahuinya itu.

“Bukan Kang Supri… Aku Harimurti”

“Aku manggil kamu Le Cah Bagus…

Harimurti melangkahkan kakinya. Mereka berbincang setelah mendekat. Jaranan yang disandarkan di soko guru pendopo, yang kini masih utuh, selalu menjadi saksi kegetiran hidupnya hingga saat ini.

“Senyumnya Gusnganten itu sudah seperti senyum Putra-Putri Sragen. Gerak-gerik Gusngenten itu gerak-gerik Putra Sragen”

“Nanti kalau Gusnganten sudah terpilih, Gusnganten harus memberikan yang terbaik ya bagi Sragen. Jangan seperti Putra-Putri sebelumnya yang terpilih kerena mereka keluarga orang terpandang dan pejabat. Masyarakat kini selalu menunggu kehadiran Gusnganten”

Kang Supri terus berkata-kata lalu mendendangkan tembang-tembang Jawa, segala sesuatu yang Harimurti tak mengerti

Dan lamunannya kini dihadapkan oleh Finalis Putra yang nampak mendekatkan langkahnya di sampingnya dengan wajah panik. “Mas, gimana ini. Aku nggak bawa nomor peserta hi… nomor pesertaku ketinggalan”

“Gak… gak mungkin. Kamu disiplin kok. Gak mungkin nomormu ketinggalan” perkataan Harimurti yang bercampur intuisi itu berbaur dengan rasa panik salah seorang finalis itu yang mungkin ia ketakutan jika nilainya berkurang selama karantina oleh tim penguji.

Kemudian mereka mencari di tas, di tempat para finalis terpilih menaruh tas dan barang-barangnya. Harimurti menemukan nomor di lipatan buku finalis dalam tas itu. Setiap apa yang kita usahakan pasti membuahkan hasil. Malang, Harimurti tak pernah merasakan hal itu.

*

Di sore hari, di taman rumput yang dipenuhi kumbang depan Pendopo Sumonegaran itu, manarik langkah kaki Harimurti yang terduduk di tempat gemelan dekat pendopo. Dengan tubuhnya yang hanya berbalut jarik itu, keris terselip di jarik itu, aroma menyan dalam anglodi sekeliling pendopo menyeruak. Angin mendesir membelai tubuh dan dadanya.

Harimurti bersimpuh di tanah. Ia terpaku mengamati kumbang-kumbang itu. Semua berwarna hitam hanya beberapa yang biru. Diraihnya kumbang hitam dan kumbang biru itu. Semua bercula dua. Harimurti menengadahkan kepala ke awan. Hanya dirinya yang bercula satu. Dibiarkannya kumbang itu melangkah, terjatuh, dan diraih di sekujur tangannya kembali. Harimurti tampak iri menatap kumbang-kumbang itu.

Lalu hujan datang dan ditemani oleh guntur dan amuk angin. Hujan turun deras membasahi tubuhnya, awan gelap menggelapkan tubuh putih langsatnya, dan angin yang bertiup menyapu daun-daun membuat kumbang-kumbang bersembunyi di balik rerumputan. Harimurti menginginkan hujan yang deras, guntur yang menggelegar dan angin yang kian mengombang-ambingkan alam, terus mengguyurnya tanpa henti selaksa permasalahan dalam hidupnya.

Saat hujan reda, ia ingin hujan itu kembali. Kumbang di genggamannya ia taruh di toples. Jariknya luntur. Saat ia tertidur dan terbangun nanti ia berharap mencari-cari, menangis, menyesal kenapa ia tak menutup toples kumbang itu, sebagai permasalahannya.

Pagi harinya para penghuni Pendopo Sumonegaran pecah. Jarik Putra Sragen luntur yang akan dikenakkan ditemukan. Padahal karnaval budaya HUT Sragen akan berlangsung siang nanti. Harimurti berharap ia yang disalahkan, namun para penghuni pendopo terus terlihat berlarian, berkoar-koar satu dengan yang lainnya. Pendopo bagaikan daun kering kerontang yang tiba-tiba terbakar tersambar terik matahari. Harimurti tampak terpasung dalam kamarnya ketika ia berkali-kali menjelaskan ia tak disalahkan, dalam kerumunan para penjaga pendopo lain, Kang Didik, Yu Inno, dan Gusti sepuh.

“Maaf Gusti. Semua ini salah saya. Seharusnya saya yang mencari jarik di Kampung Kliwonan sendiri. Saya tidak tahu kalau jarik yang dipakai Gusnganten bahannya jelek” Yu Inno tampak menunduk. Dari garis matanya ia mengingat, itu sudah menjadi garis hidupnya, bukan hanya dirinya saja, tapi semua perempuan. Perempuan terlahir dengan permasalahan. Sempurnanya seorang perempuan jika ia memiliki masalah, jika ia tidak memiliki masalah ia bukanlah perempuan.

Namun Harimurti berharap jarik bermotif Gajah Birawa yang dikenakkannya itu tidak ditemukan di toko batik manapun, biar batik itu hilang, pentas tidak jadi, dan ia disalahkan.

Kang Didik lalu terlihat agar yang disalahkan itu dirinya, bukan istrinya. “Ini salah saya, Gusti. Saya yang sengaja memilih kain yang bahannya buruk…”

“Kakang…” dada Yu Inno mencuat, seluruhnya bergetar, tapi ia terlihat kuat menghisap permasalahannya dalam hidupnya seperti hari-hari yang mencoba ia jalani.

“Cari jarik yang sama itu sekarang!” begitu ucap Gusti sepuh lantas pergi. Gusti sepuh, kepala pendopo yang otoriter dan tak segan-segan memecat pembantunya itu meninggalkan teras pendopo.

Kemudian jarik dengan motif yang sama, Gajah Birawa itu, ditemukan oleh salah satu penjaga pendopo yang menemukannya di cetra batik daerah Sragen 2 jam sebelum karnaval dimulai. Menunggu jarik itu di-wiru7, dengan tertunduk Harimurti dan Levi dirias mengenakkan beskap dan kutubaru layaknya pengantin Jawa. Levi juga tampak dipaes, mengenakkan sanggul, mahkota permatanya sebagai Putri Sragen, dan selempangnya. Setelah merias, sang perias yang telah sepuh tampak menjampi-jampi Levi dengan kepulan asapnya rokoknya, agar aura Levi tampak bersinar.

Sepanjang Jalan Raya Sukowati ditutup oleh pengendara, yang dikerumuni oleh segenap masyarakat Sragen, di udara yang panas karena telah dialihkan hujan oleh sang pawang tampak meriah. Harimurti dan Levi duduk mendampingi bupati dan pejabat-pejabat lain serta tamu dari luar sebagai Duta Sragen.

Acara dimeriahkan oleh tari massal jaranan yang dilakukan oleh pelajar SD kota Sragen, teaterikal Pengeran Sukowati dan Mangkubumi saat mengusir penjajah, dan yang ditunggu-tunggu yang membuat Jalan Raya Sukowati bagaikan bunga-bunga dan kumbang yang kian bersliweran lalu meledak dalam derap angin adalah, penampilan Putra Sragen, Harimurti, yang mengenakkan The Chronicle of Sangiran, kostum nasional berbobot 25 kilogram, yang mengambil tema museum manusia purba Sangiran yang merupakan sektor kepariwisataan terbesar kota Sragen, yang memenangkan best national costume Asian. Harimurti tampak tersenyum, dengan gagah dan gesitnya cartwalk membawa costume itu. Di antara suara musik yang bergetar di jalan raya itu, orang-orang semakin histeris dan meneriakkan namanya.

Saat karnaval usai, saat ia mengganti pakaiannya, ia menerima panggilan yang bergetar di Samsung Galaxy Nexusnya. Panggilan itu dari Lulu, mantan kekasihnya, dengan nomor baru. “Gusngenten selamat ya kamu terpilih menjadi Mas Jateng. Gimana Gusnganten jariknya? Semua penghuni pendopo sudah tau Gusnganten kalau jarik Gusnganten luntur. Gimana? Koran atau TV pasti meliputnya lho ” ada sedikit rindu yang tak terbesitkan. Perkataannya sedikit menggoda. Andai saja jika ia membicarakannya saat yang tepat, pasti membelalakkan mata, tercengang, dan malu, serta perasaannya akan bercampur aduk. Dan itu satu dari permasalahan yang akan ditemukannya, sepanjang kehidupan, kehidupan penuh perjuangan yang dinantikannya.

*

Malam Grandfinal penobatan Putra-Putri Sragen yang dilaksanakan di Alun-alun Sragen, Alun-alun Sasana Langen Putro. Gemuruh badai masyarakat dan tamu undangan menyatu dengan denting suara gemelan di setiap rentetan acara. Dalam malam penobatan Putra-Putri Sragen itu tampak mantan Putra-Putri Sragen sebelumnya hadir. Berbeda dengan grandfinal pemilihan dirinya dinobatkan, dilangsungkan di Gedung Sasana Manggala Sukowati, kali ini grandfinal pemilihan mengusung tema outdoor. Ia tak ingin memikirkan jika ia yang tiba-tiba terseret dalam aliran deras Putra-Putri ini, mencoba, menjadi Putra yang benar-benar dinobatkan memenuhi dan membuktikan kemauan ibunya, dan beranjakdari aliran begitu saja.

Di balik panggung, saat di luar Finalis Putra-Putri Sragen berjalan merebut penampilan dewan juri menjawab pertanyaan usai, saat Harimurti hendak berjalan keluar menobatkan pemenang dari keputusan dewan juri yang telah ditetapkan, tampak ia bertemu dengan laki-laki kumal yang biasa dilihatnya di luar gerbang pendopo itu, yang mengaku sebagai simpatisannya. Petugas terpaksa mengabulkan keinginannya karena ia terus merongrong, yang berjalan kaki berkilo-kilo dari ujung jauh Sragen hanya untuk menemui Putra Sragen.

Laki-laki kumal itu memberikan hadiah kepada Harimurti sandal dari bulir padi berbungkus. “Gusnganten, walau nggak lagi jadi Putra Sragen, kami selalu dekat dengan Gusnganten. Gusnganten membawa nama Sragen dan kota ini jadi lebih baik lagi. Jarang orang baik yang peduli masyarakat seperti Gusganten” kemudian dibiarkannya tubuhnya dipeluk oleh laki-laki kumal itu, matanya berkaca menengadah di atas, seluruh apa yang dikatakan dan diluapkan orang-orang itu akan mengalir di hatinya.

Di panggung dengan lampu yang berkedap-kedip dimanapun itu, dengan suara yang mendebarkan, saat ia berjalan di antara finalis, ia pun menancapkan kerisnya dan memberikan selempang yang digenggamnya, bercampur dari sorak puas dan tepuk tangan penonton. Ternyata yang dinobatkan menjadi Putra tahun ini adalah orang yang pernah dibantunya itu. Tangis dan keterkejutan darinya membuat dada Harimurti berdegungan. Ia telah purna menjadi Putra Sragen.

Di lapangan alun-alun yang menjadi tempat penonton, tampak terlihat ibu-ibu yang menggendong anaknya yang menangis meminta mainan, laki-laki tukang becak yang tersenyum menyaksikan acara itu walau ia tak kebagian tempat di tepi Alun-alun, serta karyawan dinas yang mendapatkan teguran karena satu kesalahan kecil. Harimurti merasakan kehidupan kedua mengalir di tubuh semampainya.

Aku kumbang bercula satu

Pagi berwarna hitam, sore berwarna biru

Tak kutemukan diriku

Karena aku kumbang tak biasa

Ganjil, bercula satu

Sukoharjo, 01-03-2016

17.52

KETERANGAN

  1. Pendopo Sumonegaran: Pendopo Dinas Bupati Sragen
  2. Kutubaru: Busana tradisional perempuan Jawa
  3. Yu: Sebutan perempuan Jawa muda
  4. Kang: Sebutan laki-laki Jawa muda
  5. Ngarsa Dalem: Rumah istana paling depan
  6. Gusnganten: Panggilan laki-laki muda yang disegani atau berpengaruh di masyarakat
  7. Wiru: Jarik yang dibentuk lipat tengahnya dengan disetrika untuk dikenakan

TAJWID TERPENDAM

Kususuri kehidupan di antara lekukan sisiran rambut anakku. Semua telah kutemukan di sini, ya di hatiku. Mungkin garis Tuhan berkata lain dan aku tak tahu di balik garis Tuhan itu apa, mungkin di semua bagian laki-laki yang mengetahuinya. Kehidupan memang seperti ini, terdapat berbagai macamnya. Ada yang suka-duka-baik-buruk. Dan hal tersebut tidak akan tidak indah bila tidak sama. Suara rentetan yang meluncur di secepat aku menyisir rambut Kezia, putri pertamaku, membuatku menegadah di pijakan kaki yang tiba. Halima adalah istriku, ia perempuan karir. Aku sangat bangga, membuang bayangan buruk rasa pedih, masa-masa lalu, bayangan indah takdir Tuhan tercuat yang itu kuukir menjadi rasa senyum.

“Pa, yang warnanya pink aja, Pa. Kezia nggak suka” dari letasan kata-kata Kezia yang menggemulaikan tanganku itu terdengar Rafif, putra keduaku yang telah berkata sedari tadi menunggu di goyangan pintu depan.

“Pa, cepetan Pa berangkat. Rafif sudah telat” aku hanya mengisyaratkan mata berkemerah-merahan-putih tenang di lintasannya lalu tertuju pada high heels mamanya yang tertujum jelas.

“Mas, aku berangkat ke kantor dulu ya. Di dapur udah ada sayuran, nanti dimasak. Anak-anak sama kamu ya. Nanti jemputnya jangan telat lagi. Oh ya nanti jangan lupa bikin pisang goreng, pisang gorengnya dibalik dua kali. Kalau nggak dua kali aku nggak mau lho Mas” dari sisiran rambutku yang memandangnya memasukkan tissu ke dalam tas hitamnya, kualihkan pada mata Dzaky yang aku terkejut, meski sudah biasa, tangan Halima menyingkirkan genggaman tangan Dzaky yang meraup-kibas-kibaskan gamisnya.

“Ma, Dzaky mau dianterin sama Mama dong. Dzaky pingin bareng sama Mama”

“Ih, Dzaky, Mama kan ke kantornya telat. Mana jauh lagi sekolahnya. Udah sama papa aja” ada secercah cahayanya yang menerpa mata menuju batinku. Dengan memendam masa-masa lalu, dan ingin semuanya membaik, pelan kudekatkan diri membisikkan pada Halima yang ia sendiri berusaha menahan hati, mendengarkan kata demi kataku saksama.

“Eh, kamu jangan ngomong kasar dong. Ngomongnya pelan-pelan aja” Halima pun melembutkan katanya dengan berkata pada Dzaky yang hanya mengacakan matanya. Aku bernapas lega. Lalu semua berlari, bagaikan bayangan jauh yang melorongkan diriku. Menembus hampa. Aku berada pada cahaya yang kosong. Hanya terasa kedipan, dan terus sisiran di rambut anakku. Mungkin mobil yang melaju, bayangan-bayangan Halima, istriku, dan kata-kata terakhir yang kudengar dari epilog di mimpi itu.

“Dzaky, Mama minta maaf. Mama harus ke kantor dulu ya. Kamu sama papa. Mama berangkat dulu ya Nak ya” setelah ia pergi, dengan ingin menghapus air mata dan kejut diri di tubuh anak-anakku itu, kupeluk, kubisiki, kunasehati hangat di antara tatapan Dzaky.

“Mama telat Sayang, mungkin besok kalau nggak telat lagi bisa nganterin lagi. Dzaky senyum dong. Anak papa …”

*

Aku sudah berusaha menabahkan pandangan dari ayah, yang ibuku juga penghasilannya lebih besar dari ayahku, yang bahkan lebih parah mengatur-atur ayah dan menentukan hidup kami. Tapi ayah pernah mengajarkanku dan memberikan petuah bagiku, jika kita tidak akan pernah tahu kehidupan ke depan yang kita lihat dari kehidupan ini, semua sudah ada jatahnya, rezeki, jodoh, dan kematian, dan kita harus membangun kehidupan kita sendiri karena sebesar-besarnya kekuatan Allah tetap yang membangun seperti apa kehidupan indah itu adalah dengan tangan kita sendiri. Dan walau aku pernah merasakan pedih, tak mampu memberikan nafkah kepada keluargaku karena pilihanku mengizinkan Halimah bekerja dengan pemikiran akan membantu menopang kehidupan keluarga yang memang penghasilanku sebagai guru sekolah dasar tak cukup membiayai perencanaan anakku yang kukira lahir dua menjadi tiga dengan kelahiran Dzaky saat ini. Dan aku bukanlah laki-laki yang langsung berfikiran buruk dan tidak mengizinkan istriku, yang tiba-tiba mendapatkan beasiswa S3 karena memenangkan lomba kepenulisan yang diadakan oleh BNI. Menolak, dengan perasaan yang tidak wajar, berarti mengelak rezeki yang diberikan Tuhan. Mungkin Tuhan memberikan rezekinya saat ini lewat jalan ini. Bergitu pikirku. Dan selama 8 tahun kehidupan kami berkerumun masalah, Halima yang tidak mau memasakkan makanan untuk anak-anak karena ia lelah bekerja dari pagi hingga malam setelah usai lulus ia bekerja di perusahaan Jepang, memilih untuk lebih membawakan makanan di luar, Dzaky yang selalu menangis di usianya yang ke tujuh tahun karena ingin dekat dengan ibunya setelah melihat teman-teman lainnya yang lebih dekat dengan ibunya, aku yang mengurungkan dia yang ia ingin mendengar bahwa jangan terlihat lebih mengatur-atur dan memerintah di depan anak-anak dibanding aku, dan di seluruh kehidupan kami yang selama itu terlihat selalu dan kian selalu dipenuhi masalah, entah besar-kecil, aku yang tiba-tiba mengantarkan Dzaky ke kantor Halima di jam kerjanya karena menangis dan ingin bertemu, ternyata kecelakaan mobil, membuat aku dan Halima sadar. Membuat Halima kulihat lebih merenung tentang kehidupan kami. Ia pun menangis memeluk kami, dan berjanji akan lebih memperhatikan keluarga. Setelah bertawar-menawar pihak perusahaan Halima memperbolehkan bekerja dengan mengambil jam siang, namun harus jam yang sangat pagi. Kami pun bersyukur, ternyata di sela sulitnya kehidupan ini masih ada secercah harapan yang kita dapatkan. Begitu aku pikirkan. Dan aku tidak mengizinkan ia yang memilih untuk berhenti bekerja, namun menyarankan dan mendukung Halima untuk giat bekerja namun jangan melupakan tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu. Kukira itu adalah klimaks dari kisah keluarga yang kualami. Kulihat Halima yang memeluk kami di antara bekapan luka yang merah dan selang-selang infus rumah sakit itu.

“Mas, seandainya aku ingin berubah apa kau bisa memaafkan aku, Mas. Tapi aku terlanjur malu. Huhuhu” aku erat memeluknya. Di sela airmata yang tertetes membasahi dadaku, aku merasakan bahwa ia telah benar-benar lebih dari menyadari. Aku pun akan lebih dari intropeksi. Mungkin semua yang terjadi mendera di keluargaku juga berasal dari kesalahanku. Dan yang membuatku semakin kuat adalah, seperti apa kehidupan di luar sana, sebuah film yang mengisahkan pandangan perempuan Indonesia tentang poligami, Surga yang Tak Dirindukan, yang jika ingin melakukan poligami laki-laki tergantung apa dulu niatnya, poligami memang diperbolehkan tapi tak semua perempuan siap berbagi, perempuan yang mengatur-atur kehidupan keluarganya karena penghasilannya yang lebih besar dari laki-laki, dan perselingkuhan yang dilakukan oleh banyak laki-laki, banyak juga perempuan, membuatku memilih, bahwa apapun kebahagiaan hidup kitalah yang menentukan. Dan bila aku memilih hidup, aku akan bersungguh-sungguh dan mengukuhkan pilihanku, juga setiap pilihan yang dipilih oleh seseorang, siapapun itu, telah dengan pertimbangan sendiri-sendiri.

“Eh, Allah saja pemaaf bagi hambaNya, masak hambaNya tidak. Udah lupakan masa lalu ya. Kita melangkah lagi. Kita ukir kehidupan keluarga kita lebih indah” aku merasakan airmata berlinang, pelukannya, dan kecupannya, mengalir dalam hatiku dan membuatku kian kuat. Dalam tajwid terpendam hatiku, aku merasakan walau Halima yang ingin segala pekerjaan selesai, mungkin sebagai perempuan perasaannya yang selalu mengejar, dan ia yang mengkhawatirkan anak-anaknya dengan agak memaksaku giat bekerja, serta ia yang tak mungkin mengacuhkan pekerjaan kantornya dan atasannya kerena ia telah berkomitmen dari awal, membuatku meredupkan sekejap tajwid itu dan menyinarkan bahwa aku harus lebih pengertian karena aku laki-laki dan ini adalah konsekuensi yang aku jalani, hampir teremuk besit beberapa teman laki-lakiku yang mengatakanku dengan pemikiran-pemikiran mereka. Ia Furqon teman dekatku yang istrinya tinggal di rumah merawat anak-anak dan ia sendiri bekerja di perusahaan, berbeda dengan nasibku yang aku sendiri di-PHK karena perusahaan mem-PHK puluhan karyawan waktu itu dan istriku yang bekerja lebih besar daripada aku yang hanya pemilik bengkel cuci mobil kecil aku tak menyangka.

“Kamu itu bodoh Bro! Yang namanya laki-laki ia harus berkuasa di rumah! Oke, sekarang kamu nggak kerja dan istrimu yang kerja. Tapi menurut ceritamu tentang pemikiran-pemikiran dan apa yang kamu jalani itu terlihat bodoh! Maaf Bro… yang pasti kamu harus terlihat sangar dan sedikit egois dong, jangan sampai, di luar pemikiran kamu itu, dia yang jadi memimpin kamu!” aku hanya diam saja. Seluruh apa yang kualami dan kulihat hanya kurasakan dari gerus kopinya di cangkir kafe siang ia mengobrol denganku. Aku pun memendam perasaan yang sama, saat temanku, Galih, yang pernah terdengar pula dari pembicaraan tetangga, ia sering memukul istrinya dan galak pada anak-anaknya, berkata dan mengelus pundakku.

“Udah-udah. Pemikiran Hafidz dengan kamu itu emang beda. Nggak bisa disamakan. Aku juga bingung sih sama Hafidz. Tapi Hafidz itu kayaknya cowok yang ngelindungin perempuan. Kaya di TV-TV itu” aku langsung beranjak saja dari besutan perkataan teman-temanku itu. Mereka memandang langkah kakiku yang berjalan terus, dan aku kembali pada kehidupan yang nyata ini. Kehidupan yang aku hanya dengan istriku. Ia terus menatapku. Tak ada kata lagi. Melihat Halima sudah sadar dan kehidupan kita lebih harmonis dari sebelumnya sudah membuatku senang dan kehidupan kita ke depan pasti akan lebih baik.

Aku juga selalu mengajarkan anakku, yang ia masuk menuju dalam ruangan rumah sakit, agar ia selalu berprasangka baik, tidak gegabah dalam menghadapi masalah, dan jangan sampai ia membenci ibunya melihat semuanya seperti ini. Rafif hanya memerah di depanku, airmatanya menggelinding dan kian menyalahkan jika semua ini adalah salah ibunya dan aku yang sepertinya lemah sebagai laki-laki.

“Apa lagi yang ingin ayah utarakan. Semua ini salah Mama, Papa… pasti sakit kan, Pa. Bukan karena penghasilan Mama lebih besar dari Papa dan Papa yang berprasangka baik lebih banyak mengurusi kami daripada Mama. Papa nggak bisa mengelak kan, seberprasangka baik apapun Papa terhadap kehidupan ini, melihat Mama yang secara tidak langsung lebih mengatur kehidupan Papa di sisi lain Papa sebagai kepala keluarga itu sakit kan” tajwid di hatiku mengerumun menjadi satu bersama sel darah merah tubuhku, lalu mengempis, saat terutarakan kata,

“Rafif, semua telah terlewati, Nak. Ibu sudah meminta maaf pada Papa, Kak Kezia dan Dzaky. Papa sudah berusaha bekerja dan memberikan yang terbaik bagi kalian, ibu bahkan memiliki tanggungjawab lebih besar terhadap kalian, bekerja di kantor dan merawat kalian”

“Selalu itu dan itu saja yang Papa utarakan” begitu tandasnya menancap, segera pergi. Yang kulihat dari lesatan langkah kakinya adalah, ia yang memerah-darahkan matanya semerah mataku yang melihatnya dengan membuaraikan jentik demi jentik airmata. Aku hanya memikirkan ini semua adalah yang terbaik Tuhan. Aku hanya terus bertasbih dalam hati. Semua yang terjadi tak akan pernah berlangsung tanpa kehendakMu.

*

Hingga di usia 60 tahun, bekerja sebagai penjual cinderamata di Indonesia yang kujualkan lewat jejaring internet, terlebih bagi orang-orang di luar negeri. Entah mengapa usaha cuci mobilku tak berjalan dan bangkut. Halima juga masih bekerja di perusahaannya yang dulu, karena ia masih dibutuhkan bekerja di sana, meski waktunya pensiun belum ada yang mengganti. Sebetulnya aku sudah mengutarakan apakah ia tidak lelah dan memilih untuk tinggal menghabiskan waktu di rumah saja, melihat anak-anak yang sudah besar dan berkeluarga pula, Kezia yang menjadi direktur di Bank Indonesia mengalahkan suaminya yang hanya sebagai dosen swasta, Rafif yang mengalami kecelakaan mobil dan lumpuh di bagian tangan dan kaki kirinya yang istrinya lebih bekerja sebagai guru PNS, dan Dzaky yang bekerja sebagai pengusaha mebel dan istrinya yang di rumah menjaga anak-anaknya, namun aku pun mendengarkan ketika ia menginginkan segera pensiun setelah menunggu satu tahun dan ia ingin menjenguk Rafif yang dua tahun ini sakit selama dua minggu sekali rutin, seperti biasanya.

Aku hanya melihat lembaran kertas Rafif di kamarnya yang penuh debu tak sekerlip dulu ketika aku memandangnya. Ia, Kezia, dan Dzaky yang lebih dekat denganku dari kecil daripada dengan ibunya, menuliskan beberapa larik petikan cerpen ini yang membuatku bangga dulu hingga sekarang meraih Juara 1 Lomba Cerpen Peksiminas (Pekan Seni Mahasiswa Nasional)

Aku tak akan pernah tahu seberapa bentuk garis Tuhan yang ditorehkan kepadaku di keluarga ini. Aku selalu menangis memendam perasaan Mama yang terkadang memarahi Papa, menyentak-entaknya, ketika bertengkar. Meski semua telah berlalu tapi kenapa Ya Tuhan aku selalu meratap ketika melihat Papa yang meneteskan airmata, dengan roman yang tak seperti biasanya, yang mungkinkah dimiliki oleh laki-laki lain selain dirinya, juga ketika ia membenamkan doa lewat tahajut-tahajut malam. Tapi dari sikap diam, tabah, dan berusaha berprasangka baik dari apa yang pernah dideklamasikan Papa terhadapku, aku hanya ingin menuliskan apa yang dirasakan oleh Papa. Tapi dengan menuliskannya aku belum tentu tahu seberapa pendam tajwid-tajwid yang dimiliki Papa.

Airmataku menetes membaca helai demi helai terutama kata-kata terakhir yang mampu membawaku ke masa-masa yang lebih lalu. Tapi aku bergidik. Aku hanya berfikir bahwa Rafif adalah anak yang begitu memperhatikan, apapun akan ia tuluskan demi Papanya, mungkin karena gejolak batinku dengannya lebih dekat dengannya karena usia 9 tahun hingga 33 tahun ini daripada dengan mamanya. Dan semua yang kubenamkan dalam batinku sendiri, tentang masa yang telah lalu, masa yang akan melaju, apa yang pernah kutelusuri, apa yang pernah kurasai, dalam leleran air genggaman aku melangkahkan mobilku dengan Halima menuju rumah Rafif. Sependam apapun aku merasakan apa yang dikatakan oleh Rafif, aku hanya akan berikhtiar, berdoa, bermunajah, dengan caraku sendiri, walaupun masa di depan akan lebih kuat menerjangku. Aku tahu Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNya.

Dalam genggaman Oppo Halima, Dzaky yang tiba-tiba mengirimkan pesan bahwa ia dan Kak Kezia telah sampai di rumah Rafif dan kini sangat menunggu kehadiran Papa-Mama, membuatku tertegun. Dan aku semakin menyepatkan laju ban mobilku menembus prasangka-prasangka baik, ketercengangan-ketercenganggan yang telah kulalui, dan kesenangan-kesenangan yang tersilaukan terlampaui.

Di rumah Rafif, aku tak menyangka bahwa aku dihadapkan kepada sesuatu yang menerkam mataku. Membuat airmata yang terkumpul di kelopak mataku berkerumun, sebelum tertumpah menetes. Dari jauh aku berada sebelum berpijak dari rumah Rafif ini, sebetulnya aku pun memendam, aku tak menyalahkan Tuhan yang mengapa dalam kehidupanku kualami, Kezia yang walau tidak angkuh penghasilannya terus melesat dibandingkan suaminya, Rafif, anakku yang selalu mengikutiku itu dulu pernah bertengkar luarbiasa dengan istrinya namun kini telah membaik karena istrinya tak ingin terlalu menuntut laki-laki yang diperintahkannya, dan kini, ternyata Dzaky, anak laki-laki terakhirku pun mendapat amuk dari istrinya karena saling bercekcok namun kami pura-pura tak melihat dan datang di luar. Dzaky selama ini ternyata menyembunyikan bahwa istrinya bekerja demi menutupi kebutuhan keluarga karena ia ditipu oleh rekan bisnisnya sendiri. Ia selama ini tak memberitahukan kepadaku, dengan Kezia, dan Rafif, hanya karena tak ingin membuka lebar perasaan papanya, aku hanya membatinnya saja.

“Bagaimana sih Mas, balik ke toko semula. Aku pinginnya kan produk yang Korea bukan dari yang China. Nanti kulit-kulitku gatal lagi. Aku kan besok harus bertemu dengan clien-ku. Mas tahu nggak sih sebenarnya. Mas itu sebenarnya lebih pinter dari aku karena kepala keluarga, tapi kok kayaknya Mas kayaknya nggak bisa sih” jauh sebelum terdengar auman kata-kata Dzaky dari pendar matanya tersebut, aku tak mampu mendengarnya. Semua hanya ingin kulukis dengan tinta hitam cerita yang kutulis dalam benakku. Bahkan mamanya pun belum pernah mengungkapkan hal-hal itu kepadaku. Kini, Dzaky, anakku itu mendapatkan itu di depan anak-anaknya, mertuanya, dan saudara-saudara istrinya. Aku tak akan pernah menyangka kehidupan anak-anakku lebih bergelombang daripada aku. Dan aku tak akan pernah mengimajinasikan badai bergulung dalam gelombang-gelombang anak-anakku itu mampu kususut. Aku memang selalu berprasangka tak buruk di hadapan anak-anakku, istriku, orang-orang yang memandangku, karena aku pun berusaha dan terus berusaha menjadi iman terbaik di keluargaku. Tapi di balik rasa tahu orang-orang yang memandangku itu, di sekelilingku, semua hanya gelap, dan hanya kutemukan warna hatiku yang sesungguhnya, aku seorang pemimpin keluarga, melihat mereka yang melihat diriku, dan aku pun yang tak seperti pemimpin keluarga, hatiku sakit.

10.34

05/05/2016

Sragen

BEJAJI

Suara gresatan motor yang baru tertandas membuatku memaku lalu kemudian beralih pada samar bayang-bayang orang yang mungkin kukenal. Ia temanku.

Apa yang kumiliki dari wajahku yang berbeda dengan laki-laki lainnya. Sementara beberapa kulihat mereka yang memiliki wajah yang sempurna namun biasa, ada yang memiliki kekurangan yang besar. Apa aku mampu tetap bertahan, seperti usia-usia sebelumnya, dimana aku kuat menghadapi orang-orang yang mencibirku. Ah, bayangan itu teringat. Tapi tak apa, mungkin aku hanya tegang saja untuk menghadapi apa yang akan kulewati saat ini. Begitu keyakinan yang tak pernah redup kutanamkan. Aku pun melangkah dengan terbayang masa lalu, dimana laki-laki berkemeja kotak-kotak, bercelana jeans, berkulit putih, berhidung mancung, menyindirku di sini dan membuatku ingin cepat segera ke kelas. Aku mahasiswa biologi. Dua tahun lalu aku adalah mahasiswa SNMPTN yang diterima di UNS ini, begitu aku juga mengingat saat aku melangkah.

*

Aku berada di pengajian saat usiaku 8 tahun. Ibuku mengatakan padaku, kamu kalau diejek, biasa saja. Kamu harus bersyukur. Allah itu menciptakan makhlukNya sesempurna mungkin. Wajah kamu diciptakan cantik, meskipun laki-laki ya mungkin bagusnya begitu. Ibu juga nggak tahu kenapa kamu dilahirkan dengan wajah seperti ini, hehehe. Yang penting kodratmu nggak menyimpang dari dirimu. Kamu harus ingat Allah ya.

“Nggak kok, Bu. Bejaji bersyukur dengan apa yang Bejaji miliki saat ini. Tuhan selalu menciptakan segala sesuatu indah pada waktunya, Bu. Tuhan pun selalu menyisipkan hal-hal yang tak terduga dalam hidup hambaNya” begitu yang kuingat, yang saat ini aku melihat geseran snack-snack dalam piring bersamaan lafadz ceramah ustad yang mendayu-dayu melepas, aku yang berada di pengajian Masjid Agung Al Falah Sragen, duduk di antara santri-santri lainnya menunggu berbuka puasa. Mas Fatih, guru ngaji yang mahasiswa dari UNS yang mengajarku juga mengajar dari tempatnya lain di Plupuh, agar acara semakin besar beliau mengajak anak-anak ngajinya dari tempatnya lain mengaji dan berbuka puasa di sini.

Ada teman ngajiku yang menepuk punggungku membuatku melangkah, terbayang anak-anak yang belum pernah kudengar tertawa, seiring aku menoreh di barisan belakangku dan berujar.

“Eh, namamu siapa” aku hanya memandang datar dan menyalami saja saat ia mengamati wajahku yang melingkar, beralis runcing, bermata kerlip seperti perempuan, berhidung mancung, berbibir merah, dan berkulit putih.

“Bejaji” ujar anak laki-laki berparas tampan namun agak bandel perawakannya, mengulang kata-kataku kembali.

“Apa, mblenjani1. Hahaha” sahut teman-teman di sampingnya lalu aku tetap datar saja dan sedikit tersenyum simpul mendengar bahakannya.

“Eh kamu perempuan apa laki-laki sih. Cantik banget” aku merasakan kalimat teman yang berjejer duduk di sampingnya lain mendayu, menyemilir, dan menyejukkan kulitku hingga dalam-dalamnya.

“Laki-laki hi. Hahaha” aku hanya menatap lalu mengalihkan kembali ketika Syafi’i temanku yang duduk di sampingku malah merenyahkan suasana, dengan memercikkan candanya.

“Oh laki-laki tho. Kamu bisa futsal nggak” aku hanya mengangguk. Lalu bayangan itu beralih pada diriku sendiri saat Mas Fatih menenangkan anak-anaknya yang ramai sehingga kegelisatan anak-anak yang memenuhi banjiran masjid itu menjadi pembukaan acara pengajian dan pikiranku melesat bagai bola api yang dilambungkan dari long2 jauh menyambar.

Aku hanya menanamkan keyakinan-keyakinanku, bersabar jika kadang-kadang aku sedikit terusik mengapa mereka selalu merayu, menggoda, atau mengejekku, bahkan orangtuaku dan orang-orang terdekatku sendiri. Tapi ibu dan ayah sudah tidak lagi agak menggodaku saat ini, saat aku beranjak remaja. Banyak orang yang tidak memiliki anggota wajah yang sempurna yang itu mempengaruhi bentuk wajah mereka, aku pun lahir dan besar dari keluarga yang kaya. Ayahku direktur di perusahaan garmen dan semen, ibuku ibu rumah tangga yang penyayang yang selalu mengajarkan anak-anaknya sejak kecil, dua adik perempuanku juga baik dan selalu menegarkanku, mereka hidup tanpa kekurangan. Walau beberapa orang, terutama bibi-bibi dan pamanku berujar “Bejaji lebih cantik dari Kemuning dan Nayang Wulan adiknya” lalu membuat bahakan orang-orang yang kudengar. Ayah dan ibuku juga tak pernah mengira aku terlahir dengan kondisi wajah yang seperti ini. Mereka selalu berdoa, merawat, dan tak melakukan hal-hal yang buruk saat aku bernafas di kandungan hingga nafasku yang panjang aku bisa hidup hingga saat ini. Mereka memberiku nama Bejaji yang artinya, patut. Harapan wajahku kelak berubah menjadi tampan ketika dewasa. Di samping menertawakanku, ayah dan ibuku juga sempat menasehatiku, lebih mengikuti kegiatan-kegiatan keras seperti ju-jitsu, tinju, motor track atau sepak bola agar orang tak terlalu memandang segi kecantikanmu. Dan hingga besar aku menjadi atlet ju-jitsu hingga tingkat Asean dan memiliki medali kejuaraan di setiap turnamen. Namun aku sadar, semua yang menjadi ungkapan orangtuaku pula, teman-teman, dan orang yang baru mengenalku, bahwa kelebihan dan kekurangan seseorang sudah diberikan selama ini, kesempurnaan manusia jika ia mampu bersabar dan bersyukur, kesempurnaaan hanya milik Tuhan, yang itu terus memacu iktikaf dan keyakinanku selama ini.

*

Di gazebo dengan ditemani avocado juice usai mata kuliah Embriologi Hewan, dengan Syahful, temanku yang aku sendiri baru tahu saat ia mengungkapkan bahwa ia memiliki kelainan seks sesama jenis, di antara oborolan-obrolan kami selalu terdengar mahasiswa-mahasiswa lain mengejek kami. Sekilas kami hanya terus mengobrol, membalas BBM dari Meilinda kekasihku, dan terus diusik oleh kata-kata mahasiswa itu yang sepertinya melihat Syahrul walau memiliki wajah yang putih dan tampan berperilaku feminim. Terakhir kali aku melihatnya saat aku menaruh motor. Dan ia membuang beberapa putung flashdisk.

“Oii… jangan lesbi. Nggak baik dalam agama. Oii… pisah oi…” pekik mahasiswa berkemeja kotak-kotak merah itu yang berada dua meja dari kami. Walau mereka tahu aku adalah atlet ju-jitsu yang kuat, tapi mereka juga tahu jika aku tak ingin dan tak pernah berpikir akan memarah-marahi mereka dan membalas mereka.

“Jaji, aku itu jujur ya. Kalau lihat cowok ganteng pakai….” kata-kata Syahrul itu memanah hatiku dengan khayalan-khayalan semunya, membuatku segera mendayukan jari, tahu apa maksudnya, dan menjelaskan padanya. Rentetan suara dari orang-orang dan pasang mata teringat.

“Syahrul, ingat masa depanmu, budayamu, agamamu. Hidup di dunia hanyalah sesaat, Rul. Jalan menuju keburukan memang lebih mudah daripada jalan menuju kebaikan. Apa kamu ingin terus seperti ini? Oke, aku akan menjawab, kalau melihat cewek itu aku tertarik, ia manis, cantik, lembut, dan menyenangkan gerik-geriknya. Tapi kalau melihat cowok ganteng, yang gagah, terutama memakai swimsuit seperti dalam video porno gay flashdisk yang selalu kamu lihat itu, aku kagum dan membatin cowok itu cakep juga ya. Aku ingin memandang wajahnya lebih dalam, merangkul, dan mengelus-elus kemaluannya. Siapa pun laki-laki juga seperti itu. Perempuan juga suka bercanda dan menyentuh-nyentuh teman sejenisnya. Tapi kembali lagi, kita kan sesama jenis. Liur dan sikap kita itu sama, apa kamu tidak jijik!” begitu tandasku dalam, saat ia menanyakan berhari-hari dengan pembahasan yang sama. Di antara suara kami yang tertahankan, berusaha agar mahasiswa-mahasiswa mengerjakan tugasnya dan tetap tidak melihat kami. Inilah diriku pula. Aku tak menampik ini, itu, jika diriku benar. Tapi entah apa yang menjadi benak orang-orang selain aku. Benar atau tidak. Aku tetap memegang keyakinanku jika itu benar dan keyakinanku jika Syahrul akan berubah dan usaha-usahaku untuk menghentikan kebiasaannya berhubungan dengan sesama jenisnya berakhir.

“Syahrul, sudah ya. Meskipun saudaramu perempuan semua dan kau telah mencoba meyakinkan jika kau memiliki kelainan seperti ini karena sejak kecil kau tak pernah dididik sebagai laki-laki karena keluargamu pun miskin, kau harus melupakan masa lalu. Kau lihat aku, aku memiliki kekurangan. Kapanpun orang dan entah sampai kapanpun, orang akan mengejekku, menggodaku, bahkan menanyakanku apakah aku memiliki kelainan sesama jenis karena wajahku perempuan, kau pun tak bisa lagi mengelak jika Tuhan memberikan kelebihan dan kekurangan pada hambaNya”

Mendengar kata-kataku itu, dari ingatan jauh aku memandang wajahnya, hanya terdengar dentuman kaki yang mengundang senyum dan kekagetan orang-orang di sekeliling itu. Syahrul memang begitu sensitif, walau tubuhnya yang penuh dengan leleran keringat dan ia bergerak dengan pelan, entah kapan ia akan berubah sejak aku pertama kali mengenalnya, makan bersama, melihatnya selalu membaca novel-novel di perpus, atau sesekali ia main di rumahku. Ia hanya pergi, dan aku secepatnya membenamkan ingatan-ingatan dan diriku ini.

Sebulan lalu saat aku bertemu dengannya di gazebo yang sama, dengan ia membaca novel Tere Liye, serial favoritnya, ia bercerita padaku dengan menyarankan teman-teman perempuannya menyingkir untuk ke beskem HMP Sejarah terlebih dahulu, jika ia ingin semakin dekat, hanya aku hanya teman baiknya yang selalu mendukungnya, jika ia hanya akan berubah untuknya dan saat ia mendengarkan kata-katanya. Namun ada yang membuat cawan hatiku tertumpah dan ingin kembali ketika aku mendengarkan ujaran dari Meilinda, yang ia pun datang saat ia mendengarkan kata-kataku.

“Halah, Syahrul itu kan bicara kaya gitu ke semua pria aja. Kamu harus hati-hati lho, Mas. Jangan-jangan ia mendekati kamu ada sesuatu yang kamu tidak mengetahui”

Lalu terdengar jelas kata-kata Meilinda, yang benar-benar datang dalam pengelihatan yang nyata di antara lekukan kakinya mendekat, dalam kaburan bayang-bayangku.

“Baaaaa…. surpreise. Selamat ulangtahun ya Mas. Semoga panjang umur. Hanya ini yang mampu aku berikan pada Mas” di antara ketertundukan wajahnya itu ternyata Meilinda memberikanku keterkejutan yang kutak menyangka. Aku terus menanamkan rasa senang, terlebih saat aku membuka kado dari pernik yang ia berikan di ulang tahunku yang ke 21, sebuah jam tangan hitam, di antara orang-orang yang melihat mengejek dan aku hanya tersenyum.

“Woi… masak cewek ngado temen ceweknya jam tangan pria sih. Kalau ceweknya tomboy nggak masalah. Lha feminim kaya gitu” aku hanya terus tersenyum, bersamaan dengan rasa nikmatku yang mengalir dengan keyakinanku atas kebahagiaanku yang menurutku mungkin tak akan lengkap tanpa orang-orang di sekelilingku itu.

Aku menggemulaikan diriku. Mencoba menghibur mereka. “Ihhh… abang tahu aja, tentang seleraku” bahakan Meilinda di antara bahakan orang-orang itu kian membuatku tersenyum.

*

Di perpustakaan UNS ini aku hanya melangkahkan kakiku. Orang-orang terus mengejek, menyindir, menertawaiku, tapi ada yang mengacungkan tangan mereka tanda pertemanan padaku. Aku hanya tersenyum saja. Dengan ditemani Meilinda yang juga akan lulus tahun ini, aku mencari contoh skripsi, di antara ingatan aku bersama teman-temanku yang lainnya juga Syahrul yang entah mengapa 9 bulan sudah ia tak lagi kutemui, di SMS, chat, BBM, sebelum aku ingin memastikan juga belum kulihat dirinya di tempat ini. Lalu saat Meilinda mengiyakan aku ingin pergi ke buku-buku sastra dan ia sendiri mengobrol dengan kakak tingkatnya kedokteran yang tiba-tiba ia temui, aku menemukan novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu setelah aku melangkah. Novel itu pernah dibaca Syahrul saat aku mengingatnya. Aku menemukan selipan kertas di novel itu, bayang-bayangku menyeruak.

Semua tak akan ada yang tahu, siapa aku. Semua dengan kelebihan dan kekuranganku, demikian ia, sahabatku yang pernah mengatakannya padaku. Aku telah mengalirkan tubuhku, namun mulai tahu jika setiap kerikil-kerikil dan benda-benda yang menghadangku harus kutepiskan, tapi aku tak tahu garis Tuhan berkata jika aku mengalirkan tubuhku di sungai yang salah. Aku memang tahu, aku memang buruk, aku selalu menyalahkan Tuhan, orang-orang di sekelilingku jika merekalah yang membuatku seperti ini. Tapi setelah aku berhenti menulis surat ini, aku hanya ingin ia tahu, hanya itu saja, jika aku terhanyut dalam pusaran penyakit yang kualami, aku telah berubah sebelum ia mengira. S.A.D

Aku bergetar membaca huruf demi huruf dalam genggaman kertas itu, tapi segera kualihkan. Kita tak pernah tahu apa yang direncanakan oleh Tuhan bagi diri kita, saat ini, dan saat yang akan ke depan. Antara rasa sedih dan bahagia aku menemukan hidup, mungkinkah inisial yang sama dengan telah kuanggap sebagai sahabatku yang tak lagi kutemui itu adalah sahabatku Syahrul yang sesungguhnya. Semua keyakinanku terjawab sudah saat aku tak melepas keyakinan itu. Dan dari buncahan kata-kata aku mendengar suara di balik huruf-huruf itu, begitu mata kerlip ini mengamatinya, terdengar tepukan. Aku beralih.

“Bro, calon cum laude, yang nilainya bagus-bagus, aku belum ngerjain skripsi nih karena aku masih beberapa mengulang, tolong ajarin aku menyusun makalah dong”

Aku hanya terus tersenyum, membinarkan kerlip mataku yang terus mengerlip, di antara jauhan kata-kataku aku menjawab.

8.35

30/04/2016

KETERANGAN

  1. Blenjani           :           mengkhianati
  2. Long                :           meriam untuk bermain petasan dari bambu

KUDAKERETA

Cahaya rembulan menyusup di dalam rumahnya, pelan, bayangan itu berubah menjadi manusia. Melangkah, mengetuk pintu setelah dibukakan dan ia masuk.

“Bagaimana, Yu, apa kau tak ingin mencoba memeriksakan kandungan Emely. Ibu khawatir. Sudah hampir dua tahun ia juga belum hamil” mungkin ibu sangat ingin menimang cucu, setelah ayah, satu-satunya laki-laki yang amat dicintainya itu pergi meninggalkan sisinya. Beliau hanya ditemani Nawangsih dan Haikal adiknya. Ayah adalah orang yang sangat dihormatinya namun sangat dibencinya, begitu bisik hatinya. Ia tiada putus-putusnya berantem dengan ayahnya. Ibunya juga sering melerai dan menasehati. Hatinya bagaikan arang sate jika bersebelahan idealisme dengan ayahnya. Ayah serupa orang yang tenang, meskipun batinnya mungkin bergejolak, dan itu juga yang ia rasakan dan juga harus ia pikirkan.  Ia sudah menikah dengan Emely dua tahun namun ia belum bersentuhan dengannya. Ia sama sekali tak mencintai Emely. Siapa itu, gadis yang dikenalkan ayahnya, dan ayahnya yang pintar mengenalkan Emely pada ibunya karena tahu jika mengenalkan pada ibunya pasti Wahyu menurut. Ayahnya tak suka dengan Wahyu yang sering keluar malam, menginap di rumah siapa-siapa dan pergi dengan perempuan tak jelas, padahal ia merasa laki-laki. Mungkin karena ayahnya dulu tak pernah melakukan hal itu. Tapi ayahnya juga sosok yang otoriter, tak ingin menerima masukan dari siapa-siapa. Dan ayahnya benar-benar pintar, saat ayahnya meninggal karena kambuh serangan jantungnya, ayahnya memberikan wasiat yang mengesalkan. Ia disuruh menikahi Emely.

“Emmm… Buk.. ibu nggak usah khawatir ya. Kami belum pingin punya anak aja.. lagian, Mas Wahyu dan saya masih ingin seriusin karir dulu kok, Bu” Emely tersenyum menenangkan ibu, mengelus-elus pundaknya. Dengan memberikan penjelasan bahwa ia harus segera hamil karena tak baik menunda-nunda dan memaparkan rasa sayangnya, dengan tersenyum masam dan mengumpulkan kembali tubuhnya yang rapuh berkeping-keping, ibu pulang larut.

Wahyu juga senang karena Emely juga tak mencintainya. Sebelum mereka seakan bermain film, menikah hanya untuk memuaskan hati ayah mereka, mereka sudah memiliki pasangan masing-masing. Ia tidak akan selangkah pun mendekati terlebih mencintai perempuan itu, begitu yang selalu bertiup di hati Wahyu.

“Eh, kamu tadi kenapa sih bilangnya belum mau hamil, serius di karir dulu, itu malah membuat ibu curiga. Andai kamu diem aja, pasti nanti nggak akan tambah ribet”

“Ye, loe malah nyalah-nyalahin. Eh, udah untung ya. Ibu loe udah gue nasehatin, kalau nggak, mana mau ngerti ibuk loe. Emang nggak ngerti ibuk loe aja, sukanya ngrengek-ngrengek” ingin ia cekik leher perempuan itu, namun benar pula yang dikatakannya.

Ibunya adalah seorang Nasrani menikah dengan ayah yang Muslim. Ayahnya adalah seorang pegawai KUD dan pembenah kran. Ibunya menjual soto Girin. Mereka menikah di kantor pencatatan sipil. Walau Nasrani, ibunya selalu marah-marah dan menyiapkan seluruh alat-alat sholat jika ia, atau adik-adiknya lalai menjalankan sholat. Walau ayahnya telah meninggal, orang-orang seakan melihat jiwa ayah berada di jiwa ibu. Bahkan kerabat-kerabat selalu menyayangkan, mereka sangat bersimpati atau membutuh-butuhkan ibu. Jika ayah atau ibu tak ada, mereka sering mencari-carikan ayah atau ibu. Ayah dan ibu seperti kuda dan kereta. Kereta Cirebon dengan kudanya dalam dongengnya yang telah ada, tapi tetap utuh keretanya yang masih digunakan dalam kegiatan-kegiatan negara, itulah yang menjadi cerita dalam senja ibu atau kidung malamnya, atau Kereta Kencana Solo.

Ibu selalu membayangkan, bahwa anaknya kelak, atau ia yang sedang menikah ini menjadi kuda dan kereta. Seperti yang diharapkan orang-orang, namun tak. Dari dingin dan desau ingin ia menenangkan tubuh ibunya itu, sebetulnya ia kasihan pada ibu dan ayah, namun harapan itu tak selalu benar dengan apa yang kita bayangkan.

*

Saat langit mendatangkan pagi, mereka riuh ketika tiba-tiba melihat ibu yang hampir mendengar perbincangan mereka. Ibu datang pagi lalu kembali ke rumahnya yang hanya lima rumah, untuk meminta serai dan lengkuas. Mereka mengingat. Mereka membeli satu kasur lagi yang ditempatkan dalam satu kamar, meskipun ibunya masih curiga, kenapa ia yang selalu bergantian kamar, atau ia yang sering begadang melihat tayangan bola tidur depan televisi selalu diketahui ibu. Ia yang terkadang menjengkelkan ingin Emely walau tak istrinya sungguhan mencucikan pakaian, memasakkan makananan, karena ia juga mulai memberikan nafkah, saat mereka berjanji untuk mengurusi diri sendiri, mencuci-mencuci sendiri, makan-makan sendiri. Tapi ia juga tak mungkin iba ketika melihat Emely yang pulang lelah dari kantor perkreditan motornya tak dibentangkan selembar selimut.

Saat mereka memiliki masalah dengan pacar mereka masing-masing mereka kadang menceritakan. Meski dalam sulutan, sindiran, dan cercaan.

Emely tampak membawa kerongkolan-kerongkolan koper banyak, berdandan cantik. Ia sedikit membatin, begitu cantik, anggun, dan semampainya Emely dengan pakaiannya itu. Bibirnya ranum. Namun tak. Berpikir apa ia. Ia hanyalah memuji Emely yang memang cantik saja. Mungkinkah ia mencintai Emely. Hah?. Begitu derunya. Dengan bersandaran di tembok kasur tanpa sengaja ia menuliskan ‘kudakereta’ tanpa ia sadari tanpa spasi atau tak, namun langsung ia sobek.

“Mel, kamu mau kemana. Tumben bawa barang banyak” tanya Wahyu sedikit lembut. Emely hanya mengangkat wajahnya yang bercahaya dan menyingsingkan lintingan rambut kecilnya.

“Oh… yang kaya aku omongin dulu. Aku mau bulan madu di Bali. Lha kan di kantor aku libur. Nggak tau juga sih. Anton terus ngajakin aku. Dia nasehatin, kalau nggak ada masalah kita nyoba nglakuin” mata Wahyu membiru, entah mengapa ia merasa dinaungi awan. Saat Emely menatap wajahnya, kemudian Wahyu merayapkan kata-kata.

“Berarti kamu perempuan murahan dong” goda Wahyu, namun kata yang ia runtutkan menunjukkan kata sinis di akhir.

“Halah, bilang aja kalau kamu suka sama aku. Duh… nggak nyangka ya Wahyu suka sama aku. Padahal kita kan udah saling janji kita nggak bakal saling suka” kemudian mata Wahyu menerik.

“Enak aja kalau mau bilang. Sorry noh ya. Nanti kalau kamu hamil, masak aku yang harus ngakuin dan merawat anak itu” kemudian Emely hanya pergi, memperlihatkan tak ingin mendengar kata-kata Wahyu lebih lama. Namun sesekali ia memelankan jalan, beberapa kali menatap ke belakang lalu lurus pergi meninggalkannya cepat.

Wahyu juga sering mengingat. Berkali-kali ia harus berbuat baik di hadapan ibu Emely, dan adik-adiknya, yang harus ia anggap sebagai ibu mertuanya. Di antara kata-katanya yang selalu baik, tersimpan cercaan, hinaan, dan keluh kesah dalam dadanya. Pernah suatu saat, saat ibu Emely meminta diantar ke tempat hajatan atau tempat-tempat yang beliau ketahui dekat sekitar daerah rumah anaknya, Wahyu malah mengantarkan ibu Emely ke tempat yang tidak sebenarnya. Selalu gerutuan dari Emely yang ia dapatkan. Ia tak pernah membuatkan teh yang enak pada ibu Emely agar beliau tak sering mengunjungi rumahnya.

Telepon Wahyu berdering, ia tersentak dari andaiannya. Meski Karin, pacarnya, yang sudah meminta maaf padanya karena meminta seluruh uangnya disetorkan setiap bulan padahal ia bukan istrinya, ia yang juga menenangkan dan menjelaskan bahwa tak semudah itu ia menikahinya dan bercerai dengan Emely karena menunggu waktu, Karin tetap saja meminta.

“Oh… kalau Mas nggak ngasih uang aku, aku nyari cowok lain aja deh. Ee… nggak-nggak. Aku kan sayang dan setia sama Mas. Lagian aku juga nggak berusaha manfaatin Mas kok. Mas jangan salah sangka ya. Aku kan minjem bener buat bayar utang temenku. Eh, Nawangsih dan Haikal gimana kabarnya. Haikal kuliah dimana?” Karin dirasakannya mengalihkan perhatian kepada adik-adiknya. Kemudian Wahyu hanya menjelaskan. Saat telepon berhenti, Wahyu merenung pada langit.

Ia menatap retak di atas-atasnya. Berhari-hari mereka berdua. Ia sangat tak suka dengan gerutu dan atur-aturan ayahnya, teringat selalu saat ia memandang wajah Emely. Wahyu memang bukan suaminya, bukan siapa-siapanya, dan mungkin kini menjadi temannya. Wahyu menerawang-awang mungkin rasa menyesal kenapa ia membuat Emely menikah dengannya. Dan, orang-orang memanggilnya, mengamati keserasiannya “Waduh, Pak Wahyu dan Bu Wahyu… hidup kalian bahagia ya. Andai aja kalian sudah dikaruniai anak” dan dari kata-kata indah orang-orang itu, pada kedalaman perasaan Wahyu, segera ia depakkan pantofelnya mencari angin.

Tiba-tiba Wahyu melihat gopoh-gopoh langkah kaki adiknya mendekat padanya, ia berlari dengan rambut tak karuan, seperti pantatnya terpanah api dan hampir membakar tubuhnya di kala malam. Wahyu langsung tersentak. Nawangsih mengatakan bahwa ibu terjatuh saat menggoreng tempe.

*

Saat ibu sakit, Emely juga belum pulang. Mungkin ia telah menikmati malam pertamanya. Malam pertama yang indah yang Wahyu belum pernah melakukannya. Tiba-tiba, Emely mengirimkan whatsapp kepadanya.

“Ih… ngeselin banget deh. Saat aku menolak ngelakuin itu, ia malah pergi ninggalin aku. Ia menerima tawaran keluarganya untuk menikahi tunangannya. Mana nggak sebel coba?” ada yang mengisi hati Wahyu yang kering, segera diketikkan tangannya, ia menulis dan tersenyum sinis.

“Hahaha. Makan tuh malam pertama. Duh, pasti kamu sedih ya. Ditinggal pacar kamu. Rasain loe. Pasti kamu maunya malam pertama ama aku kan. Udah bilang aja” Emely hanya tampak ingin menulis namun diindahkannya. Keterangan ingin menulis di via whatsapp-nya itu hilang begitu saja. Apa dia terlalu buruk ya? Kenapa saat ia sedih, ia malah menindas Emely. Ah.. wahyu berusaha mengelus-elus luka di dadanya itu.

Di rumah sakit itu, saat sebulan ibunya koma, orang-orang yang tak tahu jika ibunya sakit menelpon atau mengunjungi Wahyu. Menanyakan bisakah ibunya membenahi pipa kran yang bocor, saat suami perempuan itu pergi jauh dari rumahnya, kemudian Wahyu mengisahkan. Seperti kuda dan kereta. Walau ayah telah tiada, atau ibu yang tiada kelak, ibu selalu dianggap mampu, melihat, dan menguasai, apa yang dikuasai ayahnya. Dan saat mereka mati, orang-orang hanya akan melihat mereka bahagia dan memujanya. Ibu selalu memberi nama Emely dan Wahyu adalah kereta Naga Liman entah apa maknanya itu.

Ibu yang terus menceritakan tentang apa yang dilakukan ayahnya semasa hidup itu, dan ia yang melintirkan hatinya dengan handbody karena begitu lemas mendengarkan kebaikan-kebaikan ayah yang memukul, membuat ibu meminta Wahyu untuk kembali ke rumah mengambil barang-barang yang mungkin belum dibutuhkan namun segera dibutuhkan ibu di rumah sakit. Ibu terbangun dari koma. Wahyu senang.

Saat Wahyu berjalan, ingin menaiki Daihatsu Cenia putih yang dibukanya, ada kepala kantor penerbitan tempatnya bekerja menelponnya, saat telponnya berakhir singgah telepon dari Karin pacarnya, Wahyu dirundung segenap tanda tanya. Pertama kali ada kecanggungan yang dihilangkan oleh Wahyu, mengapa ia ditanya ibunya sakit lama atau tidak, ditambahi lagi ia di rumah sakit masih lama kan? Lalu ia berkata, kamu di rumah sakit masih lama kan sayang, apakah ia jagain ibunya terus. Namun Wahyu telah berpikiran bawah ia bercanda.

“Kamu ini aneh, Sayang. Eh, nggak, maaf, maksudnya, iya aku jagain ibu. Emang kenapa? Soalnya ibu masih sakit” kemudian saat mereka menutup lembar demi lembar percakapan itu, Wahyu segera melabuhkan mobilnya mengarungi buasnya siang.

*

Di rumah ibu itu, yang sebetulnya dikerumuni kesepian. Wahyu tampak melihat matic Karin terikat di depan rumah ibunya. Saat masuk, Wahyu melihat Karin dan Haikal bercengkrama di kamar bekas ia masih tinggal di rumah ibunya itu.
“Eh, Mas. Kamu udah pulang. Aku bisa jelasin, Mas. Mas jangan salah sangka ya. Aku seneng aja ngobrol sama adik kamu. Ia udah seperti adik aku. Hehe” Karin hanya terseyum. Namun dengan wajah yang sangat ketus, mata Wahyu yang ingin keluar, bagai mayat hidup yang ingin menerkam apa yang dilihatnya, Wahyu pergi begitu saja. Membiarkan Karin  terus mengejar dan berkata-kata sendirinya. Hanya saat ia mengambil kertas yang pernah ia tuliskan yang tiba-tiba berada di dekatnya ‘kereta’, entah kenapa ia masih menemukan tulisan ‘kereta’-nya saat itu, mungkin yang tak ia temukan kembali. Wahyu merasakan dirinya semuanya tak pasti.

*

Di rumah sakit, ia tak tahu bahwa Emely tiba-tiba telah di sana. Emely membisikkan, bahwa ini mungkin waktu ibu yang terakhir. Wahyu hanya mampu meneteskan airmatanya. Emely di depannya juga tampak sebagai perempuan yang lembut dan polos. Nawangsih tampak menangis tersendu-sendu. Segala pikiran tentang, Karin, perempuan itu, yang ternyata telah memerasnya hanya untuk mencari simpati padanya, dan malah mau memacari kakaknya, adiknya juga, setelah ia tak sanggup menanti, dihapus dengan penghapus besar pula. Lembar demi lembar lusuh, robek, berlubang.

“Kamu tidak usah menjelaskan ibu sudah tahu, Nak. Ibu nggak boleh egois dan mementingkan kepentingkan ibu sendiri. Ibu sangat menyayangi anak-anak ibu. Kamu nggak mungkin menyukai perempuan yang dijodohkan oleh ayahmu. Ayah dan ibu juga tidak memaksa, Nak. Ibu sebetulnya tahu kekesalanmu. Maka marahlah pada ibu. Namun ini dari lubuk ibu yang terdalam, Nak. Sebelum ibu mati, ibu ingin kamu benar-benar mencintai Emely. Jadikanlah dia istrimu. Anggaplah kalau kau mencintai Emely sama seperti kau mulai mencintai ayahmu. Tapi semua terserah kau, kau yang memilih. Seorang ibu hanya ingin apa yang dipilih anaknya itu membuatnya bahagia, Nak…”

“Ibu… ibu jangan berkata begitu. Wahyu sayang ibuk. Wahyu masih pingin bersama ibu” saat Wahyu menangis dan kedua tangan mereka saling membekap, tiba-tiba ibu langsung menghembuskan napas terakhirnya. Kemudian hanya terdengar teriakan dan tangisan.

Di antara orang-orang berpakaian putih yang mulai mengurusi jenazah ibunya itu, Wahyu dan Emely tampak berkata dalam sudutan orang-orang. Wahyu berkata agak ragu.

“Emely. Aku tahu, sebetulnya kamu nggak cinta sama aku. Tapi, jujur, aku berkata seperti ini bukan karena berpura-pura untuk melegakan amanah ibuku. Aku laki-laki. Jadi aku yang harus berkata duluan. Sementara kau perempuan, kau boleh menerimanya atau tidak, semua kehendakmu. Saat kita tinggal bersama, perlahan-lahan aku mulai mencintaimu. Aku tertarik dengan apa saja yang kau lakukan. Dan terkadang, sedikit-sedikit, aku mulai membayangkan kebaikan-kebaikanmu. Jujur pula, kau perempuan yang manis yang pernah kutemui. Aku sudah dikhianati oleh Karin” dari ketertundukkan dan kata-kata malu Wahyu itu, mulai membuat wajahnya terangkat, menatap, dan memancarkan cahaya menyilaukan. Emely hanya tertawa, tertunduk, lalu dalam menatapnya. Perlahan diraihnya sesobek tulisan kereta di sakunya, saat Emely melirik ia mengambil sesobek ‘kuda’ dari tas Sophie Martinnya, tulisan yang benar-benar ditulis Wahyu itu disatukan oleh keduanya, penyatuan sobekan oleh mereka membuat mereka mendapatkan spasi.

“Aku juga mulai mencintaimu, Wahyu. Kamu juga laki-laki yang tampan. Sangat beruntung perempuan yang mampu memilikimu. Kita sudah berjanji di depan Allah, Yu, bukan bohongan. Aku akan menuruti seluruh apa yang menjadi perintahmu” mereka tersenyum, dalam angan-angan meninggalkan kuda dan kereta ayah-ibu, melangkah, menapaki seluruh isi dunia, yang terlihat dan tak terlihat dengan kereta gagah kencana. Wahyu, mendekat dengan menghapus, menghapus benar-benar seluruh kebimbangan dan kecanggungannya. Ia memeluk Emely, mengecup keningnya.

Sragen, 9.55

19/08/2016

LELAKI MAGENTA

 “Kau menelpon siapa Mas? Serius amat” Claudia, gadis yang menjadi kekasihnya itu, mengikatkan ikal rambutnya di bahu. Gigil embun di luar kaca pear juice itu diletakkan sendiri di meja fosil kayu jati. Ada anggrek putih dipindahkan Claudia di meja itu.

“Oh… Ully yang menelponku tadi. Ia mengundangku di acara jingle project-nya. Kenapa?”  terang Exsar membuat mata Claudia sedikit terpaku, jari manisnya bergetar, alisnya berdesir. Exsar meneguk pear juice. Dihabiskannya seketika.

Antara rasa tak menyangka, ia tak mengira Ully dan Exsar masih menjalin perbincangan, meski mereka tak lagi menjalin hubungan sebagai kekasih. “Kau menerimanya?”

Exsar hanya menggeleng. “Kan aku sudah ada acara di Dayu1 bersamamu tiga minggu lagi. Lagipula, ia ada kekasihnya.”

“Oh iya Mas. Mama dan papa ingin ketemu sama kamu. Kamu mau datang ya?. Aku udah nyiapin segalanya. Kita menjalin hubungan udah empat tahun, Mas. Mas mengerti kan?”  segelas pear juice yang hanya menyisakkan kental-kental dingin di dalam kaca, seperti sisa kapur yang dimasukkan, pecah seketika. “Eh… Mas kenapa?” Hati Exsar semakin memerah, mengembang-mengempis, mengucur darah segar perlahan. Kedua matanya juga merah. Claudia lalu menatap telunjuk kiri Exsar yang robek sedikit. Runtuhan gelas berserak di lantai. Diusap-usapnya kedua jemarinya, antara darah yang menitik bercampur cairan kental. Dingin dan perih merembes.

 “Aku akan segera ke Solo. Hari ini jamku disana. Aku berangkat duluan ya?”  perasaan Claudia iba menatap Exsar yang pergi begitu saja. Ia hanya menatap dentang PDF Exsar yang mengarak-arak pergi. Jemari telunjuk kirinya terpampar tisu memita membekap lukanya.

*

Exsar hanya menginginkan putih dalam dirinya. Ia hanya mencurigai putih di dunia ini. Bukan warna lainnya. Baginya, putih adalah warna yang membuatnya magenta. Semenjak peristiwa itu, dengan kenangan putih hadir dalam bayang-bayangnya.

Exsar kuliah di Universitas Gunadarma Jogjakarta. Ia memperoleh beasiswa fakultas ekonomi di sana. Ia kost dengan beberapa teman laki-lakinya. Sebelum ia menjadi manager di Bank Indonesia Solo saat ini.

Shubuh itu tetap seperti shubuh lainnya. Exsar yang terbangun dari riuhnya percikan air, mengikuti langkah Galuh. Galuh berjalan menembus kabut senyap dengan ember biru di tangannya “Luh, ngapain kamu? Rajin banget pagi-pagi nyuci baju”  Galuh terasa tersentak mendengar pertanyaan Exsar. Ia seakan ingin bersembunyi di ruang yang hampa dan hitam, untuk membenamkan dirinya dari siapapun. Diteruskannya memeras celana dalam biru dan jeans pendeknya, lalu dikebyar-kebyarkannya di udara, disandarkannya di tali tua.

Gharin, tiba-tiba keluar dari hadapan mereka. mengikuti mereka. Dideguskannya asap rokok pelan-pelan. “Wah, si Galuh mimpi indah ini”  Ia menggoda. Galuh tampak pucat pasi, Exsar masih tampak biasanya.

Semenjak saat itu, ia penasaran dengan apa yang dilakukan, diperbincangkan, ditertawakan teman-temannya, meski ia sendiri belum tahu dan merasakan apa yang dirasakan mereka.

Ia menunggu. Namun yang ia tunggu tinggallah yang ia tunggu. Di luar benaknya ia melangkah selaksa laki-laki dan orang-orang biasannya. Namun di dalamnya, ia mulai mengukir warna apapun. Dalam gadis yang dilukisnya, selalu berurai rambut panjang seperti Shinta dengan gaun putih, seluruh benda-benda kasur, tirai, bantal, berubah putih di kamarnya, sama seperti ia merindui dan ingin ditemani oleh warna putih itu di malam harinya.

Papa Exsar, Pak Deni, mengerti dengan keadaan Exsar, putra pertamanya. Beliau mulanya kaget, namun beliau langsung mengajaknya berterapi, berkonsultan, dan melaksanakan pengobatan dimanapun dan kapanpun, usai Exsar mengisahkan apa yang dialaminya saat ini.

Exsar berulang kali mengikuti pijat tradisional di Solo, setelah itu gagal, papanya mengajaknya berobat di pengobatan medis dengan dokter ahli. Dokter ahli tersebut setelah melaksanakan pemeriksaan mengutarakan memang ada masalah dengan putranya, menurut hasil ronsen. Memang bukan hal langka di luar negeri, di Indonesia kenapa ia menemukan laki-laki dengan ketidaknormalan fungsi testis seperti ini?

“Sar, coba ini diminum. Ini jamu mengkudu. Sudah papa berikan susu, jadi nggak begitu pahit. Coba diminum ya. Papa memperoleh jamu ini dari dukun kenalan papa”  ujar papanya, di taman belakang yang berisi kolam dengan gemersik ikan-ikan. Dan di kolam dekat pintu masuk ruang membatik pekerja-pekerja papanya, sebagai pengusaha batik besar Kliwonan2 itu, berbagai perempuan dengan kepulan asap malam, canting tua, dan leleran keringat di kulit dan tulang kering mereka, menyulap putih mori menjadi batik berupa-rupa.

“Papa saja yang diminum!” sentak Exsar. Merahnya merah bara, sedikit magenta.

“Sar, coba dulu ya? Kalau nggak bisa papa cari cara lain lagi ya”  ujar papanya sedikit terpaku. Beliau merasakan dan tahu betul bagaimana betul sikap anaknya. Bagaimana ia merasakan, berpuluh-puluh cara dan kesabaran, dan apa lagi? Bermilyar-milyar pengobatan yang ia kunjungi? Tak akan merubah kondisinya sebagai laki-laki cacat. Sebenarnya, ini hal yang tak pula terjadi. Tak pantas ada masalah seperti ini. Ini bukan masalah, ini hal yang kecil. Kenapa harus dirinya yang menikmati kejanggalan ini Ya Tuhan! Begitu bentak sukmanya! Namun, apa yang ia rasakan. Walaupun telah berusaha, ia tetaplah makhluk kecil yang terdiam dan menunggu takdir Tuhan menjadikannya berjalan, terus berjalan.

“Kenapa bukan papa yang mengalami cobaan ini? Agar aku tak keluar di dunia ini sekalipun!” bentak Exsar.

Diraihnya jus mengkudu itu, diguyurkannya di pipi Exsar. “Dasar anak tak tahu diuntung! Sudah jelas-jelas papa membantumu. Papa paling nggak suka dengan omonganmu seperti ini!!”

Papanya memang tak suka bila ia harus bergidik dengan masa lalunya. Papa Exsar mulai bercerita tentang ia dengan masa lalunya. Garis keturunan yang tidak begitu banyak dari kakeknya, membuat ia dan pamannya yang memiliki masing-masing dua putra, tak lebih. Dan, mungkinkah hal itu pantas dialami Exsar saat ini.

Kental pear juice itu meleler di kening, jatuh di hidung, pipi, lengan, dada dan perutnya. Mata merahnya semerah terik mentari sore waktu itu, mengumpamakan leleran putih itu adalah maninya yang turun, menggenangi, dan menutup tubuh keringnya.

*

Di sungai menyentuh, jiwa kuat, keras, dan diamnya, belukar dalam sukmamu,

Yang terhembus dan tak terhembus, yang kutulis sekarang dan nanti

hanya padamu, bergantung, gelayut janjiku padamu.

  • Claudia –

Ia menggenggam secarik puisi itu. Diremasnya kulit kepalanya dan ingin ia singkirkan dari wajahnya, menghadapi dilema-dilema ini. Apa sungguh ia tak ingin dipertemukan dengan Claudia? Gadis yang satu-satunya mencuri hati di sisi perasaannya sepanjang hidup ini? Apakah ia benar-benar mencintainya? Dan ingin melamarnya kepada papa dan mamanya untuknya?

Lalu yang di benak Exsar di kamar putihnya malam itu, hanya rembulan yang tiba-tiba berubah menjadi Claudia. Claudia berjalan lembut dari arah jendela, pelan lembut, menuju sisi ranjangnya, dengan terduduk.

“Claudia… Claudia.. kenapa kau bisa kemar…..”  samar-samar, semua hanyalah tinggal kabut putih yang membenamkan tubuhnya bersamaan harum kasturi.

Di matanya saat ini permadani padi yang membentang di hadapannya. Ia terpaku menatap tubuhnya mengenakkan baju putih seluruhnya. Hanya kakinya yang tanpa alas terus menerjang gemerisik titik-titik padi di sisinya, menatap bentangan kain putih yang merentang di sisi padi-padi itu.

 “Huhm… Claudia”  degus Exsar, kembali mencium pipinya. Diyasapnya bibir Claudia yang gemas dan ranum. Claudia hanya tersenyum hangat. Semakin dipegangnya otot punggung di belakang Exsar, semakin Exsar mengecup dan membekapnya erat. Claudia meremas rambut dan menikmati wajah Exsar, kepala kubusnya, mata elangnya, kulit coklat lezatnya, dan gigi putih rapinya.

Saat Claudya seakan menyingkirkan seluruh gaun putih yang menutupi tubuhnya yang langsit, hati Exsar menderas. Menderas dan semakin deras..

Exsar terbangun dari mimpinya. Dibukanya resleting celananya. Ia menghembuskan napas dalam, menghamburkannya ke langit. Noda putih itu belum membasahi sisinya. Hanya keringatnya yang mengucur deras.

*

Ada ibu-ibu ber-kutu-baru3 berbatik putih hitam motif Babon Angkrem keluar meletakkan pear juice dan guava juice, lalu masuk meninggalkan mereka kembali.

“Mas, aku dah tau Mas masalahmu. Dua hari yang lalu aku ke sini, aku menemuimu tertidur”  hati Exsar bergidik. Harum kasturi itu? Telisiknya.

“Kalau hanya itu kekurangan Mas, aku rela menerima kekurangan Mas apa adanya? Aku mencintai Mas, luar dan dalam hati Mas. Cinta tak mengenal fisik bagiku”  tangis Claudia memecah. Dibenamkannya kelopak matanya yang perih.

 “Kamu tahu dari mana?”  tubuh Exsar masih kaku, meski desir angin mencoba melembutkan dan mencairkan perasaannya.

“Papa yang bilang”  Exsar semakin tertujam. Pucuk-pucuk jarum beracun yang menerpa tubuh lapuknya menghujam semakin dalam hingga busa dan getah mengucur deras, lalu dihisap oleh tubuh lapuk itu kembali. Papa ternyata sudah membeberkan itu pada Claudia, meski ia sudah memastikan papanya telah berjanji dan menutup rahasianya.

“Awalnya aku curiga, apa Mas masih mencintai Mbak Ully karena Mas masih kerap berhubungan dengannya, atau Mas, terpaut dengan Lulu, Penari Pendopo Sumonegaran4 dan penjelajah itu, yang sering Mas kunjungi. Tapi, aku mencoba kuat dan bersabar, berpikir dingin. Aku mencoba mencari segalanya. Karena Mas yang mengajarkannya. Melihat kekurangan Mas saat ini, aku semakin sayang dengan Mas…”

“Nggak Claudia! Nggak! Kamu nggak bisa menikah denganku! Kamu lebih pantas menikah dengan laki-laki lain”  Exsar berdiri dari tempat duduknya. Saat Claudia merangkul lengannya, langsung Exsar menghardiknya. Air mata dan degus dingin dari hati Claudia  yang membeku, membuat Exsar terhenti. Saling terdiam di antara keduannya.

 “Berpikirlah realistis! Kau wanita yang subur, lihat papamu, mamamu, adik-adikmu. Apa kita bisa menjalani hari-hari dengan tubuh saja. Apakah kau tak ingin memiliki malaikat kecil di sampingmu!”  Exsar tak tertahankan lagi. Kursi yang ingin didudukinya lagi seakan runyam berkeping-keping.

Dengan genggaman di dadanya kuat, semakin mencekramnya dalam, selaksa saus yang berleleran dan melengketi baju dan tubuhnya, Claudia berkata. “Kita tak pernah tahu apa maksud dari Tuhan menciptakan kita seperti ini Mas, mengapa Tuhan mempertemukan kita berdua. Segala hadangan selalu ada cara menghadapinya. Yang selalu abadi adalah kita dan Tuhan kan Mas”

*

Terlihat orang-orang berpakaian jas hitam dan kebaya memarkirkan mobilnya dan memasuki area Gedung Kartini5. Telah dikumandangkan kalimat ijab qobul dan pembacaan doa di gedung itu. Air mata meluncur bercampur perasaan bahagia di benak keluarga mempelai, terutama Exsar. Exsar menikah di usia 25, sementara Claudia 21. Exsar tak menyangka lautan kini telah membentang luas di hadapannya. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana ia mampu mengayuh perahunya hingga ke pelabuhan kedamaian dan kebahagiaan. Janji Claudia yang pernah selalu menguatkan dirinya.

“Sayang,”  bisik Exsar di telinga Claudia yang berbau kasturi, di putih gaun kebayanya.

 “Mereka sudah tahu, Mas. Dan yang membuatku yakin, kau benar-benar diciptakan untukku adalah papa dan mamaku dan keluargaku yang ikhlas serta mengizinkan aku mendampingimu hingga detik ini”  Claudia semakin mendekap tangan Exsar kuat. Keduanya lalu sama-sama tersenyum menatap teman-teman dan orang-orang yang menjadi tamu undangan hadir, melengkingkan senyum ke arah mereka.

*

Di kasur pengantin yang berbau bunga kasturi. Bertebaran bunga mawar merah dan melati. Exsar merebahkan tubuh Claudia yang mahaharum segalanya di hadapannya.

“Aku akan memberikan apa yang kumiliki untukmu seutuhnya, Mas”  kembali degusan yang dalam.

“Aku juga.”

Tak ada kata-kata yang merayap kembali.

Biarpun tak ada putih di tangan, dada, dan tubuhmu saat ini, kan kucarikan dengan merahku bersamamu. Meski aku belum menunjukkan merah dan merah yang kuat akan menemukan putih, dan merah dan putih mustahil menjadi magenta di diri kami, aku hanya mampu berebah, pasrah, menyerahkan diriku, untuk menerima abadi, dan besar serta kuat cintamu.

KETERANGAN

  1. Dayu: objek wisata alam dan kebun binatang di kabupaten Sragen
  2. Kliwonan: objek wisata kampung batik yang terkenal di kabupaten Sragen
  3. Kutu baru: sejenis pakaian kebaya wanita
  4. Pendopo Sumonegaran: pendopo dinas bupati Sragen
  5. Gedung Kartini: gedung resepsi pernikahan yang sering digunakan warga terutama di Sragen daerah kota

KINCIR DUKA

Tak ada lagi kalimat yang terputus dari bibirku, aku menyetujuinya. Semua bagaikan buah rasa yang kutelan kembali atau segera kumuntahkan. “Baik, Dok. Selamatkan bayinya. Biarkan dia tetap hidup”  aku menitikkan air mata. Dokter memandanginya dengan mata yang nyaris tak percaya. Ini kehidupan. Tak semustinya seseorang melepas seseorang dalam dirinya yang itu merupakan tali merah dalam kehidupannya yang berharga. Kehidupan menginginkan kasih tetap terjaga, hubungan yang mulia, dan tali yang begitu kuat, dan itu adalah cinta dan rasa saling memiliki yang saling melengkapi.

“Bapak sudah memikirkan ini matang-matang?”  Dokter yang semakin dekat dengan wajahku itu, seakan memaksaku. Memang benar, mungkin rasa tak bersalah itu tak bertandang minggu, bulan, atau tahun-tahun selanjutnya. Namun hanya satu hari atau dua hari. Akh! Aku tak kuat menahan ini semua! Aku memilih pergi agar rasa pedih di hatiku tak begitu menikam. Bagaimana pun juga ini keinginan sang ibu yang mengharapkan anaknya hidup untuk membahagiakan sang ayah dan ibunya. Kebahagiaan itu tak akan datang dua kali, dan kebahagiaan itu telah di depan mata, kita akan selalu menyesal menolaknya. Begitu kalimat sang ibu yang meronakan kedua mataku. Meskipun aku berkali-kali menyangkal dan tetap mencegah keinginannya yang bulat, ia tetap memaksaku. Dan yang tak mampu aku bendung dari keinginannya yang mulia sebagai seorang ibu itu adalah, ia ingin mencintai aku dan anakku dengan memberikan aku dan anakku hidup, meskipun itu mempertaruhnya nyawanya sendiri.

“Lakukan, Dok, itu keputusan saya”  sayatan itu membuat relung hatiku, sebagai lelaki dan suami yang begitu mencintainya, berdarah.

*

Aku mengerat dadaku sendiri. Pekikan Anggun yang menjerit menahan rasa sakit yang luar biasa, benar-benar menukik hatiku seiring tangis dan jeritannya yang terlepas. Aku tak bisa lagi memeluk dan menjaganya di sampingnya, sesuai janjiku. Air mataku deras mengalir. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana keadaan Anggun di dalam ruang sana yang tengah berjuang demi kelahiran anak kami, yang telah kami nanti kelahirannya di dunia ini selama tiga tahun. Bertahun-tahun keinginan dan penantian besar kami akan terpenuhi jika kami mau merelakan pengorbanan dan perasaan besar dalam diri kami. Begitu pesan Anggun yang ia harap aku tak ingin melupakannya.

“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?”  saat Dokter membuka pintunya. Aku langsung berhambur dengan disiksa perasaan cemas. Dokter hanya menundukkan kepala. Aku mengguncang-guncangkan bahunya. Dokter berkata begitu berat. “Ibu Anggun sudah meninggal, Pak. Kami tak bisa menolongnya. Sementara bayinya, selamat. Meski tubuhnya begitu dan beratnya tak seperti rata-rata bayi biasanya. Hanya ini yang bisa kami lakukan, Pak. Kuatkan hati Bapak ya, Bapak harus bersabar”

Aku menjerit. Menangis sekencang-kencangnya. Baru saat ini aku menyesal, menyesal sekali. Aku terjatuh dengan tangan memegang tembok. Kenapa aku melakukan kerugian dalam jalanku sendiri! Semua ini telah terjadi!

*

Aku merenung mengingat peristiwa itu. Dalam kesedihanku menatap sesuatu yang pasti tak terjadi, aku selalu menguras ketermenunganku akan hal itu. Dalam kehidupan yang semustinya kuharapkan berjalan, tak ada Anggun. Di sisiku hanya ada kemarahan-kemarahan. Aku mencintai Anggun benar-benar dalam relung samuderaku terdalam

“Pa, ajarkan Nirwana menggambar perahu, Pa. Nirwana belum bisa. Nirwana mau diajarkan sama Papa”  aku hanya menatap sekilas wajahnya yang berderak mendekat dengan sepasang tongkat kayunya, menggenggam buku gambar besar, pensil warna dan kotak pensil.

Aku menyambarnya. Pyarr.. Buku gambar, pensil, dan seluruh kotaknya bergelimpangan di lantai. Aku melihat rasa takut dan menyesal dalam dirinya. Aku terlihat bringas marah, muak!

“Minta orang lain! Jangan Papa! Dan, jangan pernah meminta papa untuk mengajarimu!”  amarahku serupa gunung api yang tengah melahap seluruh isi rumah. Ada yang mencabik-cabik hatiku. Nirwana, anakku, hanya terlihat gemetar. Ia terpaku dalam kesedihannya.

Eh, apa-apaan ini! Burhan. Tak sepantasnya kau seperti ini pada anakmu. Ia masih kecil. Mungkin benar apa yang digariskan Tuhan padamu. Dulu, kalian sangat ingin sekali memiliki anak. Namun, saat Tuhan memberikannya pada kalian, kalian malah menyianyiakan. Karena kau belum tentu bisa merawat dan menyayangi anakmu. Mungkin Tuhan memiliki maksud lain dari peristiwa ini. Hm. Kau harus ikhlas”

“Anggun mati gara-gara bocah setan itu, Ma! Dia yang telah mencelakai Anggun!”  sentakku. Mama dan Nirwana hanya berpelukan erat. Air mata keduanya meleleh. Aku lantas pergi. Menyambar kontakku di meja.

Belum sampai aku menapaki mobil dan menyalakan mesin, aku sudah melihat mama mengikutiku. “Cukup, Burhan! Cukup! Tak sepantasnya kau berkata seperti itu lagi pada anakmu!”

Aku tak menggubrisnya. Semua bagaikan petasan kembang api di langit yang sekejab melebur. Aku masuk ke dalam mobil dan pergi.

*

Akh. Di taman ini kembali. Mengapa aku selalu mengingat sosok Anggun di tempat ini lebih kuat. Seakan ia berlari, mengejarku. Aku membayangkan diriku berhenti dalam pelarianku. Membiarkan Anggun menerka tubuhku, hap! Seperti kaki kijang. Namun, semua terhapus oleh desir angin. Aku menyadari Anggun sudah mati.

Semua tak akan kembali. Sekuat apapun aku membayangkannya. Akh! Aku menghantam tanganku dalam rumput yang membalut tanah. Aku berteriak menyeru langit-langit.

“Mas?”  aku termenung. Ada wanita yang memanggilku. Anggun?. Bisik hatiku. Lantas aku berpaling.

Aku hanya mendapati Matahati berdiri memandangku. Desir angin membelai wajah dan rambutnya. Aku kecewa, ternyata aku hanya berhalusinasi. Aku mengeram dadaku kuat-kuat. Lantas kembali.

“Mas, Mas kenapa?”  semuanya begitu lembut, sama seperti Anggun. Kurasa, ia berjalan mendekat. Dan kulihat ia telah berada di sisiku. Aku masih berat memandangnya.

“Apa yang Mas alami?”  ia memang benar-benar baik memperlakukanku. Mungkinkah, ia titisan dari Dewi Anggun yang diturunkan kepadaku. Semua, mirip dengan Anggun. Dari pertama kali aku bertemu dengannya. Ia merupakan teman satu kantorku. Jiwanya yang selalu ada di mana pun aku berada, selalu mengingatkanku pada Anggun. Ia selalu mengisi hatiku, entah bagaimana perasaanku.

Darinya, mungkin aku mengenal sesuatu yang berkesan. Aku harus membuka cinta yang baru, semua demi diriku, demi Anggun. Aku yakin Anggun tak akan tenang di alam sana jika aku terus-terus menangis dan memikirkannya. Aku tak akan mendapatkan penderitaan ini lebih lama.

“Oh. Tak apa. Kenapa? Ada yang salah ya”  aku mencoba menegakkan diriku. Meski sungguh kaku dan berat. Apa?! Aku segera membelalakkan mataku. Aku melihat senyum Anggun menawan untukku. Kulihat wajahnya adalah Matah, tapi ia segera memelukku, mendekapku, dan mengelus-elus bahuku. Sama seperti apa yang kurasakan bersama Anggun. Aku terpejam.

*

Aku memutuskan untuk menikah dengan Matah. Membawanya pergi bersama bayang-bayangku. Aku ingin kepada dirinyalah, aku menjejakkan kakiku di jalan baru. Ya. Kepada diriku saja aku tak menemukan perasaanku. Kuharap, ia adalah Anggun yang menghapus sisi gelap dari kepedihan hari-hari lalu dan kekelaman yang kualami.

“Kenapa Mas?”  Matah tampak termenung menatapku di atas ranjang. Ia terduduk di sampingku dengan membekuk kakinya. Aku meminta, lampu dimatikan. Saat malam pertama dengannya, aku ingin angin yang mengaung di dadaku lebih bertambah gusarnya. Matah hanya menurut saja.

Aku mengalami eksibisionisme. Dimana aku bersentuhan dengannya, aku selalu membayangkan bukan dirinya yang utuh menyentuhku. Dalam realitas, aku menghabiskan tubuh Matah. Namun, aku merasa bukan Matah yang menggersangkan seluruh nafsuku. Akh.. Aku tak peduli.

Senyum di bibirnya sebagai puncak dari seorang gadis melengking, bersinar. Membuat dada ini mendekat. “Hahh…” aku menderu. Kami saling meremas tubuh. Aku mengerat tubuhnya yang lembut. Ia menjamah rambutku. Kami saling mengulum bibir. Lidah kami seperti ombak yang tak ingin mengalah. Kami saling menggigit bibir.

Akh.. Anggun. Akh… Saat aku membuka mata, ternyata aku sudah sadar bahwa Matahlah yang mempersembahkan malam itu kepadaku. Bukan Anggun. Aku hanya terus berderu.

*

“Mungkin aku tak akan pernah biasa dalam membayangkan betapa luar biasanya harapan yang kita tanam lalu terpetik menjadi buah penantian yang terlewati. Aku tak sempurna menjadi wanita untukmu, untuk satu-satunya pria yang kucintai di dunia. Aku hanya selalu menyerahkan hatiku untukmu. Kita pernah bermimpi, Han. Mendapatkan seorang putra mahkota yang kelak mampu memposisikan aku di hati kedua orangtuamu. Bahwa cinta kita memang mampu menghadirkan kesempurnaan. Bila kau menatap langit, kau tak akan pernah melihatku. Karena aku hanya akan di hatimu. Ketulusan dalam dirimu telah dibawa terbang oleh anakmu. Kapan kau menyayangi anak kita seperti janji kita dulu sebelum aku hamil dan memiliki anak. Kau ada untuknya. Tapi, aku tetap mencintaimu, Han. Karena kaulah, aku selalu menjadi wanita yang kaucintai. ”

Aku terbangun dari lamunanku. Aaaa. Aang. Anggun.. Ia bersuara dalam hatiku. Ia memang bersuara dalam diriku, bukan langit-langitku. Aku terpaku menatap Nirwana dari balik kaca mobil dengan beberapa temannya yang bersamanya.

Nirwana hampir berkelahi dengan kawan-kawannya. Aku berlari mendekati mereka.

“Aaa.. Kasihan ya. Nirwana nggak punya mama. Kini ia dicampakkan sama papanya. Aaa. Makanya kamu di sekolah jangan sok pinter dan sok perhatian sama guru”  mereka tampak tertawa puas.

“Apa tahu kalian! Nggak kok! Aku masih punya Oma dan Opaku”  Nirwana tampak berbicara lantang.

Heh! Pergi kalian semua! Dasar anak nakal”  aku spontan membela anakku yang dilukai oleh mereka. Kepedihan ini begitu menikamku. Aku memeluk anakku, mengelus-elus rambutnya. Mereka segera berlari.

“Pa, makasih ya. Aku sayang Papa. Ternyata benar kata Oma, Papa sebenarnya adalah Papa yang baik!”  ujar Nirwana, bahagia. Di depan sekolah yang dipenuhi kepulangan anak-anak itu, aku terpaku. Desir angin perlahan hidup, menyergap, dan menyerang diriku.

Aku menyungkurkan tubuh Nirwana di bebatuan. “Hah! Dasar anak tak tahu diri! Kau kira aku benar-benar menganggapmu sebagai anakku! Kau tahu! Istriku mati gara-gara kamu!”  sentakku. Ia terlihat menangis.

Dan, aku tak menyangka Matah tiba-tiba datang memeluknya. Bagaimana ia bisa datang kemari? Matah mendekap erat Nirwana seakan tak ingin kepedihan kian menyergap hatinya kembali.

“Pergi Mas!”

“Matah… Aku nggak bermaksud..”

“Pergi Mas! Nggak seharusnya Mas memperlakukan ini pada anak kandung Mas sendiri. Mas bukanlah seorang ayah!”  lidahku terasa kaku untuk menelan ludah. Aku bingung untuk menjelaskan kepada Matah seperti apa. Tubuhku bergetar.

Matah memilih untuk pergi. Dengan memelototi wajahku yang tak kunjung pergi dari sisinya. Aku tetap pada rasa bersalahku. Namun, saat Matah dan Nirwana melangkah, aku melihat truk beton melintas di depan mereka. Aku berteriak. Tubuh mereka terhempas beberapa meter.

Darah berceceran di mana-mana. Bersimbah

*

“Ambil darah saya, Dok. Darah saya AB. Hanya darah saya saja sekeluarga yang cocok. Ambil darah saya untuk istri dan anak saya, Dok”  aku begitu cemas di hadapan Dokter. Serasa, aku tak ingin mengulangi kesalahanku untuk kedua kalinya. Mereka adalah nyawaku, Bila tak ada nafas mereka di dunia ini, aku akan mati.

Aku baru benar-benar sadar. Aku terlalu egois sebagai seorang ayah. Aku terlalu mementingkan perasaanku di dunia ini, daripada kasih sayang untuk anakku. Aku ingin mereka selamat. Dan Tuhan menginginkanku untuk benar-benar mengasihi mereka sedalam hatiku.

Layar di komputer menunjukkan garis kritis. Dokter segera masuk ke dalam ruang UGD. Papa dan mama tampak cemas di luar.

“Keadaan Saudara Nirwana benar-benar tak bisa diselamatkan lagi, Pak. Tapi kami akan terus mencoba”  Dokter mengerahkan seluruh kemampuan dan peralatan yang dimilikinya.

“Selamatkan anak saya, Dok! Selamatkan anak saya!”  aku menangis bergelimpangan air mata. Aku memang sepantasnya tak menjadi seorang ayah. Aku terlalu kejam untuk diberikan kesempatan kedua untuk merawat dan membesarkan anakku. Aku terus berdoa, entah Tuhan memutuskan apa. Aku tetap yakin dan berkeinginan nyawa anakku terselamatkan.

Tiba-tiba Nirwana tersadar. Detik-detik yang menghunus jantungku. Aku mengerat tangannya. “Nirwana Sayang, Papa ada di sini, Nak. Maafkan papa ya, Nak. Papa ingin kamu melihat kesanggupan papa dalam merawatmu. Papa berjanji akan menjadi papa yang baik, Nak. Kamu harus bertahan ya. Demi papa…”  butir-butir air mataku meleleh membasahi tangannya.

Nirwana hanya tersenyum. “Pa, Papa adalah Papa Nirwana. Nggak akan ada yang mengambilnya, Pa. Papa. Papa jaga diri Papa baik-baik ya, Pa. Karena Nirwana juga menyayangi diri Papa”

senyuman matahari yang tak begitu lama mewarnai wajahku itu, membuat diriku rapuh dan tangisku semakin menjadi. Aku mendekapnya erat, erat sekali, seakan tak ingin memberikan apa yang menjadi hidupku. Kurasakan denyut nadinya berhenti berdetak. Layar menunjukkan garis datar. Nafasnya tak kurasakan tak lagi menyatu dengan nafasku. Aku tak ingin melepaskan tangan anakku. Ia hanya milikku. Bertahun-tahun aku selalu mendambakannya dalam penantianku. Bertahun-tahun aku mengharapkannya selalu tersenyum dan mengisi jiwaku.

Dan, saat semuanya telah kembali. Hanya denyut ketidaktahuan yang menyelimuti mata dan kaki kita. Mampukah kita menemukan arah? Kerena cinta selalu terduduk pada kesunyian

17-01-15

AYAHKU, KAKAKKU

Dahlan masih memandangi kilauan-kilauan foto itu. Beberapa halaman ia masih mencari-cari di tengah lorong kecil gedek1 rumah kamar kakaknya yang tertembus cahaya emas. Kakaknya tak ada di sana. Ia menginginkan berjalan-jalan pergi lalu diijinkan dan dituntunnya untuk melihat-lihat luar, setelah beberapa bulan di kamar beliau sakit batuk tak kunjung sembuh.

Dahlan masih teringat waktu itu. Ia tinggal di rumah yang didirikan dengan gedek dan beberapa kardus bekas itu. Kini kakaknya bekerja sebagai pengepul barang bekas, khusus botol aqua, buku, dan kaca. Kakaknya pernah menceritakan ia lahir dan dibawa pergi kemari oleh kakaknya. Kakaknya dulu membawanya usia 18 tahun, kini usia beliau 31. Kakaknya membawanya dengan barang sekenanya dalam amukan hujan mengendarai becak, kakak sempat mendapatkan amukan dari ibu-ibu dan laki-lakinya yang berusaha meminta susu untuk menyusuinya, dikira mengintip, mencari-cari tempat tinggal, dan saat mendapatkan tempat tinggal Dahlan dititipkan sementara pada Bu Netty, penjual nasi kucing terminal bus yang berbaik budi lalu sesekali kakaknya menengoknya atau membawanya saat pulang. Ia berasal dari keluarga yang saling bertengkar karena urusan harta warisan. Ayahnya bertengkar hingga ibunya gila karena tak ingin dicerai tanpa harta warisan dan gono-gini. Tak ada yang menjaga Dahlan, lalu kakaknya yang diusir begitu saja oleh mereka pun hanya membawa Dahlan karena tak ada yang ingin merawat Dahlan.

“Bagaimana perasaan ibu saat itu, bukankah ibu selalu mengharapkan anaknya di sampingnya? Apakah aku pernah ditimang sedetik pun oleh ibu?” tanya Dahlan sepuluh tahun yang lalu, saat mereka membanjirkan airmata bersama, membayangkan bintang-bintang dan rembulan di malam itu merangkai kisah mereka, saat kakaknya pulang dari bekerja serabutan demi membiayai dirinya. Namun kakaknya hanya diam. Tak ingin ia menjawab di antara desau angin. Kakaknya hanya bilang, ibu adalah orang yang baik. Kakaknya bilang jika ia adalah anak ke empat dengan lima bersaudara termasuk dirinya yang terakhir.

Dahlan dulu juga pernah mengingat, ia mampu bertemu dan mengobrol dengan ibunya walau ibunya tak jelas, saat ia memaksa dan penuh berbagai hambatan, akhirnya kakaknya mau mengantarkannya pada ibunya, dengan kakaknya akhirnya meneteskan tangis berat walau tak mampu ditahannya. Ia sangat mirip dengan ibunya. Namun hingga kini belum pernah bertemu pada ayahnya. Mungkinkah ayah dan ibunya adalah orang terjahat selama ini? Merekalah yang membuat ia dan kakaknya menderita dan tak mengakui mereka? Sungguh sebenarnya selalu ada rutuk di hatinya tatkala mengingat peristiwa-peristiwa yang dibayangkannya itu. Dari tembusan cahaya matahari yang membelalakkan tubuhnya hingga pintu kamar kakaknya yang terbuka menghadirkan pada tubuh kakaknya langsung yang menatapnya, ia hanya terkejut. Meski bersikap biasa, namun kakaknya tetap ingin tahu apa yang digenggam dalam sembunyian tangannya itu, dan setelah dicari-cari saat dihalangi, akhirnya kakaknya mengetahuinya. Kakaknya tiba-tiba menggamparnya berkali-kali. Dahlan hampir menangis namun ditahan, tatkala menatap pelototan kakaknya. Baru kali ini, seumur hidup kakaknya menggamparnya. Mungkin kakaknya betul-betul marah dan tak suka jika ia merecoki kamarnya, barang-barang yang dimilikinya.

“Dahlan! Kakak sudah bilang kan jangan sampai kamu  melihat-lihat barang kakak! Kamu dengar nggak sih! Anak yang nggak diuntung!” tanpa sadar Dahlan menggelindingkan airmata perihnya. Kemudian Dahlan hanya berlari, menangis keras di luar. Kakaknya tersadar, tiba-tiba ia bergidik. Ia meremas seluruh wajahnya seakan agar terlepas.

“Dahlan… maafkan kakak…”

*

“Jadi, selama ini Mas Wahyu masih sayang sama Dahlan? Maafkan Dahlan ya Kak. Dahlan janji deh nggak bakal nglihat-lihat lagi barang kakak” malam itu tatkala beribu-ribu kakaknya berusaha membujuk, perlahan, dan dalam waktu yang pasti pula, saat keduanya sama-sama mampu diajak berbicara dan menceritakan semuanya. Dahlan merasa seharusnya ia yang meminta maaf kepada kakaknya. Selama ini, kakaknya melarangnya untuk bekerja, seharusnya ia mampu mengerti kata-kata kakaknya. Mungkin saja kakaknya yang tiba-tiba tersulut amarah. Dan ia juga harus membantu apapun yang terkecil. Ia harus berprestasi, tak menyusahkan kakaknya. Selama ini ia berjalan seadanya, makan seadanya, namun ia harus menunjukkan ia bisa membaca, ia bisa berhitung, walau teman-teman mengejeknya adalah anak idiot, anak yang tak diakui oleh ayah dan ibunya. Dan seperti yang ditekadkan oleh kakaknya, bagaimanapun ia harus sembuh dari penyakit jantungnya. Agar ia tak keluar-masuk, cuci darah lagi, seberat apapun, lagipula dengan mencuci darah akan menambah beban kakaknya serta mencari uang banyak lagi.

Walau dalam maafan dan pelupaan mengingat hal-hal yang ingin diketahuinya tersebut, dalam foto yang ingin ia ketahui siapa ayahnya dan kakak-kakaknya tersebut, masih terbesit teringat, dulu kakaknya pernah bertanya pada Dahlan dalam acara TV di warung mie ayam, Mas Wahyu baru gajian. Pertanyaan yang menggelitikkan dan ia anggap sebagai humor terlucu Mas Wahyu. Ada suku yang mendiami daerah pedalaman Gorontalo bernama suku Polahi, untuk melestarikan keturunannya mereka harus melakukan pernikahan sedarah yang menjadi adat. Suku Polahi juga tak membawa pakaian, hanya cawat bagi laki-laki maupun perempuannya, kemudian saat diganti terlihat tayangan sedarah lain. Seorang gadis SD yang sendiri melakukan UN karena hamil 9 bulan dan dihamili ayah kandungnya sendiri. Begitu biadab! Dan tak bermoral orang itu! Dan bagaimana jika salah satu keluarga kita ada yang melakukan hal itu. Namun dengan pura-pura enteng meski terlihat sedikit geram, ia hanya menjawab tak ada masalah sih, toh apapun yang telah terjadi mereka tetap keluarga kita, meski geram di dadanya lebih dan menyimpan sangat tanda tanya.

“Nggak, nggak papa. Mas Wahyu yang meminta maaf ya. Karena selama ini Mas Wahyu tak pernah memberitahu siapa keluarga dan kakak-kakak kita. Kelak Dahlan akan tahu, tapi mungkin ini belum saatnya” mereka pun tersenyum lalu saling berpelukan. Tadi siang sebetulnya ada bapak-bapak yang datang kemari, ia membantak-bentak dan mencari Wahyu, meroboh-robohkan gubuknya. Tapi Dahlan mampu melerai dan memanggil orang-orang sekitar untuk membantu dan mengusirnya. Akhirnya saat bapak-bapak itu terseret pergi dan menyerapah ia akan membunuh Wahyu, Dahlan menata kembali gubuknya yang hancur. Karena saking hangatnya pelukan Mas Wahyu itu, melebihi apapun di dunia ini, ia melupakan ingin mengatakan itu pada Mas Wahyu.

*

Dahlan kembali kambuh, kini dokter berkata tak ada harapan lagi bagi Dahlan. Wahyu hanya menangis. Sesaat sebelum sayup-sayup bayangannya, ia yang bekerja menutupi kekurangan kondisi mereka, dengan bekerja sebagai tukang pengupas nanas di Pasar Bunder Sragen hingga pulang tengah malam, ia yang selalu mengajari dan mengusir orang-orang yang mencercanya sebagai anak idiot, ia yang selalu mencium dan memeluk Dahlan saat usianya 5 tahun sepulang ia lelah bekerja dan berkata “Udah, nggak usah dibikinin teh atau air panas, cukup ngesun2Dahlan saja Mas Wahyu cukup senang kok”, dan peristiwa-peristiwa lainnya, dulu ia putih, kecil, tampan, dan senyum menawan hingga kini ia legam, tubuhnya agak berkeriput dan kurus karena menangung seluruh lindu kehidupan, ia yang selalu bingung akankah ia mengatakan pada Dahlan secepat itu. Air mata menetes di antara bayangannya yang terus menghadirkan langkah kaki yang berjalan di depannya itu. Ayahnya memeluknya. Wahyu menangis tak menyangka. Ingin ia tahu dimana ibu, tapi ayah dan saudara-saudaranya berkata bahwa ibu belum sembuh di rumah sakit jiwa.

Dulu ia masih mengingat, ia tak menyangka, bahwa hal itu akan mendera dirinya dan menyampahkan keluarganya. Ayahnya yang pulang pergi di Jakarta, membuat ibunya kesepian, sehingga ia melampiaskan gejolak birahinya yang kian membesar pada Wahyu yang telah dibiusnya. Wahyu juga agak terheran dengan perhatian ibu yang lebih dan tak sewajarnya padanya. Dahlan selalu mengisahkan bahwa ayahnya adalah kakaknya, yang membiayainya, banting tulang siang-malam, melebihi banting tulang ayah dan ibunya, dan ternyata ayahnya, kakaknya, yang sebenarnya adalah ia yang merupakan ayahnya kandungnya sekaligus kakaknya selama ini. Sementara orang yang pernah pergi ke gubuk kardusnya menghujat-hujatnya, yang selalu diigaukannya selama koma, yang mungkin ia batin ayahnya ternyata kakeknya. Dan ayahnya yang seakan ingin bersujud hina padanya yang telah berbuat salah dan menelantarkannya, terus memeluk dan menguatkan Wahyu.

“Sehina apapun orang menganggap kita, tapi Tuhan telah berkehendak. Kita harus kuat Wahyu…”

Airmata Wahyu melebihi derasnya darah yang tertombak muncrat. “Ia belum siap Ayah untuk menerima kenyataan. Usianya baru 14. Bagimana jika ia tak mampu menerima kenyataan. Ia adalah anakku, apapun akan kulakukan untuk dirinya. Ia adalah anugrah terbesar untukku…” dengan menahan seluruh tangisnya, seakan menahan gravitasi bumi, dengan dituntun oleh ayah dan kakak-kakaknya ia berusaha masuk dalam kamar Dahlan, walau ia senang Dahlan sudah tersadar.

Namun sesaat, layar extanasia mengambarkan garis lurus. Dahlan sudah tak sadarkan diri. Dalam pijakan kakinya dan berhambur, Wahyu berteriak “Dahlan….. hahahaha…” tangisnya menganak ciliwung. Ia terus menangis, dan menangis dalam pelukan hina.

08.50

22/08/2016

Dalam Kamar Inspirasi

KETERANGAN

  1. Gedek              :           rumah kayu
  2. Ngesun            :           nyium

SENJA DI SISI BENGAWAN

Matahari tampak menyetrika tubuh orang-orang yang menggaruk pasir lalu memuntahkannya di perut truk itu. Hitam legam bagai batu penghuni bengawan. Banyak kepala yang timbul lalu berubah menjadi dada, perut, dan kaki-kaki yang melangkah pula membopong pasir di tempat yang tak jauh ia menepikan capingnya atau tidak. Matahari bagaikan turun sejengkal, seperti yang dikisahkan dalam Al-Qur’an, pedoman umat Muslim, tatkala Yaumul Akhir datang. Jika ingin menceburkan raga mereka di bengawan yang dalam dan seluas lautan, namun titik-titik keringat yang dikumpulkan dari hela nafas dan kerja keras mereka sudah menganak bengawan.

“Yu, galo. Bos’e kon jipukke ayakan galo…” sangkakala seorang lelaki yang tak ada bedanya dengan orang-orang Ambon dan Papua itu. Ia hanya mengangkut pasir, mengarak-arak, makan bersama laki-laki itu, dan terkadang membantu truk yang tak bisa berjalan karena kepenuhan muatan untuk didorong. Meski terpaksa menjalankan pekerja sebagai penggaruk pasir, ia hanya mampu menjalankannya saja. Ia menghabiskan semua hidup, bila ia hanya berdiam saja, ia yang akan langsung mati sementara hidup sedikit demi sedikit perdetik menggerogoti tubuhnya hingga rapuh bagai rumah rayap. Usianya memang 58 tahun, lilitan tekadnya seakan 20 tahun. Untuk mendapatkan pekerjaan itu saja, bosnya terpaksa karena menerima dari ia adalah istri yang ditinggal mati oleh suaminya yang tenggelam di dasar bengawan itu. Upahnya yang hanya 8000 perhari hanya mampu ia gunakan makan bersama anak-anaknya, selebihnya di-irit-irit1 untuk membeli kebutuhan lain.

Saat ia menggaruk-garukkan pasir dan dimuntahkan pada truk yang silih berganti itu, ia mendapatkan teriakan dari bos mandor yang agak muda. “Pak, nanti sampai Maghrib masih ada truk yang ke sini mengangkut kayu, jangan ada yang pulang dulu ya”

“Oh… nggih2, Den…” sahut Pak Sumarto, tangan senjanya yang penuh dengan korengan karena gatal, karena terpercik aliran bengawan yang dulu tercemar cairan, atau terkena sayatan arakan yang putus, menyahut, mengantarkan kami mengangguk dan terus melayani panas matahari dengan meluntah-luntahkan pasir.

Sebetulnya senja-senja yang lain ia selalu pulang, mandi di sisi bengawan yang jauh dari bagian laki-laki, dengan menyelulupkan diri walau dalam aliran deras sekalipun. Sekalian mencuci pakaian, menjemurkan pakaian yang biasa ia kenakkan di pohon buah ular. Seusai Maghrib air bengawan tak baik untuk orang-orang. Dan yang membawa batu untuk di-petík3di rumahnya dengan tenggok, ada yang mampir di kebun untuk mencari rumput.

*

Di rumah yang dibentang oleh persawahan dan jalan menuju bengawan yang luas itu, sebetulnya ia hanya menganggap rumah itu rumah. Rumah itu tak lebih dari gubuk yang terdiri dari bédéng4 terpisah lalu didirikan hampir ambruk itu, siap-siap jika hujan menerpa. Sebab lebih baik tak perlu singgah di gubuk pula, sebab tubuh mereka tetap basah kuyup, mereka berteduh di pawon5 yang tempatnya lebih kokoh. Namun Darmi masih beruntung, rumahnya masih diapit oleh rumah-rumah bedeng lain dan jauh dari angin, maka kemungkinan terjatuh atau dihajar topan masih minim. Di pawonnya dikerumuni asap, ia bersama Galih, Gandrung, dan anak angkatnya Toro, yang Darmi sendiri kasihan mengajaknya tinggal bersama karena mencari ayah dan ibunya yang meninggalkannya di sekitar rumahnya.

“Mbok, tadi bapak yang galak itu datang lagi kemari katanya rumah kita mau digusur, Mbok” ujar Galih, rambut panjang yang dikucir dengan gombal6 yang kusut bercanda dengan angin. Mata renta Darmi hanya menatap hujan yang berusaha menggali-gali dan merobohkan bumi itu walau tak sampai. Kemudian ia hanya menenangkan anak-anaknya.

“Rumah kita nggak akan ada yang nggusur, Ni6. Tuhan yang akan jaga kita. Kita nggak usah takut. Lagian kita nggak salah apa-apa. Orang besar memang selalu menindas orang kecil” kemudian ia meniup-niupkan api pawon, memasukkan kayu ke dalam agar api yang digunakan menanak jenang membesar. Besok adalah bancaan7 weton8 bapaknya. Bapaknya telah mati, entah karena apa, orang-orang pengarak bilang bangkainya ditemukan sisi bengawan itu. Ia berpikiran jika bapaknya tenggelam, terseret arus deras saat hujan karena tergelincir. Semua hanyalah kehendak Sang Maha Kuasa. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh manusia yang menimpanya, manusia hanya mampu berserah.

“Mbok, kita makan ayam ya” ujar Toro yang mengamati Darmi membolak-balikkan dan memberi bumbu ayam yang dibakar di pawon. Darmi hanya tersenyum mengangguk. Kemudian hujan telah sirna. Namun dingin masih terasa, membekap hingga pankreas mereka. mereka mencoba menyelimutkan diri, menyelimutkan dengan doa.

Pagi-pagi sekali sebelum Darmi mencari pakan9 ternak tetangga di kebun, ia siapkan sesajinya. Nasi putih, ingkung ayam, jajanan pasar, lengkap dengan sayur-mayurnya setelah didoakan oleh sesepuh dan dimakan oleh mereka. Sama seperti pagi-pagi tahun-tahun sebelumnya, ia pijakkan kaki yang hendak putusnya, berjalan di pematang sawah menuju bengawan, bersimpuh di sisi bengawan, menengadah ke langit, ia hanyutkan sesaji itu terseret oleh arus. Semua yang kita lakukan akan kembali kepadaNya.

Di bengawan itu juga menyimpan sejarah dan cerita yang mistik. Dulu banyak orang-orang PKI yang dibuang dan dibunuh oleh aparat pemerintah menyusul bangkai orang-orang pribumi yang mereka buang. Ustad-ustad, kyai, orang-orang pintar, atau mbah-mbah dahulu banyak yang mengaku jika bengawan itu sebetulnya merah.

*

Siang yang kian menerik, selalu lebih menerik dari siang-siang sebelumnya, ia terus meluntahkan pasir dan terkadang mengumpulkan seluruh kekuatannya mendorong truk yang keberatan dan hendak tergelincir ke bengawan. Caping yang dikenakkan Darmi terlepas. Ia hanya terpaku saja melihat capingnya dikunyah oleh bengawan.

“Anakku yang masih sekolah sendiri sekarang sekolah sampai sore tek. Sama seperti bapaknya yang bekerja. Alhamdulilah anakku pasti menjadi pintar, berbeda dengan Mas dan Mbakyunya yang bodoh” salah seorang pengarak bercerita dalam samurai matahari, mungkin menyemangati dan sebagai hiburan orang-orang lain.

“Halah, kalau sekolah sesore pun biayanya memberatkan orangtua yang sama saja” ujar Sentón, menggilas keringat yang hampir terjatuh di mata retaknya.

Kemudian senja hadir kembali, setiap hari. Ia tak peduli dengan senja yang ia harus berdoa untuk menunggu kematiannya, berkumpul dengan keluarganya, dan tinggal beramal. Baginya adanya senja ataupun tidak sama saja, yang ia pikirkan hanyalah mampu mencari nasi yang dibuang oleh siapa saja. Hari ini, hari merah dimana ia dan pengarak lain menerima upah dari mandor pasir. Dan ia yang menerima upah sedikit.

“Lho, Pak, upah saya kok hanya 4000. Bukannya biasanya 8000” Darmi hanya mengamat-ngamati lembar-lembar berkerut hampir sirna tulisannya itu bernilai.

Mandor itu hanya membentak. “Emang kau kerja apa! Kerjamu tak becus! Kau adalah pekerja perempuan saja di sini, jadi paling kerjamu yang ringan-ringan!” sentak mandor berkumis tebal itu, bagai harimau yang kelaparan. Dalam bengawan ini semua tampak sepi. Pengarak-pengarak lain tampak pergi dengan membawa upah mereka dalam payungan senja. Walau Darmi membatin, ia juga disuruh ke sana dan kemari, menggantungkan nyawanya pula, hanya untuk bertahan sebagai pekerja pengarak di bengawan yang telah ia kasihi ini.

Mandor yang biasa pergi ke rumahnya namun ia tolak, dan berusaha mencari kesempatan saat ia mandi di bengawan itu, tiba-tiba mendekat dan merayunya. Namun Darmi tetap menghindar. Meski ia miskin, ia tetap memiliki harga diri. Meski ia janda, ia masih merasa ada suami yang menaunginya.

“Bajingan Asu! Koe ojo macem-macem ya. Wong tuek tetep mbok embat” sentak Darmi, hampir terhindar, kakinya ditahankan terpeleset gronjalan-gronjalan10batu kali, dan hampir tercebur ke bengawan bagai lahar yang menyembur, saat mandor yang tuek ngekek11 itu memiliki istri yang sakit dan banyak gendakan12menyentuh payudaranya.

“Yu, aku yang sudah membunuh suamimu. Jadi apa lagi! Kau adalah orang miskin! Kau buruh yang tak berguna! Inilah takdirmu! Kau akan terus tertindas oleh penguasamu!” kemudian dilanjutkan dengan bahakan yang menggelegar mandor. Darmi tersentak. Hatinya tertohok tombak. Ia pincingkan jariknya, ingin ia remas-remas dan lucutkan pakaiannya bagai tak tahan dengan perasaannya. Matanya mengoranye berubah menjadi emas.

“Dasar! Manusia laknat! Sudah memeras keringat kami lalu membuang kami begitu saja! Kau bukan manusia tapi setan!” kemudian awan mengganti senja, terdengar guntur yang menggelegar. Hujan begitu bergemuruh. Darmi terus berlari-lari di sisi bengawan dikejar oleh mandor yang satu demi satu melucutkan pakaiannya itu.

“Darmi! Kamu jangan lari!!!” Namun Darmi hanya terus berlari. Kemudian ia menatap jalan buntu. Di sisi kanannya terpampang bengawan yang lebih luas dari bagian bengawan lainnya, lebih dalam, dan hanya dua atau tiga orang saja yang berani ke sana. Hujan semakin menggelegar, tiada henti, mandor itu semakin tertawa dan membayangkan harapannya telah di depan mata.

Darmi hanya menegadahkan ke langit. Menatap langit yang maha luas. Meski jarum-jarum hujan membuat matanya sobek dan berdarah-darah. Saat ia membenamkan wajahnya, ia melihat bengawan yang deras itu terbuka, Darmi hanya menyelup ke dalamnya. Mandor itu hampir mengikuti Darmi tenggelam ke dalam bengawan, namun ia selamat, hampir ia tenggelam. Tapi ia mampu berdiri dan berlari di sisi bengawan. Ia tak menyangka dengan apa yang terjadi. Hanya bayangan yang terngaung-aung di pikirannya. Kemudian ia hanya terbahak, terbahak dan terbahak, semakin menggelegar, dalam hujan yang kian deras namun sirna seketika dan berganti senja.

Orang-orang menatap mandor Karto sebagai orang yang telanjang dan terbahak-bahak kian menggelegar, berlari, dan menceritakan bahwa bengawan terbuka sendiri.

Tepat di sisi bengawan tempat Darmi tenggelam, tiba-tiba terluntah sesaji yang lengkap dan harum kembali dengan anglo menyan yang mengepul dan menyala segar. Lebih baik ia mati agar tak mucul Darmi-Darmi sesudahnya. Agar ia lebih mendapatkan tempat dari zaman yang lebih mengasihinya di zaman ini.

Sragen, 08.06

20/08/2016

KETERANGAN

  1. Diirit-irit                      :           dihemat-hemat
  2. Nggih                          :           iya
  3. Petík                            :           pukul
  4. Bédéng                        :           tembok dari bambu yang dianyam
  5. Pawon                         :           dapur
  6. Gomba l                       :           kain perca
  7. Bancaan                      :           kenduri
  8. Ni                                :           sebutan anak perempuan
  9. Weton                          :           hari kelahiran
  10. Pakan                          :           makanan
  11. Gronjalan-gronjalan   :           benjolan
  12. Tuek ngekek                :           tua bangka
  13. Gendakan                    :           selingkuhan

SEBUAH PERAN

Ia melihat istrinya mengibas-ibaskan kipas plastik di atas bayinya yang baru berusia 6 bulan. Luka habis melahirkan dan kedua kakinya yang masih amat pelan, terngiang, seakan belum meninggalkan bekas. Selama istrinya libur dari mengajar karena melahirkan sebagai guru honorer SMP Ma’arif, ia yang berkerja dan terkadang pulang dini karena menemani istrinya. Ada kebanggaan di raut wajahnya. Anaknya laki-laki, hidungnya mancung seperti dirinya, dan matanya besar seperti ibunya. Kelak bila ia besar, mungkin ia ingin kelak meneruskan cita-cita ayahnya sebagai seorang aktor FTV. Gajinya sebagai pemain, memang tak se-huwah yang orang bayangkan. Ia masih mencicil mobil, rumah peninggalan ayahnya masih batu bata, dan mereka tak ingin terlalu bergaya mengikuti kegiatan orang-orang yang walau bintang FTV yang filmnya selalu nongkrong di Indosiar setiap jam 12 siang, menyewa-nyewa pembantu, mereka masih sanggup melakukan itu berdua.

Saat setelah ia menghentikan pengkajiannya, di antara suara adzan Isyak yang ingin dinyalakan, mengisi Maghrib ia juga menyelesaikan membaca skenario. Tiba-tiba ia tersadar istrinya berjalan membelai tangannya.

“Mas, Mas sudah merenungkan keputusan Mas tadi. Nggak enak Mas. Mas kan baik, masih ada peran lain. Teman-teman Mas juga ustad semua. Bagaimana nanti pendapat tetangga. Masak Mas berperan sebagai orang Kristen sih” ia hanya terus tersenyum. Istrinya mengamati wajahnya lalu beralih pada Injil terbuka dan salib di genggamannya. Istrinya tahu bahwa suaminya menggunakan itu untuk menghayati perannya.

“Nggak papa, Dek. Ini kan cuman peran. Kecuali kalau kita Kristen sungguhan. Peran ini cuman sebentar kok, hanya tayang dua kali. Pengalaman juga perlu digunakan untuk mengasah kemampuan Mas” kemudian saat gerayap menatapkan mereka pada Gibran, anak mereka yang terbangun tergigit nyamuk, ia melangkah, diusirnya, ditenangkan dan tepuk-tepuk kembali, lalu ia memeluk lengan suaminya.

“Tapi, pas Naviza belanja, Naviza kayaknya disindir nggak langsung Mas, sama ibuk-ibuk, katanya membuat kita kafir tidak langsung”

Kemudian ia hanya menatapkan matanya. Diremas-remasnya tubuh Naviza yang bau perempuan, lalu dipancarkan rasa sangat pengertian. “Semua tergantung niatnya, Dek. Ini sudah konsekuensi sebagai artis. Mas sudah terlanjur menandatangani kontrak. Ingin peran itu diganti orang lain, berarti siap lari”

Dan mereka pun menghitamkan tubuh mereka berbaur dengan malam. Dan saat pagi datang tubuh mereka kuning kembali.

*

Hakim menatap-natapi FTV yang diperankannya 7,5 tahun yang lalu diputar kembali di stasiun TV lain, kemudian di stasiun TV lain. FTV yang mengisahkan cinta perbedaan agama yang akhirnya bersatu karena semuanya memilih untuk tidak beragama. FTV itu sangat manarik, menyita banyak perhatian penonton dan menuai berbagai pujian dari triliyunan natizen. Sebetulnya ia pernah bercengkrama kecil dengan teman-temannya, sewaktu SD yang sering menonton film bertemakan perbedaan agama, “emang hal itu boleh ya. Tapi kok bisa ya, dia kok Kristen berperan sebagai cewek Muslim” tanyanya pada salah satu teman perempuannya.

“Ya boleh lah. Kan cuman berperan”

“Artis mah nggak mikirin dosa, pahala, salah, benar, yang penting duit!” ujar salah satu teman laki-lakinya yang tiba-tiba datang, tak mengerti per-film-an, nimbrung. Mungkin ada benarnya kata-kata temannya itu, atau seluruh pendapat-pendapat di sekelilingnya, namun kenapa, ia tak menyangka ia melakukan dan memerankan hal itu Tuhan… berkali-kali pula, ia yang sering menjadi muadzin sebelum menikah dengan Naviza, bermain di Gereja, mengikuti natalan, dan masuk dalam upacara meski tidak mengikuti peribadatan. Ia yang melanjutkan di rumah dengan menghafalkan Injil atau bernyanyi-nyanyi. Saat salah satu tetangganya yang Kristen meninggal, ia ikut memandikan jenazahnya, namun dengan benar-benar ketetapan hati, ia berniat mendalami peran dan meningkatkan profesionalitasnya sebagai artis, tak lebih. Ia pun siap dengan cibiran, atau pendapat yang mungkin ingin memajukannya meskipun menyudutkannya, terutama keluarganya serta orang-orang Muslim di sekitarnya. Tiba-tiba Venza merah berbunyi, dari Ikhwan sahabatnya. Ia seorang ustad yang selalu bersama-sama kemanapun berada. Hakim menyambutnya dan mereka mengobrol di sofa. Selain terus-terus menasehatinya, ia juga bermaksud bertanya pada Ikhwan, ia mendapatkan tawaran berperan sebagai pemuda Kristen lagi.

“Sebetulnya itu nggak haram, Bro. Kalau untuk urusan duniawi semua tergantung mahdorot dan makrifatnya” Ikhwan tersenyum, ia menepuk pundak sahabatnya. Kadang ia berpikir, apakah ada orang muslim yang berperan sebagai Kristen atau agama lainnya, di sisi lain orang-orang yang nonmuslim berperan FTV menjadi Muslim. Dan pemuda Muslim itu adalah dirinya.

Tiba-tiba terdapat kerumunan orang-orang yang datang, mereka membawakan Gibran yang dilempar batu oleh seseorang yang membawakan surat ancaman dari laki-laki yang kini membawanya, saat ia bermain sepeda dengan kawan-kawannya. Ia begitu terkejut dan panik, namun ia tetap bersabar. Laki-laki itu menyerahkan surat yang kini dibacanya.

PEMUDA KAFIR!!! PEMUDA MURTAD!!! KAU MUNAFIK SEBAGAI UMAT ISLAM!!!!!. Di antara gejolak dadanya itu, Ikhwan hanya menabahkan, “mungkin, ini wajar, Bro, kamu kan artis. Mungkin banyak berbagai pihak yang tak rela kamu menanjak dan ingin menjatuhkanmu” kemudian mereka tak banyak berpikir, langsung dibawa Gibran yang pingsan itu masuk dalam mobil dan mengantarkannya ke rumah sakit. Darah mengalir dan bertetesan dari dahinya yang sobek itu.

*

Di rumah sakit, Gibaran tak apa-apa. Dokter ahli berkata untung ia cepat membawanya ke rumah sakit, kalau tidak, lukanya bisa tambah sakit. Beberapa teman laki-lakinya yang datang mendorong Hakim untuk melaporkan kasus ini ke kantor polisi, namun tak. Setelah ia mendengar bahwa Gibran akan sembuh 3 atau empat hari mendatang, tak ingin ia laporkan kasus itu ke polisi.

Dalam renyahan perbincangan itu, Hakim menerima panggilan dari salah satu nomer. Dari ibunya. Ibunya adalah penganut Islam yang taat, saudaranya tujuh. Ia anak pas paling tengah. Ibunya tak pernah melakukan KB. Ia sedikit berpikir lama, namun, ia tak akan pernah menaruh curiga pada keluarganya sendiri, tak, tak akan pernah.

“Kamu sudah ibu peringatkan kan? Peran kamu itu nggak baik. Pasti memberikan dampak buruknya. Itu baru di dunia, belum lagi di akhriat. Itu semua ulah kamu, namun anak kamu yang nggak bersalah yang menanggung” Hakim hanya menurut saja. Didengarkan kata-kata ibunya dengan saksama, tanpa ia memotong, menyanggah sedikitpun, hingga panggilan diputus, ia tetap mengucapkan salam.

Kemudian, yang dipikirkannya adalah, bagaimana ia benar-benar harus menguasai peran itu, ini sudah menjadi pilihannya. Tuhan telah tahu apa yang menjadi kehendaknya. Sebetulnya alasan ia menerima tawaran berperan dalam film yang akan diangkat ke bioskop itu selain ia yang telah menawar-nawarkan diri agar ia yang tak dipilih, namun sang kreator berkata bahwa ia yang sanggup berkonsisten dan menghayati peran serta ia menerimanya, juga kondisi keluarganya yang naik dan turun. Sebagai public fiqure, semua tak dikira selalu di atas, kadang ia menanjak dan berlebih, kadang ia turun dan harus segala mencari tawaran-tawaran lain agar kekurangan ekonomi di keluarganya tertutup.

*

Dalam mengerjakan film itu, Hakim selalu pulang malam. Ia jarang menemani Naviza yang akhir-akhir ini sakit batuk, walaupun Naviza ingin selalu ditemaninya. Namun Hakim juga tak putus-putusnya memberikan perhatian dan mengantarkan Naviza berperiksa di rumah sakit.

“Mas, kamu menerima tawaran main film itu kenapa nggak bilang aku sih Mas?” dengan lembut Naviza menurunkan belaian dan hangatan dari Hakim. Hakim hanya terperangah, namun dengan hati yang jernih ia menjelaskan.

“Kamu pasti marah ya. Mas tahu, tapi, mas nggak ada pilihan lagi buat nolak tawaran ini. Hadiahnya lumayan, Dek. Kita bisa liburan ke Swiss memenuhi ajakan Gibran, kita bisa umroh, kita bisa membantu hutang-hutang ibu kamu, dan tabungan kita menipis, Dek. Kita harus memiliki banyak simpanan lagi, terlebih jika kita, mas tidak menjadi artis lagi. Kamu tahu kan, mas merintis karir ini sejak kecil. Nggak mungkin juga mas meninggalkan profesi mas hanya karena satu masalah saja” kemudian Naviza memandang ke arah temaram. Mata yang mengabur-ngabur dari bayang-bayangannya itu ditanamkan pada suaminya. Selain memberikan nasehat untuk suaminya menjadi yang terbaik, ia juga harus mendukung suaminya dengan cara apapun. Ia adalah pendamping baginya. Kematangan atau kemasaman, harus mereka lalui berdua. Kemudian mereka saling berpandangan lama. Yang dilihat hanya wajah yang ditatapnya. Di luar, kendaraan seakan hilang. Rumah seakan panas melindungi mereka dari apapun yang mencoba melihat mereka. Hakim mengisyaratkan sesuatu dengan alihan matanya. Naviza hanya menunduk. Menunduk dalam. Hakim menuntun Naviza yang terdiam saja di kamar.

*

Pagi itu dengan perbincangan yang sama. Naviza menceritakan berbagai tanya dari siswa-siswanya yang menanyakan keharaman atau tidaknya ia berperan sebagai nonmuslim, saat pelajaran seni budaya, ia yang mengajar sebagai guru matematika. Kemudian ia hanya memberikan pemahaman apa yang dikatahuinya. Tiba-tiba, saat sarapan bersama Gibran yang 1,5 bulan lalu baru sembuh dari lukanya, mereka mengingat, saat sebelum shubuh mereka mandi junub, saat kondisi rumah masih terlelap, ada yang melempar kaca rumah mereka. Hakim mencoba mengejar namun tak sampai. Lemparan batu itu lengkap dengan surat ancaman itu pula.

ARTIS MUSLIM KAFIR!!!! TAK PATUT LAGI MENJADI PANUTAN MASYARAKAT!!!! BERHENTI SAJA KAU JADI ARTIS!!!!!!!! Namun dengan tenang Hakim hanya merobek-robek pesan itu, tersenyum pada istrinya, dan ia tak menyangka istrinya juga menyambung senyumnya. Mereka sepakat meloporkan kejadian-kejadian yang mengganggu keseharian mereka di kantor polisi. Saat pagi mulai berparasaut ke atas kini, mereka menyaksikan orang dengan topeng yang berbeda dari shubuh lalu melempar kaca sebelahnya. Kemudian hendak mengejar, polisi telah datang dua menit dari lemparan itu kembali. Mereka membiarkan polisi mengamankan dan mencari tahu apa yang menjadikan teror itu terjadi di rumah mereka.

*

Betulkah bermilyar-milyar orang yang menggangunya, ingin merusak karirnya, dan dua atau tiga dari ribuan orang yang menekan istrinya tidak langsung, adalah mahdorot dari apa yang ia pilih selama ini? Padahal, ia tak pernah berusaha mendapatkan penghinaan atau perlakuan buruk dari orang lain. Jauh ia telah berpikir bahwa tak ada satupun musuh dalam selimut, udang di balik batu teman-temannya, atau ia yang memiliki musuh nyata di kehidupan lalunya dulu. Airmata hampir menetes namun meminta kekuatan siang sanggup ia bendung, dan matanya hampir terasa keras tercubit. Di antara olesan-olesan make up, naskah skenario yang harus ia hafalkan yang kian bertumpuk, orang-orang berkebelabatan, atau orang-orang yang membawakan makanan serta alat-alat yang dibutuhkan orang lainnya. Ingin ia taruh peran itu, namun bagaimana mungkin? Apakah dengan ia memutuskan dan melupakan semua akan memastikan ia mengakhiri semua permasalahannya. Jika ia benar-benar memilih meninggalkan yang telah dijalaninya saat ini, berarti ia menyerah begitu saja dan sia-sia pula perjuangannya saat ini. Polisi mengatakan jika orang yang melempar batu bertubi-tubi ke rumahnya itu adalah orang biasa di sekelilingnya, yang ia melepaskannya. Banyak orang-orang yang terus mencibirnya, mencercanya, ia anggap nasehat yang benar-benar membuatnya tak goyah, dan beberapa orang yang turut menjadi simpatisannya, mendukungnya, ia bayangkan sebagai awal ia menatap ke depan lebih depan apa yang belum pernah diraihnya. Saat adzan dzuhur yang berkumandang ia sigap, menasehatkan dan menawarkan kepada make up timnya untuk segera sholat agar kewajiban usai kita bisa menatap pekerjaan-pekerjaan lain yang ingin segera kita selesaikan, serta agar mereka lebih maksimal me-make up dirinya. Ada dering ponsel. Sudah menjadi nalurinya. Salah satu kru mengantarkan ponselnya. Dari Naviza.

“Mas, Mas ada dimana?” tanyanya lembut, namun Hakim ingin mendengarkan pengakuannya begitu khawatir akan keadaanya saat ini. Jangan sampai ada segala sesuatu yang mendera istrinya.

“Mas jangan khawatir ya. Mas lanjutin aja pekerjaannya. Maaf ganggu. Ternyata aku sakit radang paru-paru Mas. Dan segera dioperasi. Aku nggak papa kok Mas. Ini aku lagi ada di rumah sakit bersama Gibran” mata Hakim bagai tertombak lumpur lapindo. Hatinya mengembang-kempis, lalu menghitam mengering.

“Oh…. beneran nggak apa-apa ya. Aduh… Sayang.. seharusnya Mas nggak ninggalin kamu. Seharusnya Mas ada di samping kamu… Gibran mana ini….” mereka berkata bagaikan lembar-lembar kertas putih yang berhamburan, melayang-layang ke bawah, lalu berhamburan huruf-huruf hitamnya.

Ia membayangkan ribuan bagai bermilyar-milyaran orang akan bertambah menyerangnya, menghujat-hujatnya, atau berkata hal yang tak pernah dilakukannya sebenarnya, pandangan ke depan yang membuat langkah kakinya tak sanggup mundur namun berjalan sigap ke depan, uang-uang dan harapannya yang berkurang dan ingin ia tambah, dan istrinya yang tidak ia sangka sendiri mendapatkan penyakit, yang mereka berpikir tak mungkin seseorang mendapatkan ujian di luar batas kemampuan mereka, dan hal-hal baru bertubi-tubi yang tak sanggup saja hanya mereka bayangkan, memecut kesekian kali kakinya untuk mengerjakan apa yang ingin segera ia kerjakan saat ini. Menguatkan pilihannya. Ia hanya ingin mencari uang untuk menyembuhkan sakit istrinya yang kian parah.

Dalam Kamar Inspirasi, 14.25

19/08/2016

SI MASAM LIDAH

Mereka tahu perang belum berakhir. Perang melawan kebiadaban, penindasan, kemiskinan, dan kedunguan. Di pasar burung di Kotagede Yogyakarta itu, perempuan-perempuan berpakaian hanya berjarik menutupi dada menjuntai ke mata kaki, laki-laki berjarik menutupi pusar hingga paha, debu yang berkeliaran di antara terik dan seloroh, canda, teguran, tawaran dan cercaan orang-orang di sana itu, terus mengantarkan langkah kaki Tardji dan Meiluawati dalam pandangan pasang-pasang mata yang ditinggalkannya.

“Pak, yang bapak lakukan itu salah apa nggak sih? Bapak sadar nggak sih?” Meiluawati dengan perutnya yang menderita tumor 9 bulan, berusaha menenangkan dan menasehatkan Tardji dengan halus, meski ia tahu cacian, cercaan, bahkan gamparan yang siap ia dapatkan. Orang-orang yang tak suka dengan hubungan mereka, di sekitar, pun berkata jika pernikahan mereka hanyalah kebulusan dari Tardji yang mengatakan jika Ganjar, suaminya dulu yang juga adik kandung Tardji, berselingkuh dengan istri Tardji, namun ia mengagap bahwa itu adalah salah satu konsekuensinya menikahi Tardji, dan selalu menenangkan diri bahwa Ganjar pun juga tak pernah dekat dengannya. Yang sanggup ia kuatkan saat ini adalah ia telah menjadi istri Tardji, peternak ayam kampung yang selalu dikatakan orang sebagai si masam lidah. Ia juga harus memahami orang-orang, jika pernikahan Ceplok Piring dan Tedja yang merupakan sahabat sejak kecilnya yang baru 3 bulan berlangsung sirna karena kata Tardji yang selalu dibesar-besarkan.

“Heh! Kamu itu istriku. Harusnya kamu dukung dong apa yang dikatakan suamimu. Mau mendapatkan mala1 kamu?” ia berkata sungguh tak jelas, bahkan lebih tak jelas dan monoton daripada kerumunan orang-orang di pasar yang ditinggalkannya itu. Meiluawati hanya mampu menenangkan diri, mata air memancar, berkumpul, lalu tersebar ke seluruh tubuhnya yang putih langsat.

“Ya udahlah, Pak. Orang ini juga di jalan. Masak mau dibatin orang-orang suami-istri yang bertengkar di jalan” sembari mengelus-elus perutnya menandakan anak Tardji, ia berusaha mendorong Tardji dan menghilangkan matanya yang menyulut seperti putung garet. Terus saja Tardji berceloteh-berceloteh tak jelas.

*

Di perkampungan yang tak jauh dari alun-alun utara Mataram yang berselimut isu perang, orang-orang masih berlalu-lalang bersama-pergi siang atau malam dengan menyenandungkan isu itu. Ada yang sangat senang bercerita jika VOC akan sirna dari Batavia, dari Nusantara. Di Mataram, dalam kepemimpinan Sultan Agung memang jauh dari gangguan daripada di Banten, Demak, Medang Kamulan dan sebagainya. Di siang hari yang menyayat seperti ini orang-orang masih seperti biasa, berkerumun melakukan jual-beli, menyiapkan senjata untuk relawan yang ingin hijrah ke Batavia dua ahad ke depan, atau sekedar mengisi jalan dengan kelayapan. Meski agresi pertama gagal namun Sultan Agung berencana menyerang kembali dengan pasukan dan masyarakat yang lebih kuat. Di luar tampak pertikaian. Meiluawati yang anaknya meninggal, tampak mendapatkan perlakuan keji dari Tardji, sehingga lama membuatnya tak ingin tertindas pun. Di lumbung parinya yang tersembunyi itu Meiluawati berkata pada Ganjar. Terus terdengar pertikaian kian membakar. Meiluawati hanya membiarkan saja suaminya mengumpat-umpat hal yang tak semestinya pada orang-orang yang dijumpainya.

“Yakinlah, Dinda. Sebetulnya Kanda tak pernah mendustakan Dinda. Kanda mengatakan iya karena Kanda Tardji sendiri bilang jika kau telah berbuat tak senonoh pada Tardji. Kanda hanya begitu saja mengatakannya, karena Kanda pula yang mengambil keputusan dalam keadaan emosi” mulanya Meiluwati tak percaya. Tapi selama ini, ia tak dapat mendustai dirinya, ia mencintai Ganjar. Pernikahan mereka yang begitu manis dilakukan, bahkan pacaran pun mereka sudah saling mengenal dekat namun mereka mampu mendapatkan prahara seperti ini. Meiluawati juga merasa bersalah dengannya. Mungkin ini perkawinan mereka yang belum dibangun dengan jiwa kuat, jiwa saling percaya. Meiluawati hanya mampu menangis sebagai perempuan, kemudian dipeluknya Ganjar dan Ganjar memeluknya dengan penuh kasih.

“Dinda menyesal, Kanda. Kenapa Dinda menurutkan emosi Dinda waktu itu. Kenapa pula Dinda mau menerima pinangan dari Tardji, yang sontoloyo itu, meski Dinda kini telah merasakan dicampakkan oleh Tardji dan sesungguhnya mendapatkan kekejian selama menikah” Meiluawati mengisahkan semuanya. Ganjar yang mengatakan jika ia diberi tahu oleh salah seseorang yang mengatakan bahwa Tardji tak menyukai hubungan mereka, mereka yang percaya saja bahwa apa yang dikatakan Tardji si masam lidah. Di balik umpatan gubuk mereka yang di luar Tardji mengatakan istri tetangganya nggé-nggék2, Meiluawati mencegah Ganjar untuk keluar dan membiarkan saja Tardji mendapatkan apa yang ia peroleh.

Tardji di perkampungannya, memang dikenal sebagai si masam lidah. Perkataannya masam melebihi cerme. Ia suka memfitnah tetangga, mengatai yang bukan-bukan, berbohong, selalu lalai akan amanah, bahkan suka mengadu domba, dulu saat menikah dengannya miskin, ia selalu merasa menjadi orang berada dan saat usahanya agak maju ia terang-terangan menindas orang yang di bawahnya. Namun, pelukan Meiluawati pada Ganjar tersebut sirna saat pintu lumbung padi mereka jebol. Rupanya mereka mendorong Tardji karena Tardji yang mencoba menghindar dari pukulan orang-orang, dan dalam keterkejutan orang-orang pula, Tardji pun berkata “Nah, ini nih si pengacau keluarga orang” kemudian menarik Ganjar yang tergopoh-gopoh.

“Dasar adik tak tahu diuntung! Menodai istri abangnya sendiri! Bahkan ia hamil pun dengan mantan suaminya sendiri!” Meiluwati telah berkata bohong, namun di antara pandang demi pandang mata pun membuat orang-orang itu beralih mengikuti Tardji menyeret dan memukuli Meiluwati bersama Ganjar. Dengan sikap dendamnya tanpa melihat hatinya semrawut, Tardji, dengan keberhasilannya mengambil massa, menceburkan Meiluawati dan Ganjar pada sungai tak jauh dari perkampungan. Namun belum raga mereka tercebur, orang-orang berkelayapan. Belanda datang dan menyerang perkampungan mereka. Meiluawati dan Ganjar mampu pergi dan meloloskan diri bersama. Belum akhirnya Belanda mampu dipadamkan oleh pasukan Mataram yang lebih banyak. Tardji terus menyemburkan mulutnya yang menelan jeruk masam sekulit-kulitnya, ke penjuru, tiada henti.

*

Tardji teringat bahwa ia hampir mati, ditembus peluru oleh Belanda namun mampu memohonkan ampun pada Belanda di kerusuhan itu. Kematian hampir di ambang kehidupan Tardji. Namun di tengah pasukan Belanda kini yang ingin ia beritahu bahwa Mataram hendak membangun lumbung pangan di Wates, Purworejo, Kebumen, Purwokerto, Bandung hingga Batavia, Tardji meragukan niatnya. Paling ia mendapatkan tanah yang tak seberapa pada Belanda. Belum lagi ia yang teringat pada ujaran Sunan di kampungnya “Jika ia terus melakukan hal itu apakah ia mampu dipercaya oleh orang-orang” namun Tardji hanya meruntutkan kata-katanya begitu saja.

“Jadi bener. Ente nggak bohong. Ente tahu ente berhadapan dengan siape, ente berhadapan dengan kompeni” ujar Resdir itu. Beberapa pasukan berbaju putih itu menengadahkan bedil di leher Tardji, namun Resdir itu memintakan untuk menurunkan sodoran bedil itu saat Tardji menjawab.

“Bener, Resdir. Ane nggak bohong” jawab Tardji hanya tersenyum-senyum. Ia tak peduli lagi. Segopoh tanah akan didapatkan. Lagipula ia akan mendapatkan kepercayaan dari orang-orang lagi dengan memberikan alasan yang tepat, begitu pikirnya. Dan saat Belanda itu pergi, orang-orang mengejarnya, membuat Tardji berpikir bahwa orang-orang itu mampu ditipu, walau orang-orang sebenarnya masih mengasihinya. Tardji berkata bahwa tak apa-apa, dan saat itu Tardji mulai menunjukkan tingkah baiknya untuk mendapatkan hal yang lain dari orang-orang.

*

Belanda mampu mengalahkan Mataram. Pasukan mataram dipaksa mundur. Lumbung pangan yang dibangun di tempat-tempat tertentu dibakar oleh Belanda karena pengkhianatan seorang warga. Sultan Agung meninggal di usianya yang ke 53 karena sakitnya

 Di tengah kehidupannya kini, di tengah pandangan keluhuran budi yang berusaha ia pijarkan, Tardji sempat memfitnah salah seseorang, kini yang difitnahnya adalah seorang lurah yang orang-orang pun lebih percaya pada lurah dan mengetahui kepecikan Tardji. Orang-orang tak menyangka bahwa Tardji ingin mengambil posisi Pak Padmo sebagai lurah, sungguh orang-orang tak mampu berbuat apa.

“Heh, harusnya kalian percaya pada saya. Lurah ini biadab! Lurah ini bangsat! Tak ada bedanya dengan binatang! Masak lurah malima seperti ini masih dibiarkan menjadi lurah di kampung kita” ujar Tardji mengoar-ngoarkan kebisingan delman, membuat ulu hati Pak Padmo benar-benar terkilir. Tiba-tiba hujan turun. Orang-orang tetap berdiri memandangi wajah Tardji tersebut, berusaha menunjukkan bahwa apakah ia betul-betul puas dengan apa yang ia lakukan dan membuat Tardji teringat. Tiba-tiba petir menyambar. Bagaikan kekuatan dari malaikat yang berusaha memusnahkan setan. Bagai petasan raksasa yang meledak-ledak. Satu guntur yang ganas itu membuat Tardji terkapar. Orang-orang terkejut. Tubuhnya bagai abu yang dibentuk menjadi manusia dengan lidah putus menjulur.

“Eh, kasihan Tardji, ayo kita tolong, bagaimanapun dia tetap umat Muslim, kita harus memandikannya dan memakamkannya dengan wajar. Apa bedanya jika kita tetap memiliki jiwa pendendam dan tak ingin melupakan kesalahan Tardji?” namun salah seseorang lain menyahut,

“Ah, sudah, kita tinggalkan saja mayat ini disapu hujan hingga sirna sendirinya di jalan ini bagai daun yang dibiarkan. Dia sudah jelek, suka menista orang, malah perkataannya selalu buruk dan terus memfitnah orang” terjadi percekcokan di sekeliling mayat Tardji itu. Hampir semua menyetujui seseorang yang mengatakan hukum Islam, tapi salah seseorang dan beberapa orang lain menyeret semua orang-orang itu.

“Sudah, kita tinggalkan saja. Masih banyak pekerjaan lain yang patut kita kerjakan daripada mengurusi mayat Tarji” dan orang-orang pun pergi, dalam pandangan beberapa orang yang sebetulnya masih kasihan dengan Tarji.

Mayat Tardji sendiri di Jalan Sudirman tugu plat putih Yogyakarta itu. Siang-malam bau bangkai menyengat hingga mayat Tardji sirna sendiri di tempat itu. Dengan seluruh apa yang ia lakukan semasa hidup, membuat orang-orang merasa pantas atau tak pantas memakamkannya.

19.37

22/08/2016

Dalam ruang cahaya

BIOGRAFI PENULIS

Catur Hari Mukti adalah penulis yang lahir dant tinggal di Sragen. Lahir di Sragen, 7 Juli 1997. Karyanya tersebar di media massa, antologi bersama, buletin, dan memenangkan beberapa sayembara. Buku kumcernya yang berjudul “Kudakereta” ini adalah kumcer pertamanya.

Novel yang Kehilangan Kata Sandi

Sinopsis:

Jauh sebelum UNESCO mencatatkan jawa memiliki situs terbesar yaitu Sangiran, Sragen, kota gerbang Jawa Timur menuju Jawa Tengah tersebut ,betrilyun-trilyun tahun terpendam,yang belum terlukiskan Sragen itu sendiri ataupun dunia beserta langkah peradabannya, terbentanglah kerajaan agung,kuat, makmur, erat dengan budaya Jawa, Ganda Ageng Suryaningrat, tempat yang dahulunya kental berbagai makhluk gaib, siluman, iblis, tak ada masyarakat dunia berani ke sana, sebelum ratu pertama Ganda Ageng tersebut menaklukkan tempat larangan tersebut menjadi kerajaan yang akan selalu dikenang dunia. Ratu-ratu yang turun dari kerajaan tersebut adalah seorang nabi, kesatria, ratu alam dunia-ghaib, yang lebih bersinar di antara bidadari

Telah diramalkan Ganda Ageng akan mencapai puncak kejayaannya di tangan ratu ke 6, Anidya Hanyakrabwa ratu yang aduhai dan kuat luar-dalam, kerajaan-kerajaan dunia telah mengakui hal tersebut, berbagai tanah yang berdampingan dengan langit telah ditaklukkannya, ia yang telah berhubungan dengan 1001 lakilaki juga sudah diramalkan oleh pendahulu Ganda Ageng Suryaningat sebelumnya. Ia seorang perempuan yang dilepas rasa malunya, kodrat seorang perempuan diciptakan nafsunya lebih besar dari lakilaki namun di dalam namun rasa malu perempuan melebihi nafsunya bila tidak diberi rasa malu nafsu perempuan akan buas dan melebihi hewan, demikian menurut ajaran agama Sambawi, agama terbesar pada saat itu yang pusatnya berasal dari Ganda Ageng. Keilmuan Kraton Ganda Ageng yang dianut semakin banyak lakilaki yang masih perjaka disetubuhi Ratu menambah kesaktian dan mukjizat yang dimilikinya,  semakin yang diharapkan Ganda Ageng tercapai

Keningratan bukanlah keningratan dari dalam diri GKR. Wijaya Kusuma, meskipun ia telah menjadi raja pertama Gusti Ratu Anindya, ia tahu yang menjadi kewajibannya adalah menjadi pendamping Gusti Ratu Anindya, menuruti setiap sabdanya  untuk kedigdayaan Ganda Ageng yang tiada henti, bukan karena ia yang tak bisa memberikan penerus tahta bagi Ganda Ageng, bukan pula hati seorang ratu berbeda dengan perkiraan kita, ia memang bukanlah raja yang diharapkan Gusti Ratu. Bukan salah Sukma Dinata pula, cinta sejati Gusti Ratu, senopati yang menjadi ayah kandung Gusti Kanjeng Raden Mbak yang diangkat menjadi selir tingkat 1 akan menyisihkan posisinya hanya menunggu waktu. Pengembaraan Ganda Ageng menjadi warisan yang membabibuta menegakkan panji-panji kedamaian seluruh semesta, dunia-akhirat, terus dihadang oleh kerajaan yang dikalahkan Ganda Ageng tersebut, alam ghaib, ramalan-ramalan bahkan dogma agama dan yang tak pernah dilihat oleh manusia biasa namun dekat oleh manusia pada saat kapanpun, Ganda Ageng terus membumihanguskan keterbatasan-keterbatasan. Tak akan ada yang tahu orang-orang yang dicintai Gusti Ratu yang meninggal turut membelanya adalah awal kehancuran, kambing hitam ataupun pahlawan, terhadap GKR. Manah lakilaki yang telah membungkam segalanya yang seharusnya dimiliki Sukma Dinata dari trilyunan yang diberikan Gusti Ratu pun, yang tidak memiliki mimpi mungkin akan menjadi penyalur mimpi Gusti Ratu menjadi mimpi-mimpi lain, ibarat manusia yang telah diberikan mimpi yang belum pernah terlintaskan sama sekali bahkan belum bisa didefinisikan, ia akan terbangun. Manusia hanya berhak bermimpi.

Jombor, Sukoharjo, 20:58

19-05-2020

Selamat membaca novel tersebut

Cerpen Ini Ditulis Untuk Mengikuti Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional Fakultas Ilmu Budaya UGM 2017 dengan Tema Revitalisasi Penghargaan Terhadap Perbedaan. Sudahkah Kesetaraan Itu Untuk Laki-laki?

JEGOK

20121211-145839

Tatapan mata melingkarnya menatap pepohonan yang memayungi sekelilingnya itu dengan garis dan tanda-tanda alam dari yang menghidupkannya, debu yang tak pernah lekat dari kaki dan hatinya yang entah brantah juga menghidupinya, dan segalanya ia menyimpan rahasia, ia tahu itu, sekalipun ia berusaha menangkap dari hati dan hati yang terselubung lagi, mata melingkarnya yang masih bening pasti akan menyaksikan segala persaksian, segala yang bersilih-berganti, segala yang terbentuk dan tak terbentuk.
“Lha kalau aku nyoba ya mau, kalau bojo1-ku minta aku telanjang lalu digebukin supaya nurutin nafsu dia, lalu kalau nggak mau nurutin digebukin ya mau, mungkin pinginnya beda. Hahaha” orang-orang itu lalu terbahak bersama. Kalimat itu masih terngiang di hati Zulfikar walau ia mencoba menghindar, menghindar, menghindar, dan berusaha menemukan tempatnya. Ia juga jelas mendengar percakapan dari lakilaki paruh baya itu jika Mas Dandang, lakilaki dulu waktu kecil jika diadu untuk mengingat ia pernah mandi bersama, melihat dirinya sekolah dan mendengar mendapatkan biayasiswa alias beasiswa, ia yang tak mungkin tak melihat tak membeli tape yang dijual almahrumah ibunya, Mas Dandang yang menikah 2 tahun dan dikaruniai ontang-anting2 seminggu yang lalu ditemukan terkapar di jalan masjid dengan keadaan bercelana dalam saja di pelataran masjid, kedinginan karena yang menyuruh istrinya dan istrinya menyuruhnya melakukan hubungan apabila tidak ia akan dipukuli puluhan kali, melapor pula tindakan kekerasan istrinya, entah kondisi dan kelangsungannya sekarang bagaimana. Orang-orang yang dipijak dan dipapasinya baru saja itu terus terbahak, telah menganggap lingkungan dan apa yang menjadi desa itu adalah kasur mereka untuk ditiduri dan dilakukan apa saja. Pepohonan jati liar, sengon, debu, sungai, rumah tetangga gedek3 dengan tembok seribu banding dua seakan melakukan kembali apa yang dilakukan orang-orang terhadapnya,
Zulfikar bepijak keras, tertudus, dan menggali air dari jemari-jemari kakinya dalam harinya kini di galengan air, dengan dua-tiga saja, perempuan bercaping yang menyapanya di sawah langsung berteriak dan berjalan tak karuan kembali seperti anak kecil, maklum di desa Kotangen, Tangen, Sragen ini yang paling tersudut ini jarang tertimpa air bersih, dan disinggahi hujan, tubuh dan hati orang-orang retak bagaikan retak-retaknya tanah yang ingin berkeping, ada yang memilih kehidupan lain seperti membantu tetangganya sendiri untuk panen lalu mendapatkan upah seberapapun karena banyak tetangga pula yang memanfaatkan tetangga lainnya saat suasana jarum yang disentil lalu bergetar ini, meskipun mereka terus memahami dan menyembur-nyemburkan hidup di desa harus srawung tangga, orang desa dengan desa harus dekat dan saling membantu, dan kegiatan yang dibentuk oleh leluhur yang berusaha untuk mengeratkan solidaritas, perkumpulan yang kokoh dan membangun bangsa itu benar, ada pula yang berusaha menyamakan rekor orang-orangtuanya terdahulu, mencari jangkrik, walang, semut, emprit yang memakan padi untuk dijual atau dimakan sendiri, dan yang dibesitkan di tepi hati dan tergelombang di pemikiran Zulfikar adalah orang-orang yang menjadi saksinya hidup, semakin hidup, yang terus bersyukur dan mengolah rasa syukur itu, mereka yang memiliki keinginan menggali, dan mereka yang terus menanti. Mungkin pula ia adalah penghuni terakhir gedek hitam pula yang lebih berada di tepi dari mereka, ia yang hanya memikirkan dengan apa hari dan bagaimana mereka makan bersama adiknya dengan hari-hari itu, adik perempuan, perempuan yang ia sayangi setelah ibunya yang adiknya mendetita penyakit batu yang sekujur tubuhnya berlapis batu yang mungkinkah ditemukan di tempat-tempat lain yang ia sendiri belum pernah melihat tempat selain desanya, Kotangen? Perasaannya terus menunjukkan ia ingin mengeluarkan seluruh yang berada dalam tubuhnya, ia yang semustinya bekerja, bekerja dan bekerja, ia yang harus ‘diam’ selayaknya lakilaki yang di-acc sebagai lakilaki atau masyarakat lainnya, dan apa yang seharusnya diolah sebagai lakilaki itu, ia yang sebenarnya ingin mendeguskan napas berjejal dalam dadanya kepada orang yang melihatnya, dan ia yang harus menggantungkan dirinya pada sasmita batin.
Ia menerima tawaran sebagai pengangkut jerami oleh orang-orang yang entah menggajinya atau tak, karena belum tentu mereka mempunyai uang, untuk menjadi pengganjal hidup atau bila bisa sembunyian untuk membayar rumah sakit, orang-orang atau media yang mungkin datang untuk menjenguk atau meliput selayaknya disuguhi, obat yang mungkin bertambah, ibunya yang mati meninggalkan hutang, dan ia yang memendam curiga terhadap orang-orang yang mengaku aktivis pergerakan perempuan yang ingin merawat, menyembuhkan, dan terus menangani adiknya sebagai perempuan yang tulus membantu mereka atau tak, berasal dari lembaga permasyarakatan atau dari pemerintah atau tak, dengan pengetahuan minim yang ia miliki, dengan perasaan yang belum pernah ia alami, dengan keyakinan yang sungguh bahwa ia harus mengenal. Melihat Untung, Bagya, Marsudi, yang setahun di bawahnya yang bekerja, menunjukkan kegelisatan mereka dalam bekerja, ia yang mungkin mendapatkan cecuilan belum tentu berpapasan kembali, mereka yang mengetahui keadaan mereka dan berusaha menggali cita-cita yang sama, mereka menjatuhkan, memilah, memelukkan pada pundak mereka, ada waktu yang beruntung membawakan sepeda untuk dinaiki agar lebih mudah, namun dari rumah Pak Kadir yang telah kedua kalinya itu, ia mendapati Jati, adik lakilaki bungsunya yang berumur 9 tahun mencari dan tergesa bertemu dengannya, ia hanya membeningkan dan menderukan mata bulatnya.
“Kak Gendhis muntah-muntah, Mas, muntahnya batu, di rumah nggak ada siapa-siapa, ayo Mas, kasihan Kak Gendhis”
“Ayo cepat… kok bisa kenapa…” hati Zulfikar bagai ikan dalam air yang diobati oleh pencari ikan, di antara langit yang telah memberikan kabar namun berpetir itu. Perkataan teman-temannya dan kekasihnya—perempuan desa yang baru datang pula seakan mewakili gelora langkahnya. Yang diamatinya, mereka menyusul, orang-orang yang baru melihat bingung.
*
Zulfikar. Ia tak mengingat arti nama dari yang menyandang hidupnya selama ini, ia sering mendapatkan sebutan Jegok oleh teman-temannya, orang yang mengenalnya atau orangtua. Orang-orang di pedesaan yang rata-rata tak berpendidikan karena tak mengetahui arti pentingnya pendidikan itu, sungai panjang yang selalu mirip dengan tepi pantai dengan batu-batu, kepiting dan timbunan sampah sebagai karang dan binatangnya itu, orang-orang yang bahkan belum melek pendidikan dan hanya beberapa saja yang mendengar internet, bila orang disuruh mencari dan mengabarkan di mana orang yang paling purba, miskin, namun nilai agama dan norma masyarakat telah masuk namun belum ditelaah secara benar itu, mungkin desa Kotangen, di mana Zulfikar dilahirkan, bermain, bekerja, menyimpan cita-cita dan mencicipi perlahan asinnya kehidupan kini mungkin, hanya ada satu atau bahkan tak pernah atau setahun sekali masuk sebuah kendaraan di jalanan yang tak terlihat sebagai jalan oleh orang-orang tersebut, orang-orang yang dari dulu mendapatkan harap maupun tak harap, kegagalan progam, atau penipuan sekali pun dari pemerintah kabupaten yang entah kerena kekurang-sepadananan, penyelewengan, atau pembangunan yang sulit di desa tersebut, seorang pelaku kriminalitas, pembunuhan, pemerkosaan, pencurian yang ditemukan selalu berasal dari desa itu, angka kematian ibu melahirkan yang tinggi meskipun sudah mulai dicoba diatasi, bahkan ibu Zulfikar ketika melahirkan Jati meninggal karena dilayani oleh perempuan seadanya atau dukun yang belum tentu bisa teruji kedukunannya, namun yang terjadi saat ini, yang mendera desa Zulfikar tersebut adalah kekerasan yang dialami oleh anak lakilaki maupun lakilaki yang telah atau belum menikah. Dulu anak perempuan sudah terbiasa bila diperkosa di tempat ini oleh ayah atau pamannya, meskipun di Sragen ini masih marak dan banyak perilaku pedofil, perempuan banyak yang mengalami kekerasan fisik oleh lakilaki yang lebih kuat, dan sangat beruntung bagaikan terhinggap Mikail bila perempuan yang selalu menderita kekerasan batin maupun fisik dalam rumah tangga yang biasanya tergolong dini saat menikah mampu keluar bahkan meninggalkan namanya saja di desa ini, hanya mengenal Zulfikar sebagai lakilaki tampan, gagah, hitam, dan tinggi, yang ditinggal mati oleh ibunya dan pergi oleh ayahnya, ia miskin, meski adik perempuannya menderita penyakit yang seluruh tubuhnya mengeras—membatu, diliput oleh media nasional maupun internasional dan banyak kalangan seperti aktivis, lembaga masyarakat maupun pemerintah yang membantu mengobatan adiknya dan keluarganya namun fasilitas, akomodasi, dan janji itu seakan masih menyendat. Ia juga sering diperolok-olok oleh orang-orang sebayanya atau orang kebanyakan hingga kini ia berusia 25 tahun, entah untuk meyakinkan dirinya sudah tak ada lagi ia mengamati kehidupan sebagai gurauan biasa layaknya kata-kata yang dilontarkan orang-orang sekelilingnya, sebagai keluarga yang ambruk karena ayahnya hanya mendem-mendeman6 lalu pulang memukuli anaknya, meminta-minta uang pada Zulfikar, tubuh adik-adiknya yang gering7, dan pemuda yang miskin maupun tak sekolah karena kebanyakan orang tua yang memiliki anak-anak sebaya dengan Zulfikar mampu menyekolahkan mereka, meskipun ia sendiri tahu dengan dana yang entah darimana, keluarga yang paling berbeda dengan orang-orang desa lainnya, yang orang-orang desa Kotangen yang masih mengentalkan kebudayaan setempat dengan gotong-royong yang menghamba, banyak menjual barang atau hutang apapun untuk jagong8 saat mantu9 tetangga, dan pesta pernikahan yang paling disakralkan dan adalah even yang luarbiasa sekali, menghadirkan calungan, gemelan vulgar, ledek yang juga menyuguhkan bir pendatang yang hadir, orang-orang yang menari bisa menyentuh payudara mereka yang terkenal besar-besar. Namun yang dilakukan Zulfikar selain mencari apa yang bisa ia cari, juga di pankreasnya paling dalam dan terpencil ia memahami dan memahami sekelilingnya, ia juga memahamkan diri, seperti yang diajarkan oleh teman-temannya yang dalam kehidupan mereka pernah bersetubuh dengan pendidikan sama sekali, bahwa ia akan dan harus belajar bagaimana pun.
*
Matahari menge-cor punggung, menggilas, dan meratakannya agar tercipta kerlip karena kehalusan layaknya jalan yang diaspal oleh storm. Ia baru saja menerima tamu orang yang baru saja memberitakan rumahnya, bahwa adiknya baru saja disebut sebagai manusia batu oleh media yang meliputnya, yang dibawa oleh pemerintah, lurah, tak ada ketua RT di sini, karena selain orang tak mampu menjalankan tugas sebagai RT dan orang-orang yang tidak mau dan merasa tak harus ada RT di desa tersebut, juga aktivis seperti Jurnal Perempuan, International Woman Crisis Center, Forasra (Forum Anak Sragen), dan Jejer Lanang, organisasi yang berusaha memajukan, membina, membangun, dan menangani perempuan yang teraniaya, kehilangan hak-haknya, dan terintimidasi, juga anak-anak dan lakilaki, ia baru tahu dengan kata-kata yang ditanamkan dari teman-temannya, seperti Bagya, Marsudi, Kentut, dan lainnya, sebiasanya ia akan dan harus belajar bagaimana pun, bahwa terdapat organisasi yang mempelajari bersama, menangani, melakukan kegiatan-kegiatan positif untuk meningkatkan kehidupan yang lebih baik lagi untuk perempuan, agar lakilaki dan perempuan mampu bekerjasama dan sejajar tanpa memandang sisi negatif dan mengintimidasi satu sama lain, mereka malakukan penyuluhan dan pemberdayaan di desa, dan dalam penyuluhan yang seluruh orang dianjurkan Pak lurah untuk mengikuti bahwa seluruh masalah yang berkaitan dengan kekerasan, pengintimidasikan, permasalahan yang tiba-tiba muncul bisa ditanyakan agar segera ditangani dan tak terdapat kasus-kasus yang lebih besar dan menjerumus lagi, banyak perempuan yang telah menjadi korban, sedikitnya lakilaki, seperti misalnya adiknya, yang salah satu dokter perempuan yang menyukseskan acara tersebut mengatakan bahwa penyakit yang dialami oleh adiknya bisa karena perilaku hidup masyarakat yang masih kurang memperhatikan kebersihan, gizi yang kurang, dan bagaimana masyarakat memperoleh kehidupan yang sehat. Dalam remah demi remah dan bersitan demi bersitan sinar hati Zulfikar ia berguman, sungguh luarbiasa pemerintah dan kaum intelektualitas membentuk organisasi-organisasi yang menggerakkan lakilaki dan perempuan sebagai mobilitas bangsa dan permasalahan-permasalahan yang belum diketahui bisa diketahui serta diatasi dengan terpadu pula, terlebih lakilaki. Namun dalam kehidupannya yang remuk Zulfikar mendapatkan semburan gunung api labil yang membuatnya berjalan, ingin dilangkahkan namun bergelisatanm, menyempurnakan kehidupannya yang bagaikan kapal terbalik hingga saat ini, ia tak sanggup memandang atau menceritakannya pada Esrok, perempuan yang sudah saling menandai untuk berlamar, ia juga tak tahu berlari entah karena ia seorang lakilaki. Saat mendapatkan pesanan untuk mengantarkan batik tulis di rumah Bu lurah yang memesannya, ia disuguhkan minuman yang ternyata minuman keras dan obat tidur, walau ia tetap menolak tapi dia terus dianjurkan Bu lurah untuk minum, lantas ketika ia tertidur ia dilucuti segenap pakaiannya, di ruang tamu oleh Bu lurah, sempak merah kusut dan berlubang-lubang yang sepantasnya tak diperlihatkan ke orang-orang karena miskinnya, dan mahalnya membeli sempak dari Tangen ke Sragen kota, sempak yang terus ia rawati dari kecil agar tak rusak hingga dewasa dari 10 tahun terhempas begitu saja. Sempak yang membuatnya selalu teringat bahwa bila disejajarkan dengan 2 biji sempaknya saja bila ia dapati sempaknya kotor karena habis mimpi basah atau mahdzinya keluar karena lelah tak bisa dicuci karena penjual rinso jarang, ia memutuskan untuk tak mengenakkan sempak, ia diperkosa oleh Bu lurah yang terkenal dekat dan baik dengan dirinya tersebut. Saat itu Zulfikar pergi dengan raut wajah yang menangis-nangis dan ingin pingsan. Lama ia terpekur dan terlindas kepala berhari-hari, berbulan-bulan, dengan perasaan entah dibawa di mana permasalahannya kini, entah kepada siapa ia menuangkan tentang nuklir yang menderanya. Ia selalu bermimik biasa saja, walau air matanya masih membekas, bila orang-orang mendapati matanya memerah dan menangis. Ia sempat mengajukan kasus itu kepada Bu Agni, komisi perlindungan perempuan yang berada di kecamatan Tangen, namun apa ujarnya “Sudah Mas, kasus itu sudah saya laporkan, namun Mas bersabar ya, entah kasus itu nanti bisa diajukan atau tidak, yang pasti baru kasus perempuan saja yang bisa cepat diajukan ke pengadilan melalui lembaga perempuan, dan kasus perempuan lebih mudah diatasi.” Dalam kepergiannya Zulfikar hanya menunduk, entah yang disampaikan beliau sebagai pamomong rakyat itu benar atau tidak.
Dan saat ia menyampaikan tindak pelecehan dan menuntut keadilannya pada Pak Lurah, Jarah, dengan didukung ribuan orang-orang desanya Pak Lurah malah menghantamnya, menghujat-hujat, dan menelan buliran demi buliran kata-kata murninya, disobek-sobek di lambung, dibakar di tubuh dan dimuntahkan dengan kekejian, namun nurani Zulfikar walaupun lakilaki yang bodoh, ndeso, dan belum mengenal hakikat hukum yang sebenarnya, ia melawan, sempat memukul dan menghujat Pak Lurah kembali.
“Tak mungkinlah istriku melakukan tindakan tak senonoh itu, kau ingin menghancurkan hubungan rumah tanggaku! Dasar anak bocah miskin! Penderita penyakit keji, dan tak tahu diuntung bisa-bisanya memfitnah istriku, bisa juga kau ingin merobek-robek nama baikku!” serentak orang-orang desa memukuli dan meludahi Zulfikar itu, namun dengan berlari dan menangis-nangis karena ketidakadilan yang dia peroleh dan ia yang semakin membesiti dan membisiti hatinya dengan kehidupannya yang telah porak-poranda pula, Zulkifli menyerapah
“Lurah tak tahu diuntung! Kepala sakit! Tak bisa mendidik istri! Aku siap dihina, dihujat dan dibunuh sekalipun oleh kamu dan pengikut-pengikutmu tapi malulah dirimu karena tak bisa memuaskan istrimu!” dengan disertai gelombang ludahnya, melihat orang-orang ingin menghabisinya lebih keras lagi, ia hanya ingin pergi sambil terus terlengking, menghunus bersamaan kehidupannya yang tertimpa seluruh air laut ke tubuhnya.
“Jegok….Jegok huhuhu…..” Jegok yang berasal dari bahasa Jawa artinya lolongan anjing.
Saat ia terus menanam-menanam padi ia dipanggil oleh seorang yang ternyata menyebut namanya. Seorang lakilaki yang tubuhnya tinggi 180 cm hanya sesenti lebih pendek dari dirinya. lakilaki yang putih, berpantofel, bercelana hitam dan berkemeja biru langit, berdasi, dengan potongan undercut, ia memarkir mobilnya di tepi sawah yang penuh dengan kubangan itu. Lakilaki yang dikenal bernama Kemal yang usianya 2 tahun di bawahnya itu beujar ingin bertemu dengannya, meminta waktu sebentar, Zulfikar mengajaknya untuk duduk mengobrol di gubuk sawah. Sedari tadi mengobrol lakilaki itu selalu mengamati tubuh Zulfikar yang hitam tampan, tinggi, berotot besar dan gagah, bukan karena gym namun alami, menunjukkan kekhassan kelakilakian.
“Begini Mas, saya dari awal mengamati Mas Zulfikar yang selalu bekerja pulang-pergi di jalanan luas sana, saya sering pulang-pergi ke kantor. Saya mapan, Mas, jujur dari awal ketemu sama Mas saya tertarik dengan Mas, saya lakilaki yang mencintai sesama jenis Mas. Mau nggak mas tinggal sama-sama, kalau mau diikatkan perkawinan yang sah saya juga mau, masalah hidup Mas, Mas jangan khawatir biar saya yang nanggung, Mas boleh bawa orang siapa saja, Mas, kalau Mas mau Mas bisa pergi sama saya, besok rencananya saya pergi ke Jakarta Mas” Dalam deru yang terus menyerang perasaan Zulfikar tetap menjeritkan tidak. Batin Zulfikar seburuk-buruknya manusia pun ia tidak boleh buruk di hadapan Allah. Kemal tetap menghargai, menanti, dan terus menanti Zulfikar kapan pun itu, karena ia benar-benar menyukainya dan baru ia bertemu dengan lakilaki yang benar-benar cocok.
“Tapi coba Mas pikir-pikir dulu deh, Mas tetap bisa menikah dengan perempuan kok, saya nggak melarang. Kalau kita melakukan toh nggak ada efek buruk dan terlihat, malah Mas mendapatkan gaji tiap bulan karena menjadi suami saja” Apapun yang bergejolak di hati Zulfikar ditiupnya dalam, dan ia tak ingin membayangkan atau memikirkan apapun
Beberapa menit kemudian mobil mulai menyublim, beberapa menit pula kekasihnya Esrok hadir.
“Ada apa Mas… lho, kok Mas Zulfikar menangis… Mas… jangan nangis gitu lho….”
Zulfikar hanya terus memeluk, membenamkan tangisnya, dan mengamati, ia yang tak tentu arah.
*
Ia telah mengamati kehidupannya tak tentu arah. Ia tak bisa memikirkan atau mambayangkan saja harus ke manakah tubuh dan hidupnya dicurahkan saja, adiknya dibawa oleh lembaga permasyarakatan yang dengan janjinya dan peryataan kesanggupannya mau membiayai pengobatan dan perawatan adiknya hingga sembuh. Ia hanya mengingat satu-satunya adik perempuan yang sangat disayanginya itu sebelum diangkut di mobil ambulans karena sejak lahir ia tidak bisa bergerak dan berdiri, “Mas, Mas janji ya jangan tinggalin aku, Mas harus kuat, Gendhis berjanji akan sembuh jika Mas terus bertahan” air matanya turun bersamaan dengan gesekan kulitnya dengan adiknya yang perlahan-lahan menjauh, Zulfikar hanya tersenyum, meskipun sejatinya ia tak sanggup menahan senyuman itu. Kekasihnya Esrok juga telah dijodohkan oleh lakilaki lain karena orangtua mereka dari dulu tak setuju dengan hubungan mereka melihat Zulfikar yang miskin. Namun ia terus berusaha, berusaha, dan berjuang sampai titik ruh penghabisan bahwa kelak ia memperbaiki masa depan, kehidupan, dan kondisinya, pemikiran dan guncangan jiwanya yang semakin tak bisa dibendung lagi, ia sempat membayangkan apakah benar ia berpikiran saja jika ia menerima tawaran Kemal kehidupannya akan terjamin, pasti ia akan membantu tuntas mengusut kasusnya namun bukankah ia telah hancur dengan menjalin hubungan dengan Kemal?, ia bisa saja hancur dunia-akhirat namun tidak bagi adik-adiknya. Dan benar pandangan orang-orang yang mengatakan bahwa yang dilakukannya adalah kotoran kecil, itu bisa dihapus kapan saja, dan wajar bila ia lakukan karena himpitan hidup dan demi kelangsungan hari-harinya, ia sempat bertanya kepada temannya Prianto yang mengenyam dunia pendidikan dan memiliki kepedulian terhadap sesama temannya, sepupu Mas Dandang yang hingga kini kasusnya terhadap istrinya yang belum tuntas. Prianto hanya berujar, saat ia mencari di rumahnya dengan leleran keringat dan kesakitan tak ada, mencari di tempat kerja lain dan dengan diperjuang-perjuangkannya ia pergi ke Solo bertemu dengan Prianto tempat pekerjaannya yang baru, Prianto berujar setelah diceritakan segala yang mendera kehidupannya saat ini sebagai sahabatnya, “Halah, nggak papa Mas Bro, lha wong itu hanya masalah sepele, toh apa sih yang terlihat dari kamu, kamu kan udah miskin, anak desa Kotangen yang terkenal gimana, masa depanmu saja juga tidak tentu, kamu yang sabar ya, maaf aku nggak bisa banyak bantu, aku ada kerjaan” hati Zulfikar terkoyak-koyak cobra tiga kepala mendengar dan menyaksikan perkataan itu, ia ingin pingsan, menghajarnya meski sahabatnya dan membiarkan ular itu kian menyalurkan racun di syaraf-syaraf terdalamnya, namun ia tahan, meski air matanya tak bisa ia tahan untuk berleler.
Kepada kepala aktivis perempuan, bernama Bu Wargi yang menangani kasus Gendhis yang berjanji akan menolong, mambawa kehidupan ia dan adik-adiknya lebih baik lagi, dan tak mungkin tak mengusut kasus dengan tuntas yang berkaitan dengan gender, walaupun itu lakilaki, saat di-SMS atau ditelpon bu kepala komnas perempuan itu tak pernah membalas, seakan tak menggubris, mendatangi kantor pemerintah daerah saja pernah dilakukan oleh Zulfikar namun pemerintah seakan tak tahu mengenai kasus kekerasan gender itu dan bagaimana penanganan yang tepat, sudah tak ada harapan dan perlu diungkapkan dalam perasan hatinya selama ini, dalam kecaruk-marukan, tak tentu arah, dilematis yang kian dilematis, dan menurutnya menunggu ambang kehancurah bagi semuanya, orang-orang selalu mendapatinya berjalan ke mana saja, seakan menangisi dan membayangkan sesuatu, terkadang ia berteriak-teriak sendiri, terkadang ia ketakutan bertemu dengan seseorang. Namun ia tak mengganggu orang-orang yang tak mengganggunya. Terkahir kali orang-orang desanya melihatnya berjalan dengan rambut acak-acakan, penuh debu, bau pesing, dan air got, hingga menempuh berkilo mill dari Sragen ke Jakarta, ia tersenyum dan menangis gerang-gerongq10 di jalanan luas yang tak pernah lepas dari buasnya pengendara.

ENSIKLOPEDI

1. Bojoku : suami atau istriku
2. Ontang-anting : sebutan dalam lingkungan Jawa untuk anak satu lakilaki
3. Gedek : dinding rumah dari kayu atau bambu
4. Galengan : parit di sawah
5. Srawung tangga : berkumpul dengan tetangga
6. Mendem-mendeman : mabuk-mabukan
7. Gering : kurus
8. Jagong : menghadiri acara hajatan atau pesta dalam Jawa
9. Mantu : acara pesta pernikahan
10. Gerang-gerong : menangis dengan menjerit-jerit

BIODATA PENULIS

Catur Hari Mukti, penulis Sragen. Lahir di Sragen, 7 Juli 1997. Menulis cerpen dan puisi dan telah menerbitkannya di media massa, antologi bersama, dan sedikitnya memenangkan beberapa sayembara. Aktif di SMS (Sekolah Menulis Sragen), RSS (Rumah Sastra Sragen), Paduan Suara Mahasiswa “Aurea Voce” Univet Bantara Sukoharjo, UKM Olahraga Univet Bantara Sukoharjo, Teater Teras Univet Bantara Sukoharjo. Mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia Univet Bantara Sukoharjo semester 5.

TOKO BUKU KECIL, SOSOK KECIL, DAN BUKU YANG MEMBERI CINTA

10277147_10209898028878770_328923169120160198_n
Saya mempunyai seorang teman berkulit putih, selalu menebarkan senyum kepada orang lain dalam situasi apapun, penuh dengan kreasi, selalu berinovatif dan tak lupa mengajarkan tentang kesederhanaan. Ia tinggi 169 cm. Berat badannya 65 kg, selalu mengenakkan kacamata kesehariannya. Ia lulusan S1 Sastra Inggris UNS. Lahir di Kebumen, sama dengan guru geografi saya yang selalu memotivasi saya untuk terus menulis karena istrinya yang juga guru bahasa Indonesia yang melatih menulis saya SMP lahir di sana. Ia lahir pada tanggal 11 Maret 1984. Ia mengikuti Komunitas Sastra Pawon ternyata setelah Mas Ngadiyo memberi perkenalan dengan saya dan terlihat menjadi panitia saat Festival Sastra Solo 2014, meskipun saya belum melihatnya. Biasanya yang bergiat di Komunitas Sastra Pawon adalah, Mas Yudhi Si Pinter dan Ganteng, Mbak Fanny Si Cantik, Mbak Puitri Sastrawan adalah dia dan dia adalah Sastrawan (cieeee…), Mbak Indah yang nggak mungkin karyanya nggak bagus walaupun satu pun, Mas Bandung Mawardi rajanya esai, Mas Yunanto profesional atau mas Han Gagas penulis dengan berbagai ciri khas.
Saya selalu mengikuti even-even yang biasa diadakan oleh Komunitas Sastra Pawon Solo, yang biasanya tentang acara-acara seni, diskusi sastra, bedah buku, launching buku atau workshop penulisan remaja. Pernah suatu ketika saya menjadi peserta menulis esai yang diadakan bersama Balai Soedjatmoko. Saat itu Mas Ngadiyo memberi materi tentang menembus di media massa. Saya mendapatkan buku besar, di suruh memilih buku besar atau kecil saya memilih yang besar saat Mas Ngadiyo memberi kesempatan bertanya kepada beberapa peserta dan saya bertanya. Buku itu berjudul Ulid Tak Ingin ke Malaysia karya Mahfud Ikhwan Pemenang Sayembara Novel DKJ 2014. Sebenarnya saya memutar tanya kenapa bukan buku Mas Ngadiyo saja yang dibagikan yang biasa diterbitkan indie atau konvensional tapi tak apa saya tetap membaca buku tersebut. Meski buku tersebut baru beberapa bulan setelah penyerahan baru saya baca, buku tersebut tetap bagus dan bernilai. Mengisahkan bahwa kita harus memanfaatkan potensi yang ada untuk bekerja demi bangsa di negara sendiri dan kepedihan seorang TKW yang terpaksa bekerja di tanah orang. Saya juga baru mendapatkan inspirasi jika saya mempunyai buku walaupun sudah saya baca dan terus memberikan nilai juga bermanfaat jika dibagikan ke orang lain. Buku adalah harta yang bernilai karena di dalamnya bukan hanya mengajak kebaikan juga mengantarkan pada harta. Masih banyak buku-buku, bertumpuk di meja belajar saya yang biasa saya gunakan menulis dengan buletin sastra Pawon dan edaran Bukune dan Ora Weruh yang juga diredaksi oleh Mas Ngadiyo.
Saya juga pernah ke kos-kosan Mas Ngadiyo di Kartasura bernama Gang Manggis. Sebelum membuka toko buku saya sering main ke kost-an Mas Ngadiyo dan melihat berbagai aneka bukunya men-Semeru di samping kasurnya. Saya juga pernah meminjam buku yang bagus-bagus di kost-an Mas Ngadiyo. Sebelum Mas Ngadiyo membuka Toko Buku imutnya bernama Dio Media di kost-san yang disewa lain di satu kost-nya. Mas Ngadiyo dengan Toko Buku Dio Media juga pernah mengadakan even sastra yang mendatangkan penulis-penulis dari berbagai daerah atau mengadakan latihan penulisan bagi remaja-umum yang belum bisa menulis. Membuktikan bahwa menulis, membuka buku, membuka sosialita mampu dipadukan dan dikolaborasikan menjadi kreasi yang unik.
Mas Ngadiyo yang kadang berjualan buku baik online atau pergi ke satu sekolah ke sekolah lain, satu even ke even lain untuk mendagangkan buku-bukunya mengantarkan kepada kita sebuah permenungan bahwa kesederhanaan kegiatan atau profesi memberikan cinta. Bagi penulis berkembang yang tidak terlalu terkenal (hahaha…) membeli buku pasti mahal terlebih orang berjiwa penulis pasti ingin baca buku dan baca buku lainnya. Mas Ngadiyo juga sering memberikan diskon. Saya juga mendapatkan arti jika buku yang dibeli atau dibaca itu tak harus selalu bagus atau terkenal judul atau penulisnya tapi seberapa besar arti yang diberikan oleh buku tersebut. Mas Ngadiyo Sastrodiharjo begitu ia menambahkan nama di atas nama aslinya mungkin menunjukkan ia tergila atau terdoktin sastra di akun facebooknya, pun pasti membeli membaca bukunya yang dibeli sebelum menjualnya hingga menumpuk di kamar atau kostnya, terus menulis, membaca buku-buku yang dibelinya lagi lalu melayani pemesan atau menjual bukunya saat pembeli buku ingin membeli. Dan di situlah saya menilai buku “Ulid Tak Ingin ke Malaysia” yang dihadiahkan Mas Ngadiyo ketika workshop esai sehari Pawon itu bernilai cinta pada saya. Jangan pernah menilai buku hanya dengan nilai buku yang biasa dibaca saja. Tapi di balik nilai-nilai dalam buku itu pasti ternilai buku yang paling berharga dalam buku atau barang tersebut. Dalam tulisan-tulisannya, dalam beberapa bukunya yang telah saya baca kesederhanaan sikap dan kehidupan pun tak menyurutkan keanehan, keliaran, dan keimajinasian-tinggian untuk berkarya. Begitu saya menilai buku yang diberi oleh Mas Ngadiyo.
Saya selalu merindukan toko buku Dio Media dengan berbagai even-even sastra dan hadiah-hadiahnya saat saya berkunjung ke toko buku Dio Media. Disana selalu dijumpai sosok kecil dengan cinta yang luar biasa yang terus mengetik, mengetik, mengetik tulisan sembari menunggu pesanan apa dari pembeli buku yang melihatnya mempostingkan buku-buku terbaru dalam postingannya. Belum lagi even sastra yang harus ia ikuti untuk memeriahkan dan bergiat se-cinta mungkin dari even yang ia ikuti. Toko buku kecil, sosok kecil dan buku yang memberi cinta, memberi arti. Kami selalu berharap cinta tak pernah putus darimu kepada kami Mas Ngadiyo.

12.36
16/04/2017
Sragen

Resensi Novel Matahari Tere Liye

KAPSUL OBAT MAUPUN BOM MAMPU MENKUNCI KENYATAAN FIKSI

sampul-matahari

Judul Buku : Matahari
Penulis : Tere Liye
Tahun terbit : 2016
Cetakan : Kedua, Agustus 2016
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 400 halaman

Tere Liye adalah penulis yang telah sukses dengan menulis novel bestseller seperti Bumi, Bulan, Negeri Para Bedebah, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, About Love dan Masih banyak lagi. Kini Tere Liye penulis yang berusia ini 37 tahun menunjukkan bahwa kedewasaan tak ditentukan oleh sedikit atau tidaknya seseorang berpikiran fantasi, bahkan fantasi atau tidaknya tulisan seseorang ditentukan oleh banyak atau tidaknya fantasi memengaruhi nalar.

Novel Matahari diawali dengan pertandingan basket Ali, Raib, Seli, yang berujung pada mereka yang penasaran lalu memasuki sebuah kapsul raksasa, terbang, dan menjejakkan kaki menuju Klan Bulan, Klan Matahari, dan Klan Bintang. Bertemu dengan Ily makhluk Klan Bulan yang bersama-sama melakukan perjalanan di Klan Bintang. Setiap alur yang diceritakan Tere Liye tak pernah tak menggunakan hal-hal yang fantasi yang membuat pembaca selalu membayang, misalnya, Ali dikisahkan sebagai anak yang cerdas, bila orangtuanya memperbolehkan seharusnya ia menempatkan diri tingkat akhir ilmu fisika progam doktor universitas ternama, memiliki kemampuan berubah menjadi beruang raksasa, Seli yang berada dalam kondisi rawan dianjurkan Ali, Ily, Raib, mengeluarkan kekuatan petirnya, Raib yang mampu menghilang.

Tere Liye mewarnai novelnya dengan membuat pembaca berpikir dan menerawang, di setiap alur yang disematkan, kapsul yang membawa tokoh-tokohnya terbang di tempat-tempat yang kiranya belum atau sudah diketahui manusia namun tetap dibayangkan. Kapsul yang dipikirkan tokoh-tokohnya sebagai pesawat terbang itu membuat mereka berada dalam tempat-tempat yang dibayangkan orang-orang di situ. Klan Bumi dan Bulan yang menjadi novel pertama dan kedua sebelum Matahari, Klan Matahari, Klan Bintang memiliki banyak hal yang fenomenal, menyimpan misteri, konflik, melibatkan mereka namun menyeret mereka pada keseruan, terlebih tentang Klan Bintang yang membuat mereka berhadapan dengan Dewan Kota yang menguasai dan mengendalikan pasukan-pasukan Klan Bintang. Di sini penulis memaparkan bahwa Klan Bintang adalah klan yang indah menurut tokoh namun menyimpan banyak hal yang di luar dugaan mereka dan harus terselesaikan. Mereka berebut Buku Kehidupan yang menyimpan banyak kunci di dunia ini dengan Dewan Kota.

Salah satu kelebihan dari novel ini, penulis berusaha menyelaraskan alur yang dipenuhi konflik-konflik menantang, peperangan, dan kecerdikan dengan setting yang mencoba dihubungkan dengan hal yang nyata di kehidupan saat ini.

Empat orang yang menangkap kami terus membawa Ily menuju pusat lembah, melewati hamparan persawahan. Persis seperti sawah-sawah di Klan Bumi, atau pedalaman Klan matahari. Di tengah petak-petak sawah, berdiri sekitar seratus bangunan dari kayu, dengan jalan-jalan setapak, tersusun rapi, simetris (hal:167).

Bagi pembaca yang menikmati suguhan alur maju yang dominan dalam novel ini pasti berpikir-pikir seperti apa Kapsul Raksasa yang mampu membawa mereka di tempat yang dijejaki tokoh-tokoh. Kapsul itu besarnya seperti apa, tingginya seberapa, warnanya yang ditemukan berwarna perak di alur-alur lain terpisah, mirip dengan kapsul obat di toko-toko atau kapsul bom panjang yang merupakan bom atom pernah menghancurkan Hirosima dan Nagasaki, saya nilai kapsul raksasa yang ditunggai tokoh adalah segmen yang secara kasat mata disampaikan oleh penulis agar pembaca kian membaca, menemukan keunikan fantasi, menentukan akhir yang diturutkan tebak-tebakan, tapi penulis mencantumkan unsur membebaskan bagi karya sastra dirinya dan pembacanya.

Namun Tere Liye bukan hanya menunjukkan fantasi sekedar fantasi, ia membuktikan cerita fantasi masih berkaitan dengan hal-hal yang menjadi kritik sosial di negeri ini.

“Ya. Di dunia kita saja sudah ada kota-kota di negara maju yang menggratiskan transportasi publik. Fasilitas umum yang disediakan oleh pemerintah. Apalagi di klan ini, semua secara publik gratis, siapa pun bisa menggunakannya.”
“Tapi bagaimana kamu yakin itu memang gratis?” (hal: 232)

Sebuah karya sastra bergenre fantasi yang dari awal kita menyentuh sampulnya membayangkan kitab kuno sepertinya buku ajaib dengan covernya yang coklat kulit pohon, bergambar kelelawar lukisan, sulur, ular sihir, ular piton, kapsul berbentuk kepala puyuh, dengan matahari dan tulisan yang melingkar serta bersinar di tengahnya, yang membuat kita berpikir, andai saja, Klan Bumi, Klan Bulan juga dikisahkan menjadi satu kitab itu menambah keseruan, juga berisi ilmu-ilmu alamiah yang patut ditelusuri lebih dalam pembaca jenjang sekolah dasar dan menengah.

Orang-orang paling pintar di Klan Bulan dan Klan Matahari mulai mencari cara menaklukkannya. Mereka menggeruk tanah, membuat lorong-lorong panjang, bahkan mampu membangun kota di perut bumi. Mereka mampu mempelajari kemampuan hewan beradaptasi. Bagaimana seekor cacing yang lunak ternyata justru bisa membuat lubang-lubang panjang di bawah tanah. Hei, itu seperti antilogika, bukan? Bagaimana semut bisa membuat sarang begitu menajubkan di dalam tanah, dengan arsitektur yang rumit dan kokoh (hal: 181)

Penulis juga membingkai tulisannya ditujukan kaum muda dengan dengan komedi kata-kata dan pemikiran yang menggelitik.

Sepertinya kami telah tiba di tujuan, karena dari ujung barisan kursi, seseorang terlihat berdiri dn melangkah dan mendekati kami.
“Lhuar bhi-a-sa!” Orang itu berseru. (hal:170)

Hanya saja kapsul raksasa yang mengantarkan pembaca menuju akhir cerita, bersambung ke buku selanjutnya, di Bintang, tetap membuat pembaca membayang kapsul itu terparkir, tersandar, atau terhilangkan tokoh, hanya membuat pembaca membayang saja. Andai kapsul itu benar-benar ada, atau buku yang dibuka itu menggambarkan cermin yang memperlihatkan perjalananan, pertarungan, dan petualangan Ali, Ily, Raib, Seli, dan Faar, dan wajah ketus Dewan Kota, benar-benar mengantarkan pembaca menuju klan matahari. Apakah kapsul raksasa yang mirip kapsul obat, kapsul milton, kapsul bom atom, tetap benda kecil walaupun raksasa tak mampu menginjak pada klan matahari. Apakah pembaca disampaikan oleh keinginan penulis, matahari itu panas, besar dan ukurannya terhitung dari besaran cahaya, atau penulis ingin membaca membayangkan dan menyetir keinginannya sendiri untuk menuju klan matahari yang disuguhkan. Kapsul raksasa yang mengantarkan pembaca dari penulis ke mana pun tersebut, yang terlihat berubah bentuk di setiap peristiwa, juga membuat pembaca berpegang pada sebuah karya fiksi. Namun pegagangan tersebut tetap memperlihatkan kita pada kenyataan, kenyataan tak sebagaimana mestinya. Novel ini berjudul Matahari namun cerita yang disuguhkan lebih difokuskan pada klan bintang, dan klan bintang adalah sambungan novel yang saat ini bersambung dengan novel Bintang penandasnya.

11:54
30/10/2016
Sragen

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

MATA KOPI

bahan untuk mata kopi

 

Tetes demi tetes perasan larutan kopi yang menitik itu, kemudian terguyur oleh gelindingan gula-gula, diseduh dengan air hangat, saat mengaduk-aduk itu, perempuan di depanya yang mual, mengikuti mual perempuan itu di sampingnya, kopi terus mengaduk, tetes demi tetes campuran kopi vietnam yang tak sempat tertuangkan bongkahan es itu, seakan mengujuri tubuhnya hingga ikut meleleh dirasakan aromanya.

Ia hanya membayangkan matanya menetes dalam bayangan embun yang tertetes di antara debu jeruji tangannya itu. Sudah hampir setengah tahun, namun kasus itu belum usai. Ia tak membunuhnya. Namun ia juga selalu membayangkan siapa orang yang tega mengakhiri nyawa Keren sahabatnya. Airmata pun turut menetes dalam raganya di kehidupannya yang diutuhinya saat ini. Januari lalu ia bersama Keren ingin bertemu usai beberapa tahun tak bertemu di salah satu kafe besar di Jakarta. Ia yang memesankan kopi itu sebelum Keren memintanya dan datang kemudian saat ia datang pertama kali. Begitu juga dengan sahabatnya, Diana, yang saat itu mendapatkan permintaan Keren untuk mencium aroma kopi yang ungkapnya begitu panas dan menyayat dari biasanya

“Kopinya kok kaya gini. Aneh tau. Coba…” ia sempat menyodorkan padanya tapi ia menggeleng, hanya menciumnya saja. Dan beberapa menit kemudian saat ia mengibas-ngibaskan mulutnya yang seakan mengeluarkan petasan, megelisatkan tubuhnya serupa ular, ia merebahkan tubuhnya dengan kepala mendongak dan mengeluarkan busa penuh

“Ini kenapa Nat?” Diana menguncang-guncangkan tubuh Keren dan amat panik, busa menetes dan menetes lalu sirna ditelan lantai

“Gue juga nggak tau. Aduh…” Natasya hanya menggeleng-geleng. Ia ikut panik. Kemudian beberapa petugas membantu mereka untuk membawa Keren dengan cepat memanggil ambulan lalu mengantarkannya ke rumah sakit.

Natasya hanya meneteskan airmatanya di tengah debu yang berhamburan dalam jeruji besi tangannya. Sudah setengah bulan ini ia menjadi terdakwa sebelum ia hanya menjadi saksi. Rekaman CCTV di cafe yang telah diputar menayangkan dirinya memesan kopi yang datang lebih awal dari Keren dan Diana itu, menunjukkan kejanggalan sikapnya. Bahkan saat pemutaran kembali CCTV itu sebagai bukti dengan saksi forensik di bidang IT, media tak berhenti menyerangnya. Betulkah ia pembunuh Keren?. Semua banyak yang menyerang dan seakan menciutkan dalam bekapan sudutnya, di balik wajahnya yang tenang dan menekan perasaan itu, berapa kali terlihat mengedip, dan ia adalah seorang perempuan yang pintar serta bermuka dinding. Belum lagi papa Keren yang dulu dikenalnya baik terus mengoar-ngoarkan kepada publik dalam tayangan ia menunjukkan pewawancaraannya bahwa ia adalah pelaku dari semua ini. Namun ia juga terus berpikir, siapa pembunuh Keren? Apakah benar ungkap media bahwa jika bukan dirinya yang melakukan mungkinah masih ada pelaku yang hingga kini tak tersentuh. Airmatanya kembali menetes dalam rebakan kata-kata, namun ia berusaha menghisap kembali airmata itu di antara uluran hatinya, benarkah di persidangan nanti, yang masih beberapa tahap ia bisa ditahan tanpa mendatangkan sanksi?

Ia mengenal Keren sebagai sahabat dekatnya, ia sama-sama kuliah di Australia, di Universitas Malbourne, ketika ia mengetahui Keren pula mahasiswa dari Indonesia. Namun mereka berasal dari jurusan yang berbeda. Natasya mengambil desain grafis, namun Keren Menejemen. Mereka beberapa kali bertemu dan janjian di Indonesia, terus menjalin sahabat, melihat Keren menikah dengan lakilaki yang dikenalkannya saat bersama-sama mengikuti pesta ultah adik kembarnya, dan terakhir kali mereka bertemu, mereka bertemu di sebuah hotel di Jakarta. Bayangan Keren seakan ingin menegarkannya, ingin terus berada di sampingnya, mengusap ingatan-ingatan kopi yang terseduh belum tercampur guyuran es itu, saat tubuhnya yang diotopsi dipaparkan terkena racun sianida, busa yang terus keluar dari bibirnya, dan ia yang kembali ke rumah sakit, langkah kakinya kembali dan mengantarkan Keren ke rumah sakit lagi, dan kembali lagi. Ia menghembuskan napasnya dalam-dalam, kemudian ia mutahkan selama ia menggenggam jeruji besi itu. Hari Senin adalah hari persidangangnnya, ia kembali menatap masa depannya, ia akan kembali dihadirkan oleh saksi ahli lagi.

*

Sebetulnya ia sudah lulus di universitasnya. Hanya dua tahun ini ia ingin pergi dari Malbourne untuk berkunjung di rumahnya di Jakarta. Ia juga belum menemui papa dan mamanya, serta kakak-kakaknya usai ia menyelesaikan skripsi dan mendapatkan pekerjaan sementara sebagai desainer grafis di sana. Saat ia meninggalkan guyuran tubuhnya dalam kecipak shower, saat ia mencium bau pinus di ruangan apartemennya, saat matahari siang pukul 11.25 waktu Malbourne menyibakkan tirai putih memancar-mancarkan terik dari luasnya pantai di luar, tiba-tiba ia telah mendengar cekrikan ganggang pintu, terbenam. Tapi, mungkin bukan cekrikan ganggang pintu kamarnya. Ia menyampirkan anduknya di sampiran pakaian. Dalam genangan kaca, dipoleskan lipstik jingga di bibirnya yang ranum, kemudian maskara,pipinya yang putih tak lupa dipoles bedak, dan parfumnya. Kemudian ia merasakan Samsung Galaxy S6 Edge+ emasnya bergetar. Pesan dari Pendrosa kekasihnya. Cepat ia berjalan keluar, membuka ganggang pintu, saat mencari-cari adakah seseorang disana, kemudian ditemukannya lelaki berdarah Australia jakung 185 cm, hidungnya yang mancung matanya yang biru, dengan jeans dan kemeja levisnya di sudut pot pintu rumahnya.

“Sayang, kamu disini. Maaf aku belum membuat kamu masuk. Maaf aku membuat kamu menunggu” cepat ditutupnya pintu itu rapat-rapat. Tak seorang pun yang mengetahui reaksi mereka. Pendrosa menggeleng-gelengkan kepalanya serupa gerakan yoga. Kemudian dibenamkan, diusapkan tangan kekar berbulu putihnya ke wajah, lalu depakan kakinya seakan menjaga.

Kemudian mereka hanya berada dalam pembicaraan mereka. Natasya telah menawarkan roti dan minuman namun Pendrosa menolak. Lelaki Austalia yang empat tahun lebih tua darinya itu, di usianya yang menginjak 27 tahun yang menjalin hubungan dengannya empat tahun itu hanya terus menatapkan matanya menatap tatapan Natasya yang berbicara dengannya.

Pedrosa mengeratkan tangannya. Tatapannya semakin tajam setelah mereka berkalikali berbincang.

Natasya hanya kembali menghembuskan nafasnya. Polesan di bibir jingganya membantu senyumnya. Ia menatap pemandangan pantai dalam sergapan sinar matahari diikuti oleh Pendrosa.

“Orangtuaku tak keberatan aku ikut denganmu di Indonesia. Yakinlah, hanya kau perempuan yang kucinta, Natasya. Tak ada yang lain. Aku juga akan memindahkan proyekku di Indonesia” Natasya hanya mengangguk. Berkali-kali Pendrosa meyakinkan dan meyakinkannya.

“Cinta tak mengenal batasan waktu Pendrosa. Kita akan melalui bersama. Aku berjanji. Lusa aku akan kembali ke Jakarta dan aku akan segera kembali. Aku juga berkata pada papa dan mama mungkin Pendrosa tak akan ikut. Tapi jika kutak kembali-kembali kau berhak memaksaku kembali ke sini” senyum Natasya diiringi oleh senyum awan Pedrosa. Setelah mengecup bibir, mereka berpelukan dan bersama menatap sinar matahari mengemaskan pantai dan orang-orang yang menikmati pantai di Malbourne.

*

Mungkinkah ia mampu keluar dan mendapatkan sesuatu yang bisa menghilangkan ketertekanannya. Ia tak ingin kembali menangis. Airmata seakan hanya memperlemahkannya. Ia hanya mengusap besi yang bersih dari tiupan bibirnya itu, jeruji yang memendamnya selama beberapa bulan. Pagi lalu, sama seperti pagi-pagi lainnya saat dua minggu sekali papa, mama, dan kakaknya menjeguknya, ia masih diingatkan oleh papa dan mamanya yang selalu menegarkannya. Belum lagi mamanya yang menceritakan tentang tuntutan keras oleh papa dan suami Keren bahwa ia benar-benar bersalah namun ditenangkan oleh papa dan mamanya.

Seandainya, ia tak berada dalam peristiwa kopi, atau seserbuk hitam bercampur bongkahan es yang diguyur hangatnya seduhan itu, mungkinkah ia masih bisa melangsungkan pertunangan.

Dan ia juga mengingat sekali Pendrosa pernah mengunjunginya, “kau akan segera pulang dari lapas ini. Percayalah. Aku akan selalu menunggumu. Aku akan membawa pengacara ahli lagi dari Australia dan bersama pamanmu yang menjadi pengacara akan mengusut kasus ini dengan cepat” Pedrosa hanya menekan bahu Natsya, mengedipkan matanya meyakinkan dan membuat Natasya terseyum menyakinkan. Di berbagai media yang terus menuliskan dan memberitakan kasus dalam persidangannya, benarkah ia pembunuh Keren? Membuatnya terus menatap ke depan seakan terantar oleh jauhnya hembusan napasnya.

Ia sempat mendapatkan wawancara dari wartawan yang meliput ungkapannya, saat ia menahan agar airmata itu terlukis dari tempatnya yang jauh dari angannya, ia yang memandang orang-orang yang pula memandangnya, tapi airmata itu tak ia sadari tercurah. “Saya tidak bersalah. Tapi orang-orang terus menyudutkan saya, saya melakukan ini karena ini, salah melakukan itu. Semua saya serba salah. Coba bayangkan, siapa saja, dimana saja, membayangkan 10 detik saja menjadi saya, bagaimana perasaan saya”

Tak mungkin ia mengirimkan selembar pesan, melukiskan celoteh-celotehnya tentang alam yang dilaluinya saat ini, dan membayangkan kopi yang pernah dituangkan pula untuk Pedrosa saat ia kembali dan kembali ke apartemennya.

Barisan kakikaki penjaga sel tahanan lapas yang dipijakinya saat ini, membuat ia ingin berbaris keluar pula, membayangkan apa yang melantun dalam hatinya. Ia terus menunggu kabar dan kabar yang memberitakan dirinya, papa dan mamanya yang terus memberikan kabar untuknya, kemudian dari tetesan airmatanya yang membesit mencoba ia tahan dan jangan sampai ia hisap atau terlihat terhisab saat ini, terdengar depakan pantofel yang dikenalnya, depak dan depak serta lantunan dari pengacaranya yang siap menatapnya dengan menggenggam tas serta beberapa arsip, matahari mulai menerik dari sela-sela besi tembok kamarnya. Ia seakan mendengar kata-kata Pendrosa berkalikali, jauh sebelum ia berada dalam ruangan ini, dalam persidangan-persidangan ini, dalam seserbuk kopi menjadi panasan sianida yang mengantarkannya pada kenyataan yang baru.

“Kita harus bersabar, seberapapun itu. Papa dan mama akan selalu memberikan jalan tentang hubungan kita. Yakinlah. Jika aku masih berada di Jakarta terus dan belum kembali ke Malboune bersamamu, kau bisa datang dan menarikku” begitu kata-kata yang selalu ia ungkapkan pada Pedrosa. Ia mengingat akan hal itu.

Detik demi detik berlalu. Ia melihat pengacaranya, dengan kacamata berantai, wajahnya yang telah keriput, dengan jas dan pantofel hitamnya menatap jelas ke arahnya. Ia juga mengingat, bahwa Pendrosa bilang jika ia kembali ke Jakarta dan mungkin menariknya.

Dan ia terjatuh dengan tubuh putihnya, angan-angan yang selalu merawat kepalanya. Dalam rebahannya, ia masih setitik merasakan seseorang masuk dan mengangkatnya.

 

Sragen, 17.37

12/08/2016

D’Story

PONSEL

 

hijab

 

 

Tak ada istilah handphone dalam hidupku. Terlebih saat teman temanku mulai memegang HP sejak kelas satu, aku selalu iri pada mereka. Tapi perasaan itu selalu kusembunyikan dari siapapun. Mungkin ibu satu satunya orang yang tahu karena aku sering menangis tersendu sendu, tanpa rasa iba darinya. Apakah itu yang membuatku memiliki sikap dengki terhadap kawan kawanku? Bahkan teman dekat di sekolah sekalipun. Padahal aku merasa tak pernah menanamkan sifat itu dalam diriku, atau ibu yang tanpa sengaja menanamkan benih benihnya.
Hari hariku selalu kulewati dengan belajar, membantu ibu, menjaga toko buah milik keluarga, membaca buku fiksi, atau sekedar menonton TV. Aku memang sengaja tak berkumpul dengan teman teman sebayaku sepulang sekolah, dengan alasan jika aku selalu sibuk membantu membereskan dagangan ibu di rumah. Namun pada kenyataannya, aku terlalu minder dengan teman teman yang selalu membawa HP begitu canggihnya. Mungkin ada beberapa teman sekelasku yang tidak memegang HP sewaktu SMP, terutama anak laki laki, lantaran lebih menyukai nongkrong dan berolahraga daripada ber-SMS-an. Tapi tetap saja, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku malu belum punya HP sekali pun. Masih mending beberapa anak yang memiliki HP tapi tidak begitu bagus.
Dari dulu aku memang sudah tau jika di sekolah pun tak ada yang boleh membawa HP, kecuali guru dan karyawan. Namun tak sedikit siswa yang membawa masuk HP dan disita guru BP lantaran ketahuan memainkannya. Aku belum pernah mengalami bagaimana perasaan cemas, raut muka tegang, dan keringat dingin teman temanku, ketika terjadi razia atau penggeledahan. Dan tak sedikit juga anak perempuan yang menjerit histeris karena HP-nya tertangkap, lalu menunggu beberapa minggu orang tua mereka mengambilnya di sekolah.
Selain ibuku yang bilang kalau HP itu gak ada manfaatnya. Pak Kalam, guru akhlak-ku, pun pernah berkata jika tingkatan HP bagi pelajar itu adalah kebutuhan tersier (mewah). Bukan kebutuhan pokok. Ponsel dan alat elektronik lainnya lebih banyak memberikan dampak yang begitu buruk daripada baik. Ah, seberapa besar mahdorot atau manfaat yang diberikan kurasa tergantung individu yang menggunakan.
Tapi aku tak kuat mendengar sindiran yang kurasa sengaja ditumpahkan oleh Niken, anak dari ayah tiriku, kepadaku. “Tumben kamu … Kok kamu belum ingin minta dibelikan HP?” Aku menelan ludah dan mencoba menahan rasa sakit di ulu hatiku. Dan kubalas perkataan Niken dengan senyum bunga.
“Entahlah … Kata ibu punya HP kalau sudah bekerja,” singkatku.
“Emang kamu gak pingin ya kaya temen-temen lain?” Tanya Niken, asyik menekan tombol games di ponselnya sambil duduk berselonjor di sofa, sore sepulang les di sekolah untuk persiapan UN kelas tiga. Aku hanya menggeleng, sambil terus membolak-balikkan buku bank soal yang baru kupinjam di perpus.
“Kamu juga gak kasihan sama Adit, gimana bisa keluar kencan jika dihubungi saja gak bisa,” sahut Niken kemudian.
Seketika aku termenung. Kuresapi dalam-dalam omongan dari Niken, sepertinya ada benarnya. Aku tak tega melihat teman laki-lakiku begitu banyak melewati rintangan untuk sekedar menjadi teman dekatku. Atau, meminta diajari pelajaran matematika dan fisika yang belum mereka bisa, tinggal diam ketika melihat mereka datang kehujan-hujanan ke rumahku, menunggu lama ketika aku sedang tidak ada di rumah karena ku tak tahu ada teman yang datang, atau membiarkan ibu tergopoh gopoh menjemputku di bengkel ayah lantaran ada teman yang mencariku. Rupanya sebagai anak yang dianugerahkan kepandaian, berbuat baik saja susah gara gara gak punya nomer yang bisa dihubungi.
***
Masa SMA pun tiba. Masih sama seperti sebelumnya, hari hari kulalui lagi tanpa memiliki HP. Aku diterima di sekolah negeri terfavorit di kotaku. Jarak antara rumah dengan sekolah memang terlampau dekat, cukup ditempuh dengan berjalan kaki melangkahi beberapa rumah. Meski tidak jauh, tetap saja aku iri dengan teman temanku yang hampir keseluruhan anak selalu memegang HP di tangannya. Terlebih bila melihat Kinan, sahabat satu bangku, yang cukup menghubungi ayahnya lewat SMS bila ingin dijemput. Aku benar benar ingin mengalami masa indah seperti yang mereka rasakan.
Namun yang membuatku begitu heran, dampak negative ponsel merasuki taraf pelajar SMA. Ada dua orang temanku yang tertangkap polisi karena terbukti menjadi pengedar video porno, walau dalam tingkatan sekolah ternama dan unggulan sekalipun. Yang namanya kejahatan tetap kejahatan. Belum lagi Tutik, tetangga sebelahku, diduga hilang karena terpengaruh ajakan teman FB yang belum dikenalnya. Bahkan Anzhoriy, sahabatku yang dulunya terkenal sholeh dan rajin mengaji, berubah total ketika menemukan situs mailing list terlarang di internet. Ia terjun dalam lembah homoseksual.
Ponsel telah mempengaruhi perilaku dan cara pandang manusia.
Tapi bukan itu yang kupikirkan. Seberapa besar pengaruh ponsel pada kehidupan manusia tak kupedulikan. Yang selalu terbesit di benakku hanyalah ingin memiliki ponsel. Ya, aku ingin segera mendapatkan ponsel dengan cara baik tentunya. Apapun berusaha kulakukan. Karena keinginanku yang demikian dalam, selalu kupinta HP pada Ya Rabb-ku di akhir doa seusai shalat.
“Mending kamu bicara baik-baik lagi sama ibukmu. Bilang kalau kamu butuh HP untuk meringankan tugas sekolahmu, buat kalkulator atau browsing internet misalnya,” saran Kinan, saat kuceritakan semua isi permasalahanku padanya siang itu, aku dan Kinan sedang mengobrol di depan pintu gerbang sekolah waktu acara pengambilan raport telah selesai. Dan hasil nilaiku di semester empat sangat membanggakan. Aku berhasil mempertahankan predikat ranking satu dari semester satu sampai sekarang, berturut turut. Semua nilaiku mencapai angka 9,0. Kuharap, ibu juga senang dan mau mengabulkan permintaanku untuk dibelikan HP.
Akhirnya kujalankan apa yang disarankan Kinan tadi siang. Dengan ribuan asa yang tergantung, kudekati ibu yang sedang menonton TV seusai lelah bekerja. Kupijati kaki ibu dengan diiringi obrolan sedikit, sekedar mencairkan suasana. Kebetulan Niken dan ayahnya sedang keluar kota untuk beberapa hari. Jadi di rumah ini aku semakin dekat dengan ibu.
“Bu, Ratih beneran pingin HP. Di sekolah tugas menumpuk. Biar mudah untuk mencari referensi, Ratih pingin dibelikan yang bisa buat internetan,” tuturku berapi api.
“Gak usah lah … HP itu bikin kamu malas nantinya,” jawab ibu lemah lembut
“Tapi aku butuh kalkulator juga, Bu … Aku kan bisa ranking satu lagi seperti yang diharapkan ibu, jadi ibu pantas dong berikan aku kado” Aku bersikukuh, dengan kedua mata yang mulai berkaca.
“Kamu kan bisa ngitung pakai oret-oretan. Gak usah manja deh kamu. Masalah hadiah sudah ibu belikan, yang pasti bukan HP!” Tegas ibu.
“Ayolah, Bu … Ratih mohon …” Aku mencoba meluluhkan hati ibu, dengan tatapan yang begitu memelas.
“Ibu gak punya uang. Kapan kapan pasti ibu belikan, namun bukan sekarang!” keputusan ibu tidak bisa diganggu gugat. Ibu tetap pada prinsipnya.
Aku masuk dalam kamar dengan mendorong pintu keras-keras. Sambil menangis di kasur, aku mulai memaki maki ibu “Ibu jahat! Ibu gak pernah tahu apa yang Ratih inginkan. Ibu gak pernah mau mengerti perasaan Ratih.”
Yang ku tahu saat itu, ibu tak pernah sayang padaku. Aku demikian membenci ibu, namun perasaan itu kucoba hanguskan dalam kehidupanku. Aku mulai jarang membantu ibu. Aku lebih banyak diam di rumah dan di sekolah. Aku hanya belajar, belajar, dan belajar. Atau sesekali orang melihatku sedang mencari cari buku di perpus.
Aku kian tertutup pada ibu. Bahkan tas, jilbab, dan sepatu baru yang dibelikan ibu tak pernah kupakai. Aku hanya bisa pasrah.
***
Akhirnya kutemukan masa dimana aku memahami semuanya. Presepsi negatifku terhadap ibu benar benar sirna. Tak kualami kagalauan lagi dalam hidupku.
Aku diterima di salah satu universitas negeri di Yogyakarta dan mendapatkan beasiswa. Alhamdulilah, aku masuk fakultas kedokteran dan dicanangkan menempuh jenjang S2, karena kedisiplinanku belajar serta prestasi yang kuraih.
Aku tak perlu lagi memikirkan HP. Ibu sudah membelikanku walau sederhana. Tapi cukup untuk kugunakan meng-SMS ayah ketika ingin dijemput pulang. Kurasa, ibulah yang lebih mengerti tentang kebutuhanku. Ibu benar benar paham apa yang kuperlukan atau tidak. Aku menyesal dulu pernah berkata buruk pada ibu.
Dan Ratih, kini ia selalu marah dan menangis pada ayah karena tidak bisa membelikan baju baru. Ayah dan ibu bingung melihat Niken yang malu karena terus dipandang remeh oleh teman temannya, lantaran baju yang ia kenakkan selalu itu dan itu. Niken hanya mampu masuk fakultas manejemen biasa di perguruan tinggi swasta.
Aku selalu bersyukur pada Tuhan. Sedikit uang tabunganku dari beasiswa mampu kugunakan untuk menukarkan HP yang lebih bagus dan membeli laptop. Karena dengan doa yang senantiasa kita panjatkan dan berbagai usaha melewati rintangan, Tuhan pasti mengabulkan. Tuhan lebih tahu apa yang kita mau.

 

Sragen, 15-03-2014
05.43 WIB
Ruang Kugapai Cahaya

 

(Catur Hari Mukti)

D’Story 2

T e r b a n g   H a j i

 

month
Nenek masih saja mengelus-elus lukisan tembok bergambar Hajar Aswad yang dikelilingi ribuan jemaah putih, berkali kali. Kedua mata putihnya menatap dengan tatapan khusyuk. Aku heran, mengapa hal itu menjadi pekerjaan keduanya setelah seharian lelah membungkusi krupuk tetangga. Ya, di usianya yang sudah renta itu membungkusi makanan adalah profesi yang didapatkan selama ini.
Melihat upah nenek yang hanya lima ribu per hari, ditambah dengan penghasilan keringat kakek sebagai tukang becak, memang mustahil bila ingin meraih cita-citanya berangkat menunaikan rukun islam ke lima itu. Tapi aku teramat simpati melihat usaha keras beliau. Di antara waktu dua puluh empat jam mereka pintar sekali mengimbangi waktu untuk bekerja, beribadah di rumah dan di masjid, ikhlas membantu tetangga semampunya, dan baik terhadap siapapun. Mereka tidak pernah marah kepada orang-orang yang sering mengambil buah rambutan yang tumbuh di pekarangan tanpa izin, terus menerus. Bahkan nenek dan kakek sering mengajariku, bahwa selama kita masih punya jangan menyianyiakan diri untuk bersedekah terhadap orang lain.
Aku memang dititipkan mereka sejak usia empat tahun. Nenek dan kakek menyayangiku sebagai cucu satu-satunya. Semenjak perceraian ibu dan ayahku, aku dirawat dan dibesarkan orang tua ibu. Sementara ibu memilih tinggal sendiri dengan suami barunya. Namun demikian tidak membuatku merasa dendam. Sebab nenek dan kakek mengajarkan bahwa kesalahan dibalas dengan kesalahan tidak akan menemui jalan keluar, kejahatan tak harus dibalas dengan kejahatan. Bagaimana pun juga, mereka adalah ayah dan ibuku, orang tua yang dengan pengorbanan melahirkanku.
Karena kebaikan nenek dan kakek itulah, aku menjadi pemuda yang tanggung jawab dan mandiri. Motto hidupku adalah membuat orang lain ikut bahagia atas kesuksesanku. Meski aku gagal mewujudkan cita-citaku menjadi dokter, aku tidak putus asa, aku masih punya ijazah SMA yang mudah-mudahan mampu mengantarkanku pada pekerjaan yang layak. Aku tak harus kesal ketika nenek dan kakek tak sanggup membiayai kuliahku.
Dan saat aku duduk di bangku kelas dua SMP, aku sudah mulai menyisihkan uang jajanku lima ratus rupiah, ke dalam celengan tanah liat yang diajarkan kakek cara membuatnya. Aku harus mewujudkan cita-cita mereka untuk berangkat haji, demikian tekad bulat dalam hatiku.
***
Sebagai seorang pemuda tak seharusnya aku menangis begini. Terlebih menyembunyikan isak kecilku di balik sudut pintu yang terbuka kecil. Kutatap nenek yang begitu antusias mengajari kakek membaca qur’an. Rasanya aku tak tega menghancurkan renyah tawa mereka dengan pamitanku tuk meninggalkan rumah selama beberapa tahun.
Ya, hidup bersama ayah untuk sementara adalah pilihanku. Selama ayah masih mau menampungku tak akan ku sia-siakan kesempatan untuk bekerja dengannya. Mungkin ikut berjualan bakso cinta mampu menutup biaya keberangkatan kakek-nenek ke Makkah. Itung-itung cicilan masa depanku juga. Aku teramat rindu tinggal bersama orang tua kandungku sendiri. Ayah, meski dulu kukenal angkuh dan sombong, tapi kuyakin sifat itu telah terkikis perlahan-lahan pada dirinya. Lagipula, lima tahun menjadi sopir becak bersama kakek tak membuatku puas berpenghasilan pas-pasan. Ada baiknya aku memutuskan meninggalkan Sragen untuk merantau ke Pekalongan, tempat keluarga ayah yang baru. Dan menengok kota kelahiranku kembali kala lebaran tiba.
Sebelum keberangkatanku, kakek-nenek hanya berpesan jika aku musti hati-hati dalam bergaul dan jangan sampai meninggalkan sholat, itu saja. Aku lalu mengangguk dan segera mencium tangan kamboja mereka.
***
Tinggal di kota batik selama dua tahun merupakan kehidupan keras bagiku. Sebab di daerah yang demikian dekat dengan ibukota memaksa kami untuk bersabar mencari pelanggan yang benar-benar mencintai gelinding daging. Para penjaja kuliner lebih tertarik menggeletukkan pantopel mereka di restoran-restoran mewah, atau rumah makan yang menyajikan masakan daerah. Aku sendiri jarang menabung karena kondisi warung ayah yang sunyi pelanggan.
Tapi kali ini, di minggu yang tak jauh dari lebaran, aku memutuskan berjalan-jalan ke pasar kota saat warung ayah tutup . Karena aku tertarik dengan sajadah biru lembut berlukiskan Ka’bah itu, kuambil dua sebagai oleh-oleh kakek-nenek. Tak lupa beberapa kue kering serta buah kelengkeng.
“Lho, kamu mau berangkat besok, Di?. Bagus lah, kamu memang anak yang berbakti,” kata ayah saat melihatku mulai memasuki kamar sepulang dari pasar. Kulirik, ayah sedang antusias menggulung gulung bakso di dapur. Tapi mendengar nada yang disuarakan ayah tadi, kurasa sedikit ketus.
“Iya, Pak,” jawabku tanpa keluar dari kamar.
“Di, kamu menabung, ya? Bapak lihat uang kamu banyak sekali. Tadi bapak pinjem buat bayar uang gedung kuliah adikmu. Kapan-kapan bapak ganti.” Kemudian dari arah dapur terdengar keras gemeletuk pisau yang mencincang-cincang daging.
Aku terhenyak seketika. Darahku terasa mati. Nafasku seakan tak terdengar desahannya lagi. Aku menatap bawah kasur, kudapati tubuh Masitoh, sapi betinaku, tinggal puing-puing lempengannya saja. Serentak aku menangis dalam batin dan kepalaku tak henti-hentinya bercumbu dengan tembok. Air mata dan lendir pun membanjir jua, membilas kaosku.
Ya Allah … Hamba benar-benar tak mengerti maksud-Mu kali ini. Mengapa buah yang hampir hamba petik dari benih tekad dan usaha keras selama ini, Engkau ambil sebelum hamba puas memanennya. Mungkinkah ada hikmah dari cobaan yang begitu pedih? Atau Engkau memiliki rencana lain dari kejadian ini?
Aku hanya berniat membantu mengantarkan cita-cita kakek-nenek. Dan kenapa ayah begitu tega terhadapku, apa ia tidak tahu perasaanku, ternyata ia lebih menyayangi istri dan anak barunya. Kedua orang tua kandungku tidak ada yang memperdulikanku sama sekali.
Astaghfirulloh aladzim, aku terjaga dalam keterpurukan dan cepat beristigfar dalam hati. Aku khilaf. Aku tak pantas menghujat Allah-ku sendiri. Mungkin ini belum rejekiku. Aku kan bisa bekerja keras lalu menabung lagi selama aku masih diberi kesehatan. Mungkin juga ini salahku, aku terlalu teledor, tak ada yang tahu isi dari Masitoh-ku itu untuk memberangkatkan haji kakek-nenek.
Kring … Kring … Kring … Ponselku terasa bergetar di saku. Langsung kuangkat. “Ada apa, Mad?” Achmad, tetangga sampingku di Sragen yang bekerja sebagai pengacara terkenal, menelponku dengan panik. Perasaanku bingung diselimuti ribuan tanda tanya.
“Adi, cepat pulang … Rumahmu di Sragen kebakaran. Kakekmu terkena luka bakar yang cukup parah. Nenekmu masih pingsan dan belum siuman. Cepat pulang … Hati- hati di jalan ya,” Achmad menutup panggilannya.
Tiba-tiba dadaku terasa sesak, aku lebih dari khawatir, segera kukemas bajuku sekenanya lalu langsung keluar dari rumah ayah tanpa berpamitan kepada penghuni rumah, termasuk ayah.
Tak ada hal lain yang kupikirkan selain keselamatan kakek-nenekku sendiri. Tak kubiarkan mereka terluka dan terus menghadapi sengsara di dunia ini, begitu tekadku.
Aku memanggil ojek guna mengantarkanku pada terminal secepatnya. Hujan yang menyerbu begitu hebatnya di siang hari tak kupedulikan amuknya. Setibanya di terminal, aku langsung mendapatkan bus yang siap membawaku ke Sragen. Dalam perjalanan pulang, rasa panik dan khawatir yang demikian kuat menghantuiku. Kucoba hilangkan dengan dzikir dan doa. Semoga Allah melindungi kakek-nenek.
***
Jam sepuluh malam aku sampai di kota kelahiranku. Kondisi bus yang selalu berhenti membuat kepulanganku semakin lama. Bus besar yang kutumpangi menurunkanku di tugu. Kebetulan rumah kakek-nenek tak jauh dari jalan raya, tinggal turun di tempat tadi lalu memasuki jalan kecil maka akan segera sampai.
Beberapa orang yang tersisa, memandangi lariku demikian kencang dengan menggendong tas dalam keadaan resleting terbuka. Napasku terasa habis, kemudian aku melanjutkan berjalan dengan kondisi tergesa-gesa, setelah ku sampai pada empat rumah deretan sebelum rumah kakek-nenekku.
Aku benar benar shock menatap rumah tinggal menyisakan abu. Semua habis dimakan si jago merah. Tampak pohon rambutan, jambu, dan sirsak saja yang masih utuh. Orang-orang mendekati tubuhku yang terpekur dalam tanah. “Kamu harus kuat, Adi,” terdengar samar suara di tengah orang-orang yang sedih mengerumuniku. Aku tak mendengar dan melihat apapun lagi, selain bayangan kakek-nenek yang menari nari dalam ingatanku. Sejenak tubuhku terasa ringan, kemudian beberapa lelaki seakan mengangkatku.
Aku tersadar dari bau minyak kayu putih yang menyengat. Dua sosok lelaki dan empat orang perempuan mengelilingiku. Kulihat langit-langit rumah yang beratap indah yang jelas bukan milik kakek-nenekku. Baru kusadari tubuhku terebah di kasur yang ber-spray halus.
“Kenapa ini semua bisa terjadi, Nek?? Nenek tak apa-apa kan? Lalu bagaimana keadaan kakek sekarang?” Aku terbagun dan memegangi tangan nenek. Kedua mata jingga nenek hanya berkaca. Dalam sikap yang masih labil, tak biasanya aku meneteskan air mata di hadapan nenek.
“Kakekmu baik-baik saja, Di … Kamu yang sabar ya. Kecelakan ini terjadi ketika nenekmu lupa mematikan gas saat pergi meninggalkan masakan airnya ke warung,” jelas Achmad, yang sedari tadi belum berpindah duduk di sampingku. Dan tangisku pun semakin memekak.
Aku sadar nenekku sudah tua dan mudah pelupa. Dalam kondisi yang kian renta, seperti yang telah dialami kakek-nenekku itu, seharusnya aku bisa menjaga mereka. Semustinya aku tetap di rumah, bekerja lebih keras, tanpa harus meninggalkan mereka. Aku benar-benar bodoh. Aku memang anak yang tak bisa diandalkan.
“Sudahlah, nenek bangga dengan usahamu. Memang kamu memiliki keinginan yang besar untuk memberangkatkan haji kakek dan nenek, tapi mungkin Allah belum mengizinkannya. Orang yang mudah putus asa bukanlah orang yang beriman,” tegas nenek setelah kuberanikan diri mengutarakan sejujurnya tentang upayaku memberangkatkan haji kakek-nenek, yang hampir berhasil bila saja ayah tidak mengambilnya untuk biaya kuliah Richo. Tapi mendengar penuturanku, nenek hanya tersenyum.
“Ya sudah lah… Bisa saja kan ayah dan ibumu benar-benar terdesak. Kita doakan saja mudah-mudahan kuliah adikmu lancar” Nenek melipat sajadah yang baru kubelikan kemarin. Nenek bilang, nenek senang sekali dengan pemberianku. Perlahan nenek bergerak mengambil air wudhu di kamar mandi. Demikian juga denganku. Aku dan nenek pun mengukir sujud demi sujud dalam empat rekaat jamaah. Kuciumi harum Ka’bah meski hanya dalam lukisan sajadah. Kami hanya bisa pasrah.
***
Sudah selama empat puluh hari kami tinggal di rumah Achmad, sahabatku. Achmad adalah sahabat yang baik, demikian juga para tetangga yang sudah kami anggap sebagai saudara. Selama empat puluh hari itulah, nenek tak perlu mondar-mandir memenuhi permintaan orang untuk sibuk membungkus makanan. Tapi nenek sudah menjadi pembantu tetap di rumah Achmad. Dengan upah yang cukup besar, pekerjaan nenek hanya memasak dan mencuci piring.
Dengan sedikit biaya operasional langsung dari pemerintah untuk orang miskin, serta bantuan para penduduk kampung, kami bergotong-royong membangun rumah kakek-nenek yang baru.
Sementara hal yang begitu berkesan dan tak terlupakan adalah, esok ketika aku dan beberapa tetanggaku ingin menjemput kakek sepulang rumah sakit dengan mobil, nenek bercerita bahwa semalam beliau merasa berada di tanah Haram. Tapi, ah, itu jelas mimpi. Nenek mendongeng seakan beliau sedang membagikan pengalamannya sewaktu di tanah suci. Mencukur rambut, mengenakkan pakaian putih tanpa jahitan, melakukan Thawaf, Sai di bukit Safa-Marwah, melemparkan batu, atau bermalam di Mina.
Kedua orang tua Achmad yang sudah melakukan haji selama dua kali ketika mendengarkan cerita itu, membenarkan jika apa yang dirasakannya dengan keadaan tempat yang dialami nenek sama persis dengan orang-orang yang pernah berangkat ke sana.
Tapi yang membuatku merasa mukjizat itu nyata, ketika hari selanjutnya. Nenek terebah di kasur masih mengenakkan maqramah-nya. Dari tidurnya selepas shalat isyak, nenek baru terbangun saat dhuha. Pasir serupa gurun yang melekat di kakinya tak kutanyakan dari mana asalnya. Lagi-lagi nenek bercerita jika ia terbang haji kembali dalam mimpi. Aku hanya menggeleng geleng.
Ketika kakek sudah ada di rumah pada waktu melepas perban-perbannya, aku dan Achmad terkejut. Tak ada bekas luka sedikitpun di tubuh kakek. Padahal, dokter bilang jika luka bakar kakek begitu parah dan wajahnya tak akan utuh seperti semula. Namun perkiraan dokter tak sama seratus delapan puluh derajat. Aku melihat wajah kakek seperti aku melihat wajahnya jauh sebelum aku ke luar kota, tepatnya dua tahun lalu.
Dengan perasaan tenang, nenek mendekat dari balik pintu belakang menuju kami, seraya berucap “Doa orang pergi haji selalu dikabulkan, kita tak perlu lagi meragukan kebesaran-Nya”
Sejenak, aku, kakek, dan Achmad terpaku. Lalu seulas senyum merah di bibir kami meyakinkan penjelasan nenek. Kecuali Achmad, semua yang bernapas di ruang tamu bersujud syukur meluapkan rasa haru.
Tak ada yang menandingi kekuatan doa dan harapan.

Ruang Kugapai Cahaya, 06-03-2014
10.30 WIB
Seperti yang diceritakan Ian kepada Rohid tentang indahnya kebebasan bermimpi yang kutuliskan kembali